Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 62


__ADS_3

Aku meyandarkan kepalaku di kursi sambil sedikit meringkuk di pojokkan, entah ide dari siapa, kenapa bisa leonardo memilih kursi row A yang jelas sudah berada diatas sendiri belum lagi dia mengambil di pojokkan.


Njir nih orang demen nya di pojokkan.


“bae?” panggil leonardo, aku masih duduk meringkuk dengan kedua kakiku yang sudah aku naikkan keatas kursi bioskop sambil memakan popcorn yang ada di rangkulanku.


“ya?” jawabku singkat, aku masih memunggungi leonardo, tak ada niatan untuk memunggunginya, tapi aku tak ingin melihat ke layar besar yang ada di hadapanku.


Jadi apa gunanya kita pergi ke bioskop?


“jadi kamu lebih milih buat sandaran di kursi daripada sandaran di bahu aku yang nyaman ini?” kata leonardo sambil menepuk bahunya kemudian ia menyesap cola yang ada di tangannya lalu ia letakkan kembali di kursi.


Dengan keadaan yang sudah gelap gulita ini aku membalikkan badanku menghadap ke leonardo “gak gitu mas, tapi aku beneran ga bisa kalo nonton film horor, malemnya takut kebayang – bayang hantunya.” Ucapku pelan, karena filmnya yang sudah mulai.


“ya makanya sini sandarannya sama mas dong, pasti aku lindungin kok biar kamu gak takut.” Ujar leonardo. Aku mencubit pinggangnya lumayan keras, dia merintih pelan.


“jangan keras – keras suaranya ih, ntar di omelin orang – orang.” Ucapku sambil berbisik.


Tapi tunggu dulu, sejak kapan aku jadi takut nonton film horor?


Bukan nya dulu genre film horor adalah film favoritku, bahkan aku sempat mengejek bang jaehyun yang tengah menonton film horor di siang hari.


Leonardo meringis kearahku, lalu dia mengarahkan kepalaku agar bersandar di bahunya.


“stop! Dah gak boleh gerak kemana – mana lagi, disini aja.”


“iya – iya.” Jawabku sewot.


“SSSST!” desis orang yang duduk di bawah kami, dengan gerak spontan kita berdua langsung menundukkan kepala kita agak kebawah, agar orang yang ada dibawah tidak melihat kearah kita.


Aku meletakkan satu jari telunjukku di mulut leonardo agar diam membungkam mulutnya. “diem ah mas, gara – gara kamu nih, jadi ganggu orang kan! Ih.” Omelku pelan, sekali lagi leonardo malah meringis, dengan cepat aku menarik jariku yang secara tak sengaja menyentuh deretan giginya yang rapi karena dia tengah meringis.


“argh! Jorok ih.” Bisikku, aku langsung kembali duduk seperti biasa, leonardo pun kembali duduk seperti biasa juga dan lagi tentunya dia tak akan membiarkan tanganku kesepian begitu saja.


Leonardo mengenggam tanganku menyatukan jemarinya dengan jemariku lalu mengecupnya sekilas dan menatapku.

__ADS_1


Ia mendekatkan bibirnya kepada telingaku lalu membisikan sesuatu.”Kalau mau di bilang jorok itu gimana ya? soalnya seluruh badan kamu kan sudah kena gigitan aku.” Aku menjauhkan kepalaku darinya lalu menatapnya tajam.


“udah ah, jangan bahas itu lagi dong.” Gumamku sambil mengalihkan pandanganku, bukannya apa tapi menjadi tersipu malu jika dia membahasnya, dan tentunya aku langsung flashback dengan kejadian yang terjadi kemarin.


“iya deh iya mas gak bahas lagi, sini in dulu dong tangannya, hehe.” Ujar leonardo dia mengulurkan tangannya kepadaku, aku meletakkan tanganku diatas tangannya kemudian ia menggenggamnya.


-------


“WAAAA!!!” pekik leonardo dengan suara yang amat lantang, sebelumnya aku telah meletakkan popcorn ku pada tempat yang sudah di sediakan di kursi bioskop tersebut.


