Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Kedatangan Erick


__ADS_3

''Kok Erna aneh gitu ya, Bang?'' tanya Alina saat keduanya selesai membereskan rumah yang kini akan menjadi pelindung Alina.


''Aneh gimana? mungkin perasaan kamu saja,'' timpal Putra meletakkan vas bunga kembali di meja setelah di bersihkan.


Kini Alina beralih menyiapkan makanan untuk keduanya.


''Dia kayak orang cemburu.''


''Sudah, mungkin karena dia masih sakit dan nggak mau bercanda.'' Jawab Putra, masih tak sadar dan tak ingat dengan sebuah janji yang pernah ia lontarkan waktu itu.


''Bang, sudah malam, setelah makan kamu pulang ya,'' sedikit mengusir, takut dengan kehadiran Putra yang bukan muhrimnya.


Putra menghampiri Alina yang masih menata makanan yang tadi di belinya.


''Al, apa kamu yakin ingin berpisah dari kak Erick?'' tanya Putra memastikan dengan apa yang pernah di dengarnya dari mulut Alina.


Alina menghela napas panjang menarik kursi lalu duduk.


''Aku belum tau, tapi untuk saat ini aku ingin menjauh darinya.''


Putra ikut duduk di samping Alina. ''Makan yuk, aku sudah lapar.''


Al, aku siap untuk menjadi pelabuhan hatimu selanjutnya, seandainya kamu dan kak Erick bercerai, apakah kamu mau menikah denganku.


Nyatanya Putra hanya bisa bicara dalam hati, karena untuk saat ini belum waktunya menjelaskan tentang perasaannya yang terpendam selama ini.


Seperti pinta Alina, Putra bersiap untuk pulang setelah keduanya selesai makan.


''Apa aku nggak boleh nginep sini?'' Goda Putra.


''Bang,'' rengek Alina mendorong tubuh kekar Putra keluar.


Akhirnya Putra tertawa lepas melihat ketakutan Alina.


"Iya iya aku pulang, aku nggak mungkin tidur di rumah istri orang." mengacak rambut Alina hingga berantakan.


''Bang Putra hati hati!" ucap Alina mengantarkan Putra sampai ke teras.


"Kamu juga, ingat, jangan buka pintu kalau kamu nggak kenal, besok aku akan bantu kamu untuk mencari pekerjaan."


Alina mengangguk lalu masuk dan mengunci pintu rumahnya sebelum Putra berlalu.


Baru saja Alina merebahkan tubuhnya, gadis itu kembali terperanjat dari kasurnya saat mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.


''Kenapa bang Putra balik lagi, apa ada yang ketinggalan?'' segera Alina menyibak selimut yang baru saja di pakainya, dengan perasaan yang sedikit was was Alina kembali keluar dari kamarnya.


Karena sedikit takut wanita itu membuka pelan tirai yang menutup jendelanya.

__ADS_1


''Kayaknya bukan mobil bang Putra,'' terka-nya.


Alina terus mengintip dari balik jendela, hatinya makin deg degan dan penasaran dengan sosok yang ada di dalam mobil tersebut.


Tuhan, semoga saja itu bukan penculik.


Alina berlari ke arah gudang dan mengambil sapu lalu kembali mengendap di samping pintu berjaga dengan sesuatu yang mungkin terjadi.


Tok.... tok... tok.... suara ketukan pintu itu terdengar di telinganya, Alina memegang erat sapu di tangannya, keringatnya tiba tiba saja bercucuran membasahi bajunya, antara takut mendominasi dengan gugup akan tamu yang datang malam malam.


Alina kembali membuka gordennya sedikit dan menajamkan pandangannya.


Tertangkap oleh matanya siluent yang mematung di depan pintu.


''Kak Erick,'' cicitnya. Alina bernapas dengan lega, setidaknya bukan orang yang di takuti yang datang. Segera ia meletakkan sapunya dan membuka pintu.


''Kakak, ngapain malam malam ke sini?'' Tanya Alina antusias.


''Apa kamu tidak ingin menyuruhku masuk?'' ucapnya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah yang di tempati Alina.


''Tapi ini sudah malam, kak, nggak enak sama tetangga.''


''Kita kan suami istri, kenapa harus nggak enak,'' sergah Erick lagi.


Bisa bisanya aku lupa kalau dia suamiku.


