
Dengan mata yang sembab, hidung memerah, Alina keluar dari kamarnya menghampiri Tante Rasti dan Pak Indra, wajah Alina nampak suram setelah kejadian pertemuannya dengan Erick kemarin.
''Akhirnya kamu keluar juga, Al.''
Tante Rasti memeluk Alina dan mengelus punggungnya, berharap Alina bisa sabar dalam menghadapi masalahnya.
''Tante, Om,'' ucap Alina.
Keduanya menatap Alina sendu, tak bisa membayangkan bagaimana posisi Alina saat ini, pasti di ujung kegundahan dan kesedihan karena masalah kehidupannya.
''Aku akan tinggal di kontrakan saja, dan aku akan bekerja lagi seperti dulu.''
''Apa?! Pak Indra terkejut, meletakkan majalah yang di pegangnya lalu beranjak mendekati Alina.
"Kenapa harus pindah? apa kamu kurang nyaman di sini?" tanya Pak Indra antusias.
Alina menggeleng pelan. "Aku hanya ingin mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Aku harap Om mengerti dengan keputusanku ini." ucap Alina dengan bibir yang masih gemetar.
"Tapi, Nak." kini giliran Tante Rasti yang merasa iba, wanita itu terus mendekap Alina dengan erat.
"Tante, sebelum aku bertemu Kak Erick, aku sudah terbiasa dengan susah, jadi sekarang izinkan aku untuk pergi."
Alina menangkup kedua tangannya, memohon dengan penuh atas keikhlasan Pak Indra dan tante Rasti.
Sepasang suami istri itu saling pandang, meskipun hatinya tak mengizinkan, setidaknya Pak Indra memberi kesempatan untuk Alina memilih.
"Baiklah, om izinkan kamu untuk pergi, tapi jika butuh apa apa kamu bilang sama Om."
Alina mengangguk lalu memeluk Pak Indra, karena Alina sudah menganggap pak Indra sebagai ayahnya sendiri.
"Kenapa harus pergi sih kak?" sahut Diana yang mematung di ambang pintu kamarnya.
"Ya harus, Di, aku nggak mau menjadi beban semua orang, dan aku harus berdiri sendiri, aku sudah mendapat banyak pelajaran dari pernikahan ini, dan sekarang aku tidak akan berharap lagi untuk di cintai." Jelasnya.
Diana pun hanya diam dan tak bisa bilang apa apa selain mempersilakan keinginan Alina.
Keluarga pak Indra hanya bisa merasa bersalah dengan apa yang sudah menimpa Alina, karena kehancuran Alina di sebabkan oleh keponakannya.
''Aku yang antar ya kak." Tawar Romi dari meja makan.
__ADS_1
''Nggak usah, aku berani sendiri kok, lagian ini kan masih pagi.'' cetusnya.
Alina berlalu dari rumah Pak Indra, kini ia merasa lebih tenang dan bisa kembali menatap mentari yang begitu cerah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan bantuan angkut kini Alina sudah berada di halaman kontrakannya, ada senyum kecil yang terukir saat melihat rumah minimalis di hadapannya tersebut.
Pemandangan baru lagi, dan kehidupan yang baru lagi, itulah yang diharapkan Alina saat menginjakkan kakinya di sana, berharap di rumah baru itu ia bisa melewati masa sulit yang pernah ia hadapi.
Mama, papa, aku akan berpisah dengan kak Erick, dan apapun yang terjadi nantinya, aku berharap tidak akan ada dendam lagi di antara kami.
Setelah mengatakan uneg unegnya dalam hati, Alina mengunci rumah itu. Sesampainya di dalam, Alina langsung membersihkan rumah yang terbengkalai beberapa hari, kali ini ia benar benar mantap untuk menjalani hidupnya tanpa Erick, bahkan hatinya sedikitpun tak ada ragu untuk melepas pria itu.
Di saat sibuk sibuknya menyapu, terpaksa Alina menghentikan aktivitasnya saat ponsel yang ada di sakunya itu berdering.
''Erna,'' serunya saat menatap benda pipih di tangannya. Segera Alina menggeser lencana hijau tanda menerimanya.
