
''Selamat pagi.... '' Sapaan lembut dari bibir Alina untuk Erick, wanita itu tersenyum lebar di saat Erick membuka matanya dengan perlahan. Tak hanya itu, bahkan Alina masih berada dalam pelukan Erick. Bermanja manja bagaikan pasangan yang saling jatuh cinta.
''Jam berapa sekarang?'' Tanya Erick dengan nada datar lalu mengambil ponselnya yang ada di nakas tanpa menarik tangannya yang masih setia menjadi bantal Alina.
''Baru jam enam, temani aku sebentar saja, pasti seharian ini kakak akan kerja, dan kita tidak bisa bertemu sampai nanti sore,'' memainkan dada bidang suaminya yang terekspos.
Huh.... Erick menghela napas panjang lalu mengecup pucuk kepala Alina.
''Kakak mau sarapan apa?'' tanya Alina menyibak selimutnya dan turun dari ranjang.
''Terserah kamu saja.'' jawabnya, masih tak berkutik, dan kini matanya menatap punggung Alina yang melangkah menuju kamar mandi.
Setelah punggung Alina menghilang bersama pintu yang tertutup rapat, Erick kembali meletakkan benda pipihnya dan mengacak rambutnya. Pikirannya kacau dan tak bisa berpikir jernih.
''Apa yang dia lakukan, bahkan dia dengan rela menyerahkan tubuhnya untuk aku, dan sikapnya, Ya Tuhan, harus dengan cara apalagi supaya dia tersakiti.'' Erick merasa kesal dan masih tak percaya, bahwa dia akan di sambut dengan ramah oleh Alina.
Tiga puluh menit, Alina keluar dari kamar mandi dan kembali mendekatinya.
''Kakak kenapa?'' Alina duduk di samping Erick yang masih selonjoran.
Pria itu hanya menggeleng manatap wajah Alina yang nampak ceria.
''Sekarang kakak mandi, aku akan siapkan makanan.''
"Tunggu!" ucapnya menarik tangan Alina hingga wanita itu jatuh di atas pangkuannya.
Dalam sekejap aku bisa membuat kakak jatuh ke dalam perangkapku.
"Ada apa, apa kakak mau lagi seperti semalam?" mengelus pipi Erick, menampakkan wajah ayunya. merayu Erick yang memang minim iman.
Ah, inilah godaan setiap kaum pria, harta, tahta dan wanita, dan itu tak bisa dihindari oleh Erick, apa lagi di tolak.
Tanpa aba aba pria itu menyambar bibir ranum Alina dengan lembut dan lama. Bahkan Erick seperti terbuai dengan ciuman itu dan terus memperdalam pangutannya.
Setelah beberapa menit Erick melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Alina hingga jatuh tersungkur.
Terkejut, itulah Alina yang seketika mengepalkan tangannya, namun Alina tak boleh melupakan rencananya yang sudah hampir finish.
__ADS_1
"Apa kamu mau menggodaku, jangan harap kamu bisa merayuku. Sekarang lebih baik kamu pergi sebelum kesabaranku habis.'' Sorot matanya kembali tajam, namun Alina sudah tak merasa heran dan tetap dengan pendiriannya.
Bukan Alina yang dulu yang selalu menuruti keinginan Erick, gadis itu malah beranjak dan kembali mendekati Erick.
"Aku tidak ingin menggodamu, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai seorang istri, kakak jangan salah dengan niat baikku." Mencoba meyakinkan Erick, tak pantang menyerah dan terus berusaha untuk tetap dekat dengan suaminya.
Erick makin bingung, dan tak mengerti dengan dirinya yang semakin gundah, di satu sisi ia masih ingin meneruskan misinya, dan di sisi lain, sikap Alina membuatnya runtuh dan ingin gugur tergeletak di lantai.
"Ayolah, kak, jangan siksa diri kamu sendiri, jangan ikuti ambisi kamu, aku yakin kita bisa melewati semua ini, dan jangan pernah sembunyikan apapun dariku, heem...?''
''Aku mau ke kamar mandi,'' ucap Erick mengalihkan pembicaraan dan berlalu.
