Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 76


__ADS_3

Tak menyangka kalau aku merasa kalau aku dapat menyelesaikan soal yang sangat banyak itu dengan lancar dan aku merasa kalau soal - soal itu sangat mudah, bahkan kalau boleh sedikit menyombongkan diri, aku merasa kalau aku dapat mengerjakannya dengan menutup mataku.


hatchim!


Aku menggosok hidungku yang terasa sedikit gatal sedari tadi, entah sudah ke berapa kali aku bersin - bersin di dalam ruangan ini, dan aku berharap agar suara bersinku tidak sampai mengganggu peserta lain yang tengah dengan seriusnya mengerjakan soal mereka.


Memang dari awal berangkat aku sudah merasa kalau aku sedikit tidak enak badan, dan sudah merasa kalau aku akan segera terkena flu, apalagi ditambah dengan suhu ruangan yang ber-AC ini semakin mempengaruhi kondisi tubuhku yang sedari awal sudah tidak fit.


Dan tentunya aku tidak bilang kepada Leonardo kalau aku merasa badanku tidak dalam kondisi yang tidak fit, bisa - bisa dia nantinya dia malah melarangku untuk pergi tes SBMPTN dan menyuruhku untuk mengambil jalur mandiri, dan tentunya aku tidak menginginkan hal itu.


" Ini tissue, pake." kata peserta lain yang duduk tepat bersebelahan denganku sembari mengulurkan tissue itu padaku, aku langsung mengambilnya.


"Thank's." ujarku, dia hanya mengedikkan bahunya sekilas, lalu kembali fokus mengerjakan soalnya.


-------


Aku duduk di emperan depan ruangan tempatku melaksanakan tes tadi dan mengambil ponsel yang aku matikan dari awal aku masuk ke ruangan. aku membuka Whatsapp dan hendak mengabari Leonardo kalau aku telah usai melewati tes yang pertama dengan lancar dan akan berlanjut ke tes yang ke duan setelah lima belas menit kemudian.


seorang peserta lain duduk tepat di sebelahku, dia mengenakan kao putih polos dan dipadukan dengan kemeja hem motif kotak - kotak berwarna biru gelap, aku rasa aku telah melihatnya tadi di dalam ruangan.


"Kalau udah tahu gak enak badan jangan maksain pake baju yang berbahan tipis gitu, udah minum obat belum?" katanya dengan nada yang datar, aku melirik ke arahnya, tentunya dengan tatapan sesinis mungkin yang aku bisa.


"Sorry sebelumnya, kok lo terlalu ikut campur dengan kehidupan gue ya? weirdo." kataku dengan nada yang amat tajam, aku geram kepadanya yang tiba - tiba saja mengatakan hl yang sesantai itu seolah kita telah kenal lama.


"Oh, sorry. gue terlalu ikut campur ya? sebenernya gue mau bilang kalo rada geli aja selama tes tadi suara bersin dan ingus lo ganggu banget, jadi gue kasih tissue aja tadi biar suaranya mereda." Ujarnya masih dengan nada santainya, ia tersenyum evil kepadaku.


"Btw, gue Gilang, salam kenal ya Alina." Aku membelakkan mataku menatapnya yang beranjak pergi begitu saja.

__ADS_1


laki - laki yang bernama Gilang itu secara misterius bertindak seperti itu kepadaku, aku masih saja terheran dengan orang sok kenal itu.


Haruskah aku memberi tahu Leonardo tentang hal ini? Tentunya kalau masalah cemburu sudah tidak perlu di pertanyakan lagi, pastinya kalau Leonardo tahu dia duduk di sebelahku dan menyapaku seperti itu pastinya akan mengundang amarah Leonardo.


Tapi bagaimana pun aku telah berjanji kepada Leonardo untuk memberi tahunya apapun masalah yang terjadi, jadi aku berniat untuk memberi tahu kepadanya seusai tes sesi ke kedua berakhir nantinya.


-----


Sekali lagi aku merasa sangat bangga kepada diriku sendiri yang bisa menyelesaikan soal - soal yang semulanya bisa membuatku nervous dan pada akhirny aku bisa menaklukkannya dengan baik, tak sabar aku ingin segera memamerkannya kepada Leonardo, kalau istrinya yang dulunya sering bolos sekolah ini bisa menyelesaikan kedua tesnya dengan baik.