''Halo Er, ada apa?'' tanya Alina meletakkan sapunya dan duduk sejenak.
Halo Al, aku sudah dengar semuanya, sekarang kamu dimana? tanya Erna dari balik teleponnya.
Ya sudah, sekarang juga aku ke rumah kamu.
Setelah sambungannya terputus, Alina kembali menitihkan air mata, ingin rasanya menjerit sekeras kerasnya, namun itu tak bisa ia lakukan.
''Loh neng kok balik lagi, kirain sudah pindah rumah?'' Tiba-tiba saja suara Ibu kontrakan membuyarkan pikirannya. Alina segera menyeka air matanya dan menoleh.
''Iya, Bu, aku akan tinggal di sini lagi, masih boleh kan, Bu?''
Alina menghampiri dan mempersilakan masuk, rupanya ia memang lupa untuk menutup pintunya.
''Boleh dong, kan sudah di bayar sampai sepuluh bulan, dan ini baru masuk bulan yang kedua.''
''Semoga betah ya.''
Alina hanya menganggukkan kepalanya.
''Iya Bu, pasti betah. rumahnya nyaman kok.''
__ADS_1
''Ya sudah, kalau begitu Ibu pulang dulu, tadinya Ibu hanya penasaran kok pintunya terbuka.''
''Maaf ya bu, nggak bilang dulu kalau mau pulang kesini.''
''Nggak apa apa santuuyyyy.'' Bisa bisanya wanita berdaster itu melawak. Hingga membuat Alina tertawa lepas.
Setelah Ibu kontrakan hengkang dari tempatnya, Alina kembali tersenyum saat mendapati sahabatnya sudah memarkirkan motornya di halaman rumahnya.
''Alina...'' baru saja membuka helm, Erna sudah berteriak memanggilnya.
Dengan semangat 75 Erna berlari berhamburan memeluk Alina yang sudah menyongsong kedatangannya di depan pintu.
''Kamu nggak kerja?'' tanya Alina saat keduanya masuk ke dalam rumah.
''Enggak, tadi aku sudah izin sih, kata pak Anton nggak apa apa, asal jangan sampai tiga hari.'' mengangkat ketiga jarinya di depan Alina.
Ckckck Alina berdecak.
''Aku tau kenapa sekarang pak Anton itu baik sama kamu.'' Cetus Alina.
''Kan kamu pacarnya bang Putra, sedangkan bang Putra sahabatnya pak Anton, nggak kungkinlah tega sama kamu,'' Imbuhnya.
Erna hanya tersenyum kecil, karena apa yang di ucapkan Alina persis seperti yang di ucapkan pak Anton sebelum ia datang ke rumah Alina.
''Al,'' Erna meraih tangan Alina.
''Aku minta maaf atas nama Om Bima, karena dia hubungan kamu dan Pak Erick jadi hancur.''
Meskipun hanya sebagai pacar Putra, nyatanya Erna pun merasa tak enak dengan kejadian itu.
Tak seperti tadi yang terus menitihkan air mata, kini Alina sudah semakin tegar untuk menghadapi semuanya.
''Pak Bima memang dalang dari semua ini, tapi tetap, Kak Erick yang bersalah, karena dia itu tidak punya pedoman, dia hanya memikirkan apa yang di dengarnya saja tanpa ingin tau kebenarannya, jadi kamu nggak perlu minta maaf, dan bilang ke Bang Putra, aku sudah memaafkan semuanya termasuk kak Erick, tapi untuk kembali sama dia, aku tidak bisa.''
Erna hanya bisa meresapi setiap inci kata dari Alina, karena untuk masalah ini ia tak bisa membantu apa apa, dan hanya dukungan yang bisa ia berikan.
''Ya sudah, apapun keputusan kamu, aku siap membantu, sekarang let's go, kita bersihkan lagi!"
Erna meraih sapu dan kemoceng yang ada di samping meja, tak menunggu Alina yang masih duduk, gadis itu membersihkan ruangan yang masih berdebu.
__ADS_1
Di saat seperti ini aku beruntung punya sahabat yang baik seperti Erna, semoga bang Putra mencintainya dengan tulus.