
Alina's pov
Setelah berbaring seharian di ranjang aku merasa tidak nyaman, dan badanku yang semulanya terasa pegal malah semakin terasa ngilu, pandanganku menerpa ke seantero ruangan yang rupanya saat ini aku berada di kamar utama.
Pada awalnya aku berpikir kalau yang tadi terjadi hanyalah mimpi, ternyata memang benar terjadi adanya kalau Leonardo yang terbengkalai cemas karena mendapatiku sudah demam tinggi, namun ketika aku mengerjapkan mataku sadar dari tidur ayamku aku malah tak mendapati keberadaan Leonardo di sekitarku.
Aku memegangi dahiku yang terasa ada sesuatu yang menempel disana, lalu beralih menatap ke meja kecil yang terletak di samping ranjang berukuran king size ini, banyak sekali macam obat dan kompres penurun demam yang bergeletakkan di atas sana, namun di antara semua obat yang ada disana, aku mengernyitkan dahiku saat melihat beragam macam testpack dari berbagai merk yang juga berada di dekat obat - obatan tadi.
Aku tertawa kecil dalam hati. "jangan bilang kalau Leonardo berpikir sakitku ini karena gejala dari awal kehamilan, aku rasa mungkin terlalu cepat kalau aku bisa langsung hamil."
Memang belum tahu pasti kalau aku sudah hamil atau belum, tapi entah kenapa aku merasa ini hanya sekedar tak enak badan biasa, bukan malah gejala awal kehamilan, di tambah lagi kita baru beberapa kali saja melakukannya, ya meskipun pada saat itu kita melakukannya di masa kesuburanku.
Cklek~
Oknum yang baru saja ku cari - cari tak lama muncul dengan menggengam ponselnya yang ia tempelkan di telinganya.
"Okay, mi. Leon tutup dulu telponnya Alina udah bangun." Ujarnya, tak lama kemudian ia mematikan panggilan tadi dan memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Leonardo berjalan menghampiriku kemudian ia duduk di tepi ranjang menghadap kearahku, dia tersenyum miring sembari tangan kanannya menangkup sebelah pipiku.
"Kamu itu sukanya bikin orang khawatir ah bae, kalau mulai ngerasa gak enak badan dikit langsung bilang sama mas ya sayang.." Ia mencubit pipiku gemas.
"Aw! orang lagi sakit kok malah di cubit sih." Protesku padanya.
"Biarin, kamu sih bikin mas sampe gelagapan tadi, awalnya fine - fine aja bisa jadi demam tinggi."
"Iya deh maaf, Alina tadi gak sempat bilang kalau ngerasa gak enak badan, lagian juga mana Alina tahu kalau bakal demam tinggi kayak tadi kan yang tadi aku cuma ngerasa ngantuk doang."
"Mas juga minta maaf deh, jadi ngomel - ngomel gak jelas."
"Ini kok berasa lagi lebaran ya mas, kita malah maaf - maafan begini." Ujarku kemudian tertawa Leonardo pun ikut terkekeh.
__ADS_1
"Mas sudah bikin bubur enak, habis gitu langsung di minum obatnya."
"Kok bubur sih.." Racauku sambil mengerucutkan bibirku.
"Mas suapin ya." Kata Leonardo ia mengambil bubur yang berada diatas meja di dekat kantong plastik yang berisi obat tadi, dia mulai mengaduk aduk buburnya dan terlihat ada asap yang mengepul keluar dari sana, dia mengambilnya lalu meniup - niupnya agar bubur panas tadi hangat.
"Gak mau bubur mas, makan KFC aja.." Keluhku saat dia hendak memasukkan suapan pertama padaku.
"Harus sembuh dulu dong, baru boleh makan Junk food, aaaa.." Jawab Leonardo.
aku mendengus kesal.
"Kalau gak mau makan dan gak lekas pulih gak usah nonton konser opah - opah kamu itu deh, intinya nonton konser batal." Ucapan Leonardo benar benar berhasil memprovokasiku, dengan gerakan cepat aku langsung melahap bubur itu.