Ada sedikit rasa tak yakin yang tengah aku rasakan saat ini, entah mengapa aku merasa kalau gerak - gerikku tengah di awasi oleh seseorang, dan orang itu adalah Gilang -cowok misterius yang duduk bersebelahan dengan ku, aku menoleh ke arahnya untuk memastikan apakah memang benar ia tengah memperhatikanku.


Gilang malah mengumbar senyuman smirknya kepadaku saat aku pertama kali menoleh ke arahnya, dengan cepat aku memutar bola mataku kembali menghadap ke depan dan menghindari untuk menatapnya.


Tentunya aku sangat menyesal telah berkontak mata dengannya tadi.


------


"Mas!" pekikku sambil melambaikan tanganku pada Leonardo yang menungguku di luar mobil sambil bersandar, aku berjalan menuju kearahnya, karena banyaknya orang yang berlalu lalang nampaknya Leonardo seperti tengah mencari dari mana suaraku berasal, dia menyapu pandangannya namun sepertinya masih juga tak melihatku yang berjarak radius 15 meter darinya.


"hey, mau pulang? Karena gue lagi berbaik hati, ayo gue antar pulang." Gilang tiba - tiba muncul di hadapanku dan menghentikan langkahku.


*annoying!' *batinku dalam hati.


Aku berjalan melalui Gilang dan sengaja mengabaikan dirinya yang berniat untuk mengantarkanku pulang.


"Alina, lo percaya sama love at first sight gak?" tanya nya tiba - tiba sambil mencekal tanganku.

__ADS_1


"Lo ngomong apa sih?" jawabku kesal, aku mengibaskan tangannya yang mencekal tanganku dengan cukup keras lalu kembali memanggil Leonardo.


"Mas!" pekikku, barulah Leonardo melambaikan tangannya padaku dan berjalan menghampiriku.


"Lin, i'll be waiting for you." Kata Gilang, yang kemudian mengundang pandangan penuh tanya dari Leonardo, cepat - cepat aku mengaitkan tanganku di lengan Leonardo dan mengajaknya untuk masuk ke mobil.


Ketika sudah berada di dalam mobil, dan menutup kembali pintu mobil Leonardo memandangku dengan tatapan penasaran, ia memijat pelipisnya sejenak, lalu membuang napasnya kasar.


"Yang, mas langsung to the point aja, kamu kenal sama cowok tadi?" tanya Leonardo to the point, sepertinya jiwa posesifnya kembali muncul.


"Alina baru mau cerita ke mas soal dia, aku beneran gak kenal sama dia, api dia udah sok kenal sok deket banget sama Alina gara - gara masalah tisu doang padahal, dia nya jadi caper."


"Tisu?" tanya Leonardo, aku mengangguk.


"Tadi alina itu bersin bersin pas di ruangan, habis gitu dia ngasih tisu ke Alina dan masa gara - gara gitu doang dia langsung deketin aku pas selesai sesi 1." Leonardo mendengarkan penjelasanku dengan seksama, matanya terus menatap manik mataku.


"Dan yang barusan ini dia cekal tangan Alina dan bilang gini 'lo percaya sama love at first sight gak?' ya langsung aku kibasin gitu aja tangannya, lagian gak penting banget."


"Gak bisa di biarin itu orang, jadi pengen mas tabok mukanya pake buku nikah kita." mendengar ancaman dari Leonardo yang baru saja ia katakan justru mengundang tawaku.


"susah ya punya istri cakep, imut, baik hati dan rajin menabung ini, resikonya banyak yang naksir." kataku memuji diriku sendiri yang kemudian dibalas cubitan di kedua sisi pipiku.


Leonardo mempoutkan bibirnya, lalu mengusap bibirku dengan ibu jarinya sekilas, matanya fokus menatap kearah bibirku tanpa beralih kemanapun.


"Bentar, mau kasih mark kalau kamu cuma milik mas, dan mas milik kamu." Leonardo mendaratkan bibirnya tepat di bibirku sejenak aku membelakkan mataku, ciuman itu singkat kemudian ia beralih menuju ke leherku.


"mas geli." desisku.

__ADS_1


__ADS_2