
Bagi Alina Keenan Raftar (18) setiap hari adalah hari libur baginya, karena pasca lulus dari SMA, ia memutuskan untuk menunda kuliahnya hingga tahun depan.
Karena ia merasa lelah dengan kegiatan yang menyangkut dengan yang berbau kertas, tinta dan berhitung.
Alina's pov
"Kamu beneran gak ada rencana pengen kuliah sayang?" tanya mama pada ku aku menyapu pandanganku dan disambut dengan ekspresi ingin tahu dari anggota keluargaku yang tengah makan malam bersama, aku meletakkan sendokku di atas meja makan.
"Alina kuliah di Jerman boleh gak?"
"Ya elah bocah, lo serius mau kuliah ke Jerman? sekolah kemaren aja sering cabut, untung lulus." ledek abang Jaehyun.
Aku langsung menjulurkan lidahku kearahnya.
"Ma, abang loh rese"
"Oke deh, adek boleh kuliah di Jerman." kata papa menyela.
YASSS! kalo di bolehin kayak begini bakal ketemu banyak cogan.
Sedari awal niatanku sudah tidak menunjukkan untuk benar - benar ingin belajar di Jerman, melainkan mungkin malah ingin ajang pencarian jodoh disana.
"Beneran nih pa?" tanyaku, papa mengangguk.
"Tapi ada syaratnya." ujar papa.
Tepatnya aku sudah menduga kalau papa tidak akan semudah itu melepasku untuk kuliah di luar negeri sendirian.
" Apapun syaratnya Alina terima dan bakal Alina lakukan yang terbaik pa, demi ke Jerman, hehe"
"Kamu harus nikah sama rekan kerja papa."
"Apa? No!" pekikku, jujur saja aku sangat terkejut dengan syarat yang diajukan papa.
__ADS_1
"Ngomongnya ish!" tidak tahu dari mana asalnya tapi sendok itu sudah melayang kearahku dan menampol ke mulutku, dasar bang Jaehyun rese ah!
"Eh iya, punten. Bentar deh pa. Gak jadi deh, alina kuliah di Indonesia aja."
papa menggelengkan kepalanya. "Pokoknya kamu harus menikah dengan rekan kerja papa."
"Loh gak bisa gini dong? Ya sudah mending Alina pindah ke Pluto aja"
"Kebanyakan halu ini anak." ledek abangku.
"Alina gak mau" aku langsung pergi.
"Ini permintaan terakhir papa nak." kata papa yang aku dengar sebelum aku beranjak pergi ke kamarku.
-----
Tak tahu lagi apa yang ada didalam pikiranku tapi yang jelas aku sangat menolak tentang pernikahan ini, mataku tak dapat berhenti mengeluarkan air mata, dan entahlah sepertinya sudah sekitar 2 jam aku membenamkan kepalaku di bantal, berharap mama akan datang dan menenangkan suasana hatiku yang sedang tidak baik, tapi bodohnya aku lupa kalau tadi aku mengunci pintu, jadi tidak ada yang akan datang.
tok.. tok..tok
"Nak? Ini mama." tepat seperti dugaanku sebelumnya,pasti mama akan datang.
Aku pun membuka kan pintu untuk mama dan membiarkannya masuk.
"Ma, Alina masih muda, gak mau dijodohin. kenapa sih papa tiba tiba mau menjodohkan Alina."
"Rekan kerja papa itu banyak membantu bisnis papa nak."ujar mama sambil mengelus rambutku.
"Jadi papa ngorbanin alina buat uang? Buat bisnisnya?"
"Huss, bukannya begitu sayang. Alina kan tahu sendiri kalau kamu putri kesayangan papa."
aku terdiam.
__ADS_1
"Papa kalau sayang Alina gak mungkin bakalan melakukan ini semua ke Alina." ucapku pelan
Mama menuntunku kembali ke ranjang dan menatakan posisi yang nyaman untuk tidur kemudian menyelimutiku,
tak lupa sebelum pergi dari kamarku mama mencium keningku sembari berkata..
"Mama dan papa sayang kamu nak, selalu sayang" kemudian aku kembali terisak hingga aku tertidur.
--------
Matahari telah bersinar terang dan aku baru saja bangun, terlepas dari semua pikiran yang mengusikku kemarin malam, aku bersegera menuju ke kamar mandi dan langsung menyikat gigiku seperti biasa.
Melihat pantulan rambut singaku di cermin rasanya membuatku ingin tertawa sendiri dan berpikir, "menikah? Dengan aku yang ber penampilan seperti ini, aku rasa dia akan mundur saat mengetahui sifatku dan kondisiku yang seperti sekarang ini.
"Loh?" aku mencoba memutar keran air namun tidak kunjung mengeluarkan air.
sial sekali, belum sempat kumur.
"MA! MAMA, ABANG, AIRNYA KOK MATI" berulang kali aku teriak namun tak ada respon sama sekali dari penghuni rumah ini.
Aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari orang yang bisa membantuku.
Terdengar dari ruang tamu suara mama, abang dan papa tengah asyik bercerita dan tertawa, aku langsung menghampiri mereka.
"Bang, bantu Alina airnya kok gak nyala"
"ASTAGHFIRULLAH" mama sangat terkejut melihatku lalu langsung menarikku kedalam.
"Kamu ini ngapain? rambut kayak singa, sikat gigi dalam mulut pasta giginya belepotan kok udah keluyuran." omel mama
"Alina tadi udah teriak kalo airnya mati, tapi gak di respon, ternyata lagi ngumpul disini semua."
"Udah ah, kamu cepet keatas dandan yang rapi, mama nyuruh abang nyalain airnya, kalau sudah rapi turun ya nak, calon kamu ada di depan."
__ADS_1
Aku langsung memalingkan pandanganku dan beranjak pergi tanpa berkata-kata.
Dih, ogah amat yak dandan buat dia, mending aku jogging ke taman aja kali ya, siapa tahu ketemu cogan kayak abang Taehyung.