Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Tidur di gudang


__ADS_3

''Kamu tadi bicara apa sama Diana?'' Tanya Erick sebelum melajukan mobilnya.


Alina diam dan masih menatap ke depan, sedikitpun tak ingin menoleh ke arah suaminya yang sudah terlihat jengkel.


Tak ada jawaban, Erick menancap gasnya dengan tiba tiba, Alina yang belum memasang seal belt nya seketika terbentur ke depan dengan kerasnya.


Gadis itu mengelus jidatnya yang kini memerah.


Kali ini Alina tak bisa tinggal diam dengan perlakuan suaminya.


''Mau sampai kapan kakak menyiksaku seperti ini, kesabaran ada batasnya, dan aku hanya manusia biasa yang tak sanggup jika harus terus menerus seperti ini, lebih baik aku pergi.''


Alina mencoba membuka pintu mobilnya, namun nihil, itu semua percuma karena Erick sudah menguncinya.


''Buka!" pinta Alina membentak.


Erick menyunggingkan bibirnya dan tersenyum sinis menepikan mobilnya di tepi jalan.


"Kakak mau apa?" Tanya Alina mengedarkan pandangannya keluar jendela yang sangat gelap.


Tak mengeluarkan suara Erick menarik ceruk leher Alina dan mencium bibirnya.


Bahkan dengan brutalnya Erick terus mencium bibir Alina dengan paksa.


Alina yang tak bisa apa apa hanya bisa memukul dada Erick, air matanya terus berlinang membasahi pipinya, menyesal, itulah yang ingin di katakan Alina saat ini, melihat aksi suaminya yang begitu kejam padanya.


Kakak tega mengambil ciuman pertamaku dengan sadis, aku kira menikah denganmu akan mengubah hidupku lebih baik, tapi apa, kamu membuatku menderita.


Setelah puas dengan ciumannnya, Erick melepaskannya dan menghirup udara dalam dalam.


Seketika Alina menampar pipi Erick dengan sekuat tenaganya.


"Apa kakak puas sudah menghancurkan hidup aku, Kalau belum, sentuh aku sekalian dan buang aku ke jalanan," Alina yang sudah pasrah dan hilang akal mencoba membuka kancing bajunya bagian atas memberi ruang Erick untuk menjamahnya.


Heh.... namun bukan Erick namanya jika tak membuat Alina kembali sakit hati.


"Kamu pikir aku sudi menyentuhmu, jangan harap kamu bisa memilikiku, karena sampai kapanpun, kita tidak akan bersama," tegasnya dan kembali membelah jalanan.


Bahkan dalam perjalanan pun Erick tak menghiraukan Alina yang masih sesenggukan dan merengkuh tubuhnya sendiri dengan erat.


Kenapa semuanya jadi seperti ini, kenapa begitu bodohnya aku percaya akan cinta masa kecil, nyatanya itu hanya membuatku menderita, Tuhan, jika aku harus mati sekarang aku siap, jangan siksa aku lebih lama lagi.

__ADS_1


Tiga puluh menit, kini Erick mendaratkan mobilnya di halaman rumahnya.


Setelah turun Erick memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Alina, dengan kasar pria itu menarik lengan Alina.


"Karena kesalahan kamu yang sudah berani menamparku, malam ini kamu akan tidur di gudang." ucapnya sebelum menyeret Alina masuk.


"Kak, aku mohon, kakak bisa hukum aku sepuasnya, tapi jangan suruh aku tidur di gudang." pintanya dengan melas, Alina terus mengikuti langkah suaminya yang seperti tak mendengar ucapannya, bahkan dengan santainya Erick mengambil kunci gudang dan membuka pintunya.


"Ini tempat yang cocok untuk kamu, selamat tidur istriku tercinta." mendorong tubuh Alina dan mengunci pintunya.


Alina yang tersungkur di atas tumpukan kardus itu kembali bangkit dan menggedor gedor pintunya.


"Kakak buka!" teriak Alina sekencang kencangnya.


"Kakak...buka pintunya, aku mohon maafkan aku," Suara Alina mulai melemah dan merosot dengan tangan memegang handle, pertahanannya benar benar runtuh saat tak ada tanda tanda orang yang akan menolongnya.