''Baiklah, silahkan.'' terpaksa Alina mengalah dari pada harus berdebat dengan hal yang tak berguna.


''Kita pulang, aku ingin memulainya lagi dari awal, maafkan aku,'' ucap Erick.


Alina kembali mundur dan menatap mata Erick yang nampak serius.


''Aku belum siap, pernikahan bukan sesuatu yang main main, kakak pikirkan dulu sebelum mengambil keputusan,'' melepaskan tangan Erick dari tangannya.


Alina kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur, seperti yang di ucapkan, gadis itu meracik kopi untuk Erick.


Kesukaannya manis atau pahit ya, batin Alina.


Takut salah dan tak di minum, Alina kembali mendekati Erick untuk menanyakan seleranya.


''Kakak suka kopi yang pahit atau manis?'' tanya Alina pelan.


Erick yang tadinya menunduk kini beralih mendongak dan mengerutkan alisnya.


''Manis,'' jawabnya asal, padahal selama ini Erick tak pernah minum kopi, karena takut tak bisa tidur.


''Baiklah, aku akan kasih gula yang banyak.''

__ADS_1


Nggak apa apa, mungkin di suasana yang dingin kopi lebih nikmat.


Masih membayangkan bagaimana rasa minuman yang sudah bertahun tahun di hindarinya.


''Silahkan di minum,'' ucap Alina menyodorkan secangkir kopi di depan Erick.


Meskipun hatinya sedikit ragu, namun Erick tetap menyeruput kopi di hadapannya.


Erick kembali mencecap kopi yang teramat manis itu.


''Kenapa, kurang manis?'' tanya Alina.


Erick menggeleng. ''Kamu yakin akan tinggal di sini dan nggak mau pulang ke rumah?'' tanya Erick lagi memastikan jawaban dari Alina.


''Aku akan tinggal di sini sampai keputusan yang kita ambil itu tepat, dan aku harap tidak ada penyesalan nantinya.''


''Kalau gitu aku juga akan tinggal di sini.''


"Apa?!" pekik Alina dengan kerasnya, sampai Erick mengernyit, seakan gendang telinganya itu meletus karena suara lantang istrinya.


"Iya, aku akan tinggal disini sampai kamu mau pulang." Jelas Erick lagi.


"Nggak bisa kak, lebih baik sekarang kakak pulang," demi misinya berhasil, Alina meninggalkan Erick dan masuk ke kamarnya.


Namun tidak bagi Erick untuk putus asa dengan apa yang di inginkan, pria itu ikut masuk ke kamar Alina yang terbilang sangat kecil.


"Kenapa kakak masuk sini, mendingan pulang sana!" Ucap Alina menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Akibat lupa mengunci pintu Erick jadi bisa masuk.


Tak menjawab, Erick ikut merangkak naik di atas ranjang dan melingkarkan tangannya di perut Alina.


"Diam, atau aku akan berbuat lebih,'' ancam Erick makin meringsuk tubuhnya, bahkan Erick tak memberi ruang Alina untuk bergerak.


''Tapi,_ Ucapan Alina terpotong saat Erick mendaratkan bibirnya tepat di pipinya, bahkan Erick seperti menghentikan waktu untuk terus merengkuh tubuh istrinya.


Terlena, terbuai dalam suasana yang sepi dan dingin Alina hanya bisa diam menerima ciuman itu.


''Kak,'' cicit Alina lagi.


''Maafkan aku,'' tiba tiba saja Erick menitihkan air mata, entah apa yang di pikirkan pria itu seperti menggenggam sebuah penyesalan dalam hidupnya.


''Kakak nangis?'' Tanya Alina menyeka air mata Erick yang membasahi pipi.


''Nggak, tadi kena rambut kamu,'' kilahnya menggenggam tangan Alina dan menciumnya.


Erick kembali mendekatkan wajahnya di wajah Alina hingga keduanya saling merasakan hembusan napas lawan.


''Kak, aku belum siap,'' tiba tiba saja suara Alina membuyarkan niat Erick yang ingin menuntut lebih.

__ADS_1


''Nggak apa apa, kita tidur.'' Mencium kening Alina lalu meletakkan kepalanya di lengannya sebagai bantal.


Setiap orang punya salah, begitu juga dengan kamu, aku nggak bisa lama lama marah sama kamu karena cintaku lebih besar dari pada rasa benciku, tapi aku benar benar ingin tau sebesar apa cinta kamu.


__ADS_2