Aku memukul lengannya pelan. "Ngancem ih."
Leonardo tersenyum penuh kemenangan dia, terlihat sangat bahagia saat aku memakan suapannya.
"Ya udah kalo mas gak boleh senyum sendiri temenin dong yang." Ujarnya.
"Ogah." elakku sambil menjulurkan lidahku.
Leonardo terus menyuapiku hingga bubur yang semulanya aku tolak mentah - mentah itu kandas.
aku memperhatikan Leonardo yang tengah meletakkan mangkok tadi di atas nakas, setelah itu leonardo menangkup pipiku sambil menatapku lemah, senyumnya terukir namun tak terlihat sumringah.
"Mas takut, kalau kamu sakit atau mungkin kamu punya niatan buat tinggalin mas bae, dan gak tahu kenapa pikiran ini terlintas begitu saja."
Aku memegang tangannya yang tengah menangkup pipiku. " Mana sanggup Alina tinggalkan mas, yang bagi Alina sendiri mas adalah suami yang paling sempurna, kakak yang mampu menjaga, teman berbicara dan terlebih lagi kelak akan menjadi ayah dari anak kita."
Tiba - tiba tatapan redup dari mata leonardo itu malah terlihat sedikit berkaca - kaca.
__ADS_1
"Sayang kamu nangis?" Ledekku.
"Ih, malu.. badan doang gede tapi cengeng." Imbuhku.
Leonardo memelukku erat, "Biarin, big baby ini pengen manja manja sama istri hehe."
"Mana ada big baby kok suka mesum."
"Ya sudah mas ganti, setelah kamu sembuh nanti. Mas akan buat kamu segera menjadi hot mommy hehe." Aku melirik tajam ke arah Leonardo yang tak hentinya cengengesan sedari tadi.
"Kedua orang tua kita udah gak sabar menunggu kedatangan cucu pertama mereka loh." Sanggahnya.
"Sepertinya orang yang paling pengen cepet punya momongan bukan mereka lagi deh, sekarang malah kamu yang pengen kan?" Kataku sedikit mengintrogasi Leonardo.
"Hehe, masa kamu gak pengen punya dede bayi lucu bae." Leonardo malah cemberut.
"Ya pengen mas, ini kita kan lagi proses loh. Nah, sekarang tinggal di banyakin lagi doanya supaya nanti diberi keturunan yang sehat, pintar, berakhlak baik, pokoknya kita minta doa yang baik buat anak kita nanti."
Leonardo tersenyum lebar mendengar tanggapan terakhirku tadi, ia menghampiriku lebih dekat, mengecup sekilas keningku dan menempelkan keningnya di keningku.
"Sedari awal mas sudah yakin, kalau mas gak bakal salah pilih istri. Dan ternyata kenyataannya benar, kamu yang terbaik." Tutur Leonardo, ucapannya terdengar sederhana namun sudah mampu untuk membuatku meleleh usai mendengarkannya.
"Tapi bentar bae, gak enak banget sih cium kening kalau ada bye bye fever yang di tempelin disini ih." Keluh Leonardo, seketika aku tertawa.
"Lagian mas kan juga udah tahu, kalau Alina ini sedang tidak enak badan. Eh, malah main nyosor." Tukasku.
"Mas hampir lupa gara - gara terlalu bersemangat tadi. Sekarang coba bilang ke mas, apa ada yang sakit atau masih pusing mungkin."
"Enggak mas, Alina udah merasa baikan kok. makasih banyak ya sudah rawat Alina dengan baik, ya meskipun tadi sedikit ngegas gitu." Ujarku.
"Sama - sama sayang. Ini sudah menjadi bagian dati tanggung jawab mas untuk rawat kamu dengan baik." Leonardo mengembalikan posisiku berbaring seperti semula, ia membenarkan selimutnya agar menutupi badanku dengan sempurna, sebelum ia beranjak pergi ia kembali mengecup keningku sekilas.
__ADS_1
"Mas mau ambil laptop dulu, terus temenin kamu disini sambil lanjutin pekerjaan mas ya." Ucapnya, aku mengangguk singkat.