Baru saja menata karpet, Alina kembali menjerit saat tiba tiba saja ada kecoa yang melintas di depannya, gadis itu kaget dan memilih menutup matanya untuk beberapa menit.


Kamu nggak boleh takut Alina, itu hanya kecoa, nanti kalau aku nggak ada di samping kamu gimana, lihatlah, dia itu lebih kecil dari pada kamu, jika kamu melihat kecoa, usir saja.


Ucapan Erick kecil terngiang ngiang di telinganya, bahkan jelas Alina seperti mendengar suara itu, dengan mengumpulkan semua keberaniannya Alina menggeser jari jarinya dan menatap kecoa yang masih ada di depannya.


''Aku nggak boleh takut, benar apa kata kakak, aku harus melawan apapun, karena mulai saat ini dan kedepannya, mungkin kakak tidak akan berada di sampingku lagi, dan Kakak tidak melindungiku lagi,'' gumamnya.


Alina bernapas dengan lega, dan kembali merapikan alas untuk tidur.


Jika malam ini adalah malam yang penuh dengan air mata, tidak bagi Diana yang sudah membaca surat dari Alina yang ada di nakas.


Di, sekali lagi aku minta maaf karena merepotkanmu, aku sudah minta tolong ke pak Sigit untuk membebaskanku, dan semoga dia bisa menolongku dengan segera, jangan ceritakan ini semua pada orang lain, aku takut kalau kak Erick akan lebih marah lagi.


''Pak Sigit, siapa dia?'' tanda tanya dalam hati Diana, gadis itu membuang surat dari Alina dan memilih keluar dari kamarnya menghampiri Pak Indra yang masih betah di ruang kerja nya.


''Diana, kamu belum tidur?'' tanya Pak Indra heran.


Diana mendekati papanya dan merangkul pundaknya.


''Kayaknya ada sesuatu yang tersembunyi nih,'' celetuk pak Indra, karena tak biasanya Diana bersikap manja padanya.


''Papa tau nggak siapa pak Sigit?''


Pak Indra menghentikan aktivitasnya dan melepas kaca matanya menyapa Diana dengan mengerutkan alisnya.

__ADS_1


''Tau, memangnya kenapa?'' tanya Pak Indra lagi.


''Pingin tau saja,'' jawabnya pura pura lebay.


''Dia itu skeretarisnya Erick,'' jawabnya.


"Apa?" Diana terkejut mendengar ucapan papanya.


Jadi dia sekretarisnya kak Erick yang terkenal cuek bebek itu, tapi aku harus tetap kerja sama dengannya, kasihan kak Alina.


''Pa, boleh nggak aku minta nomor ponselnya pak Sigit?" ucap Diana menengadahkan tangannya.


Kebetulan sekali, biarkan mereka berkenalan dengan sendirinya, dan aku yakin Diana pasti suka sama dia.


"Nih," Pak Indra menyodorkan kartu nama Sigit di tangan Diana.


Setelah mendapatkan informasi yang lengkap gadis itu kembali ke kamarnya.


Dengan sigap Diana mengambil ponselnya dan menghubungi nomor yang tertera.


"Kok nggak di angkat angkat sih," nada jengkel.


"Apa mungkin Pak Sigit tidur ya, Diana menilik jam, ternyata sudah menunjukkan sepuluh malam.


''Sekali lagi deh, siapa tau diangkat.''


Akhirnya Diana kembali melakukan panggilan.


Halo selamat malam...


Suara berat menyapa dari sebrang sana, Diana seakan terhipnotis dan mulutnya terkunci hanya mendengar sapaan tersebut.


Halo... ini siapa ya, kalau mau ganggu, anda salah sambung.


Baru saja Diana mangap ingin menjawab, telepon sudah terputus membuatnya mendengus.


''Dasar nggak sabaran, laki laki macam apa itu, aku doakan nggak ada cewek yang mau sama kamu,'' maki Diana di depan layar ponselnya.


''Ini laki kira kira wajahnya gimana ya, kenapa gambar profilnya hello kitty, kayak cewek saja.''


Setelah marah marah Diana berbalik cekikikan.

__ADS_1


Sekretaris ala hello kitty.


Pesan yang dikirim Diana untuk Sigit lewat chat.


__ADS_2