Untuk ke sekian kali aku telah menegur leonardo agar tidak lagi berteriak, entah sudah berapa kali dia berteriak tapi yang jelas suaranya benar – benar lantang dan tentunya menyita pandangan orang lain yang sedang menonton film.


Leonardo semakin gencar untuk bersembunyi di lenganku.


What the-?


Bukannya sebelumnya dia bilang kalau dia yang akan melindungi saat aku ketakutan menonton film tersebut, tapi nyatanya malah sebaliknya leonardo malah bersembunyi dan menyandarkan kepalanya kepada lenganku dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya.


Sesekali dia mengintip hanya untuk berteriak.


“mas gimana sih, tadi katanya kamu mau lindungin aku kalo ketakutan, ternyata malah kamu yang sembunyi duluan sebelum setannya muncul.” Ledekku pada leonardo.


Leonardo berdehem sejenak, lalu dia kembali duduk seperti biasa, dia mengambil ponselnya dari waist bagnya.


“sebener nya aku ini enggak takut bae, cuma kedinginan aja, jadi pengennya dusel ke kamu.” Elaknya.


Tapi, sudah terlihat dengan jelas kalau dia itu ketakutan dan tidak menatap ke layar bioskop sama sekali.


“terus kenapa teriak – teriak tadi, mana suara kamu kenceng banget.” Crocosku pelan.


Leonardo menyengir ala kuda kepadaku.


“ya kan biar menghayati filmnya bae, lagian juga orang lain banyak yang teriak gak cuma mas doang.” Dia terus mengelak perkataanku.


“ Cuma kamu doang mas yang teriak, orang lagi scene pergantian malam ke siang kamu malah teriak kenceng.” Ucapku, barulah leonardo bungkam dia mencubit pipiku.

__ADS_1


“haha, ya udah deh, mas ngaku kalau gak bisa nonton film horor, makanya tadi mendingan kita nonton Shaun the sheep tahu.” Kata leonardo.


“au ah gelaps.”


Leonardo malah bergelayut manja di lenganku.


“inget, ada cctv jangan aneh – aneh ah.” Cibirku.


“udah sah, gak bakal di grebek.” Jawabnya santai.


“argh! Lepaaas.” Gumamku, dia masih bersandar di lenganku.


“yah, susah lepas ini, udah terlanjur nempel tahu.” Leonardo menempelkan bibirnya di punggung tanganku cukup lama.


“meskipun mas takut sama film horor, tapi percaya deh kalau sampai ada orang yang berani sakitin kamu mas adalah orang yang berdiri paling depan buat selamatin kamu, lindungin kamu.”


“apaan sih.” Kataku aku memfokuskan pandanganku kembali ke layar bioskop dan berusaha untuk menonton film tersebut dengan tenang.


Ya meskipun nampaknya aku terdengar biasa saja dengan perkataan leonardo yang baru saja ia katakan, nyatanya jantungku ini berdetak tak karuan, aku terlalu bahagia mendapatkan suami sebaik dia, se perhatian dia, ya meskipun sikapku ini selalu kasar kepadanya, tapi sedikit demi sedikit dia lah yang merubahku agar aku bisa bersikap lebih lembut kepadanya.


“udah itu nonton sana, sayang tiketnya kalau kamu pakai buat teriak – teriak aja di bioskop.” Cibirku.


“tiba – tiba aja mas ngantuk nih bae, ntar bangunin ya! eh iya ini kok dingin banget ya?” ucapnya, aku tahu kalau dia tak berniat untuk menonton film itu lagi makanya dia mencoba untuk tidur saja.


Gyuut..


Aku merasakan tangan leonardo yang sudah melingkar di sekitar perutku.


“nah, gini kan anget.” Gumamnya, aku tak merespon perkataannya aku hanya memegangi tangannya yang melingkar disana, dan menjaganya agar tidak sampai berkeliaran kemana – mana.


Aku melirik kearah leonardo sekilas, dia memejamkan matanya sambil tersenyum.


Astaga ganteng banget suami gue! Dapet rejeki nomplok dari mana ini ya tuhan.” Batinku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2