
Selepas masalah yang membelit keluarganya, Putra memang belum berani melangkah jauh, meskipun Erna sudah mengharapkan yang lebih, faktanya Putra masih nampak santai, entah sampai kapan harus menanti keputusan itu, yang pastinya kini keduanya jarang bertemu, dan Putra pun jarang datang ke restoran Anton.
Diam seribu bahasa, memasang wajah yang galau, karena semua perjalanan cintanya tak sesuai ekspektasinya, aduh, ini bukan Erna yang selalu membela Alina, namun sekarang ia lah yang butuh sandaran sampai terpaksa berani menghubungi Alina yang ada di kantor Erick.
''Mana sahabat kamu?'' Erick dan Alina memasuki restoran dimana Erna bekerja, ekspresi datar namun dalam hati tetap ikhlas menamani istrinya bertemu sang sahabat yang berani mengganggu kebersamaannya. Bahkan menunda untuk datang kerumah Pak Indra.
''Mungkin di dapur kak, kakak disini saja biar aku yang cari.'' Matanya tak berhenti dari setiap sudut ruangan.
Karena Erick lagi berbaik hati, dia mau mengurus masalah yang menurutnya memang tak penting.
Hampir sepuluh menit Erick terus menilik jam yang melingkar di tangannya, ingin berteriak memanggil Istrinya, namun diurungkanya demi Image sang pemilik perusahaan yang paling terpandang.
Akhirnya yang ditunggu datang juga, wanita yang kini bersemayam didalam hatinya itu nampak tersenyum lebar dengan satu tangan merangkul sahabatnya.
''Kok kamu ajak suami kamu sih?'' Erna berbisik, ada mimik takut di wajahnya saat Alina menggandengnya menghampiri Erick.
''Bukan aku yang ajak, tapi dia yang ikut.''
Kejadian dikantor membuat hati Alina deg deg ser, bagaimana tidak, ancaman Erick selalu ekstrim. dan itu cukup kuat supaya Alina tetap patuh dan tunduk.
"Ayo!" Meraih tangan Erna saat gadis itu berhenti melangkah, padahal tinggal beberapa centi lagi sudah tiba di tempat duduk yang di pesan Erick.
"Mendingan kakak pergi, takutnya Erna nggak berani bicara."
Dengan bodohnya ucapan itu meluncur.
Cih, beraninya menyuruhku.
"Nggak." Erick meneguk jus yang baru saja tiba, sedikitpun pria itu tak bergeming dari duduknya. Terpaksa Alina dan Erna mengalah dari pada Erick kembali melarangnya untuk bertemu Erna.
Kalau gini kan aku jadi nggak enak, gimana memulainya.
Erna menggaruk kepalanya seraya melirik Erick yang sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Sekarang kamu cerita, apa yang membuat kamu gelisah seperti ini?"
Alina menggenggam tangan Erna, mencoba menguatkan gadis itu untuk tetap tegar, meskipun keduanya tak se leluasa seperti dulu, namun Alina tetap menjunjung tinggi arti sebuah persahabatan.
Masih mode diam, karena keduanya menatap Erick yang sibuk dengan pandangannya ke arah lain.
Ya Tuhan mudah mudahan pak Erick tuli dan tidak mendengarkan ucapanku.
Bisa bisanya Erna berdoa jelek untuk pria di hadapannya.
"Sudah seminggu bang Putra nggak ada kabar. Bahkan dia mematikan ponselnya. Aku khawatir Al, tapi aku nggak bisa berbuat apa apa."
__ADS_1
Putra, memangnya dia kemana.
Erna menunduk, entah kenapa saat membahas nama Putra gadis itu selalu saja ingin menitihkan air mata.
''Kalau begitu, kak Erick mungkin bisa bantu.''
Erick mengerutkan alisnya, sebenarnya pria itu tak ingin terlibat urusan dengan keluarga Pak Bima, namun karena sebuah janji yang terus di ucapkan dalam hati terpaksa Erick menuruti keinginan Alina.
''Sigit, kamu bawa Putra ke restoran Anton!"
Hanya pesan suara yang meluncur, namun tak begitu lama nyatanya yang di sebrang sana sudah melajukan mobilnya menjalankan perintah dari Erick.