Sedangkan Alina malah tersenyum saat melihat rasa resah di wajah suaminya.
Aku tau kamu pasti bingung untuk memilih, tapi hati aku terlanjur sakit dengan kelakuan kamu.
Tak menunggu Erick, Alina segera keluar dari kamarnya.
Namun kali ini Alina tak jadi membuatkan makanan untuk Erick karena sarapan pagi sudah siap di meja makan.
''Non, mau sarapan dulu, atau nunggu pak Erick?'' tanya Bi Minah yang tak lain pengganti Bi Irah.
Meninggalkan Bi Minah yang tersenyum renyah.
Terpaksa Alina kembali ke kamarnya, dari pada harus dibawah sendirian.
''Kakak sudah siap?'' cetus Alina menghampiri Erick yang ada di depan meja rias, tanpa rasa takut dan ragu Alina membenarkan dasi Erick yang sedikit melenceng.
Erick menurunkan tangannya dan menerima apa yang di lakukan Alina.
''Mulai hari ini Aku yang akan memasangkan dasi untuk kakak, dan menyiapkan baju untuk kakak kerja.'' Ujarnya lagi.
''Sekarang kita sarapan yuk!" menggandeng tangan Erick.
Entah, pria itu kini hanya bisa diam membisu mengikuti langkah Alina, meskipun otaknya masih terombang ambing dengan dua pilihan yang sulit, namun Erick menikmati saat ini dan melupakan sejenak masalahnya.
Seperti pasangan pada umumnya, setelah keduanya duduk diruang makan, Alina menyiapkan makanan untuk suaminya.
__ADS_1
"Kakak kenapa?" tanya Alina saat mata Erick terus tertuju padanya.
Erick menggeleng tanpa suara meraih piring yang di sodorkan Alina.
Suasana begitu hening, hanya ada suara dentuman sendok dan piring, Alina menikmati makan paginya, begitu juga dengan Erick, meskipun pria itu sesekali melirik ke arah Alina, namun sang empu benar benar tak menyadari dan masih dengan lahapnya menghabiskan makanannya.
''Kamu itu nggak pernah berubah, selalu saja ceroboh.'' Mengambil tisu dan mengelap bibir Alina yang terdapat sisa makanan.
''Bukan nggak pernah berubah, aku hanya ingin kakak perhatian lagi sama aku seperti dulu, aku ingin melewati hidup ini bersama kakak sampai nanti, dan aku ingin kakak tetap menjadi pelindungku seperti waktu kecil.'' Pinta Alina.
''Itu artinya kamu sengaja?''
''He'emmm... ''
Dengan spontan Erick beranjak dan memeluk tubuh mungil Alina, tak tau harus bagaimana, melawan hatinya yang rindu, ataukah memenangkan rasa benci yang menggebu, yang pastinya Erick saat ini sudah tak tahan jika harus mengabaikan wanita itu.
''Maafkan aku,'' tiba tiba suara lirih itu meluncur dari bibir Erick dengan lugasnya.
Alina melingkarkan tangannya, membalas pelukan Erick dan membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Maaf kak sudah terlambat dan aku tidak bisa membuka hatiku lagi.
''Kakak nggak punya salah, untuk apa minta maaf, dan mulai sekarang belajarlah untuk mencintaiku seperti dulu." Nyatanya hati dan mulut Alina pun berbeda dan tak sejalan.
Erick mengangguk tanpa suara, karena itulah yang sebenarnya mengendap dalam hatinya selama ini.
''Lebih baik kakak habiskan makanannya dulu,'' menyungutkan kepalanya ke arah makanan Erick yang masih separo.
Erick tersenyum dan kembali duduk.
Permainan segera di mulai, sekarang aku akan membuatmu tertawa bahagia, tapi akan ada tangis dan penyesalan yang tiada akhir untuk kamu.
''Mulai hari ini aku yang ngantar kamu kerja.'' Ucap Erick tanpa menatap Alina.
''Terima kasih,'' Ucapnya, mencium pipi Erick.
''Aku ambil tas di kamar dulu.''
__ADS_1
Aku harus yakin, kalau mama sudah ikhlas dengan pilihanku untuk memilih Alina dari pada dendam itu.