Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 69


__ADS_3

Alina’s pov


Leonardo pergi tanpa memberiku penjelasan sedikitpun sebelum ia berangkat bekerja tadi, dia meninggalkan aku sendiri di rumah dengan perasaan yang tidak karuan rasanya dan tanpa ada kejelasan.


Setidaknya dia bisa memberi sedikit penjelasan kepadaku agar aku bisa merasa lebih tenang dan tidak memikirkan hal yang tidak ingin aku pikirkan seperti ini.


tapi dia benar - benar pergi begitu saja, apa aku sudah menjadi sangat mencintainya sampai - sampai harus merasa sakit seperti ini, belum lagi mengingat sikap bar - bar ku dulu saat sebelum menikah dan awal - awal menikahinya membuat aku tidak menyangka kalau aku akan se melow ini pada akhirnya.


Entah sudah berapa kali aku menghela nafasku hari ini, rasanya aku tidak ingin pisah dari tempat tidur dan ingin terus rebahan sepanjang hari sembari mencoba untuk menenangkan diriku dan mencoba untuk mempercayakan ini semua kepada leonardo meskipun sedikit sulit bagi ku.


ujian seleksi ptn sudah sangat dekat, dan bisa - bisa nya aku malah tidak sempat untuk belajar dan malah sibuk memikirkan masalah ini, aku mengambil buku yang ada di rak dekat sofa lalu membawanya keluar dari kamar. aku ingin belajar di luar dengan tenang agar aku bisa lulus ujian itu


dengan otak kentangku ini aku akan berusaha agar bisa lulus ptn di universitas tempatku kuliah nantinya.


Drrt..drrt .. drrt..


Belum lama aku memegang buku, ponselku sudah berdetar, seolah ada saja yang berusaha untuk menggangguku yang tengah belajar, aku mengambil ponselku yang ada di saku celanaku lalu melihat ada 1 pesan dari mami.


Mami gak nyuruh gue ke kantornya leonardo lagi kan? Huft..

__ADS_1


Aku membuka pesan dari mami yang berisi.


Mami : sayang mami udah beli in keperluan buat ujian kamu, yang semangat ya belajarnya.. oh iya mami beli beberapa snack juga, udah kamu balik belajar lagi ya anggap aja pesan dari mami gak ada hehe.


Alina : makasih ya mami, hehe.


Aku bernafas lega setelah membaca pesan dari mami leonardo yang tidak lagi iseng menyuruhku untuk datang ke kantor leonardo seperti waktu itu, aku tidak tahu akan se canggung apa nantinya kalau aku ke kantor leonardo dan bertemu dengannya, tapi untungnya mami tidak menyuruhku pergi, justru dia menyemangatiku untuk belajar.


Kembali fokus pada buku yang ada di pangkuanku, aku mulai membaca dan mengerjakan beberapa soal disana, sambil mendengarkan musik relaksasi yang enak di dengar saat belajar.


------


“eh gavin, tumben lo mampir ke sini.” Ucapku pada gavin yang membawa paper bag berukuran lumayan besar dengan satu kantong plastik berukuran besar.


“nganterin barang ini nih, di suruh sama tante fiona.” Ujar gavin.


“gue tadi dah sempet masuk, tapi tadi kaga ketemu lo di dalem ternyata nyempil di sini.” Sambung nya.


Oh, dia mengantar barang yang di katakan mami tadi ya, kemudian gavin ikut duduk di sebelah ku.

__ADS_1


“thank you ya.” ucapku pada gavin, dia menyerahkan paper bag putih itu padaku.


“thank you thank you se enak jidatnya, snack nya ya di bagi njir, maklum lah anak kost an kalo akhir bulan gini cuma sarapan promag dinner indomie, jadi kalo liat snack banyak gini ya kudu bagi - bagi.” Protes gavin sembari membuka kantong plastik tadi lalu mengambil satu snack yang ada disana dan memakannya.


Aku melihat ke arah gavin dengan tatapan heran. “ ngenes banget sih, perasaan duit banyak sok ngenes lo! Dah sana ambil yang banyak sekalian terus pergi gue mau belajar.”  Kataku.


“weh, sadis kali lin sama gue baru dateng juga udah ngusir.” Kata gavi mencibir, aku langsung melirik kearahnya tajam.


“eh iya iya ampun, enggak deh ntar gue di aduin ke bang leon auto wafat gue.” Dia meringis, aku hanya terdiam saat dia menyebut nama leonardo tadi seketika moodku langsung memburuk setelah mendengar ia menyebut nama leonardo tadi.


“kenapa langsung cemberut gitu sih, lagi marahan sama bang leon yak? Emang dia itu kadang minta di tampol baru peka.” Kata gavin dengan semangat aku tertawa pelan mendengarnya.


“enggak marahan sih, dia aja yang nyebelin.” Jawabku.


“nah iya intinya sama aja, langsung aja di tampol.” Dia masih saja terdengar menggebu – gebu.


“haha, iya dah gampang ntar, eh iya vin btw lo kenal gak sama jennie katanya sih temennya leonardo.” Ceplosku, karena sudah tak tahan ingin tahu siapa jennie sebenarnya dan leonardo yang sudah terlalu ribet saat akan diajak bicara lebih baik aku menanyakan pada gavin – sepupu yang katanya paling dekat dengan leonardo.


“kak jennie? Kok lo kenal sama dia lin.” Gavin seperti terkejut saat aku menanyakan tentang jennie, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan wanita yang bernama jennie itu.

__ADS_1


__ADS_2