Tiga puluh menit berlalu, kini Sigit dan Putra sudah ada di sana, dan siap bergelut dengan Erick, belum ada yang memulai bicara, akhirnya Alina yang pertama kali membuka suara.
''Bang, kalau abang memang serius dengan Erna, kenapa harus menggantung kayak gini sih, Erna juga butuh kepastian dari abang.''
Tanpa basa basi Alina langsung bicara ke inti.
Putra hanya diam, menatap Erick yang ada di samping Alina.
Pria itu masih nampak cuwek dan sibuk dengan gadget di tangannya.
''Kak,'' Dengan suara berat Putra memanggil sepupunya.
Erick mendongak tanpa suara. Memasukkan ponselnya ke saku jasnya.
Erick menarik kursi tempat duduk Alina hingga keduanya tak ada jarak.
''Dengar sayang, terus kamu maunya aku berbuat apa?'' tanyanya berbisik.
''Persatukan mereka.'' menatap Putra dan Erna bergantian.
Dari raut wajah Putra nampak ada ketakutan dan keraguan yang menyelimuti.
Apakah cinta bisa melakukan segalanya.
Erick menggaruk alisnya yang tidak gatal. Bingung dengan dirinya yang selalu tak tega untuk mengabaikan permintaan Alina.
''Sekarang kamu bicara bagaimana perasaan kamu sama ***?''
***.
''Erna.'' jelas Sigit dan Alina bersamaan.
''Iya siapapun itu yang penting nggak salah orang kan?'' Bantahnya.
__ADS_1
Orangnya memang nggak salah, tapi namanya yang salah.
Alina menepuk jidatnya, lagi lagi harus terima apa yang diinginkan Erick.
''Bolehlah bolehlah.'' Sigit terkekeh, di saat sutuasi lagi serius Alina malah membuat lawakan.
''Aku mencintainya.''
Nyesss.... Akhirnya Erna merasa lega, tubuhnya terasa sejuk setelah mendengar ungkapan Putra.
''Lalu kenapa kamu tidak memperjelas hubungan kamu dan dia?''
Menyungutkan kepalanya kearah Erna.
Sigit dan Alina hanya menjadi penonton, tak ingin menilai dan menegur, karena tak mau mengganggu Erick yang persis jaksa.
''Apa semua ini karena Paman?'' Imbuhnya lagi.
Putra mengangguk mengingat ucapan Pak Bima setelah pulang dari luar negeri, sebagai seorang anak Putra pun mengikuti papanya dari pada harus membangkang, namun setelah Erick mendukungnya, kini Putra kembali krentek untuk menolak keinginan papanya.
''Apa kakak bisa bantu aku?''
Erick langsung mengangguk tanpa banyak menunggu.
''Aku akan tanggung jawab, jika Erna adalah wanita yang kamu cintai, kamu lamar dia, dan nikahi dia, dan aku yang akan menyiapkan semuanya.''
Inilah titik cengeng Alina, dimana saat ia melihat kebaikan suaminya di depannya. Tak mau ditertawakan karena menangis tanpa alasan, Alina menutup wajahnya dengan tas yang dari tadi di tentengnya.
Sekarang aku sudah tidak bisa bilang apa apa, selain mencintamu, dan aku akan serahkan hidup aku untuk kamu.
''Kamu nangis?''
Tanpa sengaja Erick meraih tas yang masih menutup wajah Alina, bukan apa apa, Pria itu hanya penasaran dengan istrinya yang nampak tertutup.
Alina menggeleng cepat, meskipun sisa buliran bening masih membasahi pipinya, ia sangat malu untuk mengakuinya di depan yang lain.
''Kamu kenapa?'' Tanya Erick.
Meraih kepala Alina dan menyandarkan dipundaknya mengambil tisu dan mengusap pipinya.
Alina masih diam, otaknya berputar mencari alasan yang tepat.
''Iya, kamu kenapa Al?'' kini giliran Erna, sedangkan Putra dan Sigit hanya bertanya dalam hati, kini kedua pria itu tak berani untuk kepo dengan urusan Alina saat berada di samping Erick.
''Tadi aku kelilipan saja, jadi kakak nggak perlu khawatir.'' Ucapnya pelan.
__ADS_1
Kelilipan apa, masa iya didalam restoran ada debu, pasti dia bohong. rapi kenapa dia nangis, apa ada sesuatu yang diinginkannya lagi?