Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 73


__ADS_3

“Permisi.” Kata jennie yang muncul secara tiba – tiba di pintu ruang tamu, ia hanya berdiri di sana dan tidak masuk ke dalam, Alina yang tengah belajar di ruang tamu pun sedikit terkejut awalnya pertama kali melihat kedatangannya.


“Ah, iya silahkan masuk.” Ucap Alina, dia menahan rasa kesalnya pada wanita yang ada dalam pandangannya itu, kemudian jennie masuk kedalam rumahnya tanpa basa – basi. Dia meletakkan tas rotan bundar miliknya diatas meja yang ada di hadapannya lalu duduk dengan nyaman di sana.


Alina terus memandanginya heran, dia bergumam “ini orang ngapain lagi dateng kesini, sebel banget sih liat dia, ya meskipun dia ini statusnya cuma teman Leonardo tapi kan dia dulu pernah ada rasa. ”


“Gue kesini bukan mau cari Leonardo, dan anggap aja gue kesini cari lo.” Kata Jennie pada Alina, mendengar perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Jennie membuat alina hanya bisa tersenyum menahan kesalnya, perkataan yang keluar dari mulut Jennie selalu terdengar sedikit memprovokasi Alina.


Alina menutup bukunya lalu membenarkan posisi duduknya.


“Oh, lo baru mau daftar kuliah?” tanya Jennie sambil melihat kearah buku yang semulanya di pegang oleh Alina dan sudah ia letakkan diatas meja itu, alina hanya mengankat kedua alisnya sekilas memberi gestur pertanda iya.


“Heran gue sama Leonardo kok dia maunya sama yang masih ABG begini.” Sambungnya, namun dengan gumaman suara pelan yang samar masih terdengar di telinga Alina.


“Jadi apa yang mau lo omongin sama gue? Keburu gue mau balik belajar, gue gak suka buang waktu yang gak penting.” Kata Alina dingin, namun Jennie hanya tersenyum miring mendengarnya.


“Gimana Leonardo, he’s a good kisser right?” Kata Jennie dia terkekeh pelan sambil menutup bibirnya dengan tangannya, Alina langsung memutar bola matanya mengarah ke lain arah tak memandang ke wanita sial yang tengah memprovokasinya itu.


“Oh god, bisa gak sih jangan lontarin pertanyaan yang gak masuk akal dan tentunya gak bakal gue jawab karena mengarah ke privasi orang lain? Kalo emang itu yang mau lo tanya in ke gue mending lo pulang aja, gak penting.” Jawab Alina dengan nada yang terdengar geram, Jennie malah menertawakannya saat mendengar tanggapan dari Alina yang semakin membuat Alina merasa kesal.


“Oke – oke kali ini gue bakalan serius, btw nama lo Alina kan?” ujar Jennie yang di balas anggukan singkat oleh Alina.

__ADS_1


Jennie mengatur nafasnya sejenak sebelum ia melanjutkan perkataannya, dia menatap kearah Alina.


“Jadi tujuan gue dateng kesini cuma mau minta maaf ke lo dan Leonardo, karena secara gak langsung gue udah repotin keluarga kecil kalian ditambah lagi bikin selisih paham diantara kalian dan pada akhirnya gue udah memutuskan mau nyari cara sendiri buat nemuin Kendrick dan suruh dia tanggung jawab masalah bayi ini.” Kata Jennie sambil mengusap perutnya yang membuncit lumayan besar karena sudah ada bayi berumur 6 bulan di dalam sana.


Alina duduk dengan menopang dagunya dengan satu tangannya, ia menyilangkan kakinya. “Karena gue yang gak mau masalah ini berlarut larut, makanya gue putusin buat anggap masalah ini kelar, jadi perminta maafan lo di terima.” ujar Alina.


"Tapi gimana cara lo buat nemuin Kendrick sedangkan lo lagi hamil begini?" sambung Alina bertanya pada Jennie.


"Ini semua berkat Leonardo sih, dia nyuruh beberapa bodyguardnya buat nyari in Kendrick di manapun dia berada, dan akhirnya semalem gue di kasih info sama salah satu pekerjanya Leonardo kalau dia nemuin Kendrick di Yogyakarta." jawab Jennie, Alina hanya menganggukan kepalanya saat mendengar penjelasan dari Jennie.


“Sorry banget dari kemarin repotin kalian, sekalian gue mau pamit pergi, sebelum Kendrick lari lagi, gue ucapin makasih banget ya.” Imbuh Jennie kemudian dia berdiri dari tempat semulanya ia duduk, dia menghampiriku aku langsung ikut berdiri di tepat di hadapannya.


Ia merangkulku. "makasih ya Alina, sorry kalo gue rada nyebelin. Mau gimana lagi, udah dari sono nye." ucap Jennie, Alina menganggukkan kepalanya lalu menepuk pelan punggung Jennie.


------


Pukul 16.04 langit sore nya sedikit mendung, hawanya panas sedikit lengket karena akan segera turun hujan.


Alina yang dari pagi fokus belajar, sudah tidak sanggup lagi menatap buku berlama - lama, seketika matanya langsung redup, dan juga ia mengantuk, di tambah lagi dengan posisi rebahannya yang menambah kenyamanan di posisinya yang sekarang.


Suara klakson mobil Leonardo membuat Alina langsung bangkit dari tempatnya yang semula rebahan di ruang keluarga, dia langsung menghampiri sumber suara yang berasal dari luar rumahnya. Dia mendapati Leonardo yang baru saja keluar dari mobil mackleren hitam miliknya dengan dua kancing atas kemejanya dibuka.

__ADS_1


Alina menelan salivanya dengan susah payah melihat Leonardo yang berjalan dengan sangsinya menuju ke ayahnya dengan senyuman manis yang ia sunggingkan disana.


Leonardo nampak sangat bahagia, karena kedatangannya di sambut manis oleh istrinya tercinta yaitu Alina.


Ketika Leonardo sampai di tempat Alina tengah berdiri tertegun menatap kedatangannya, Leonardo langsung mengulurkan tangannya kepada Alina, lalu yang di ikuti tangan pun meraih tangan kokoh milik Leonardo dan mengecup singkat punggung tangannya.


"Kayaknya kamu lagi semangat banget hari ini?" tanya Leonardo dengan tersenyum.


"iya. " Jawab Alina singkat, pandangannya masih melihat ke tangan Leonardo tanpa berpindah sedikitpun.


kemudian Alina merebut keresek plastik berwarna transparan yang ada di tangan kiri Leonardo.


"Hehe, ini es teler durian kan? pesanan aku. " ujar Alina dengan merebut keresek itu dari tangan Leonardo dengan cepat.


"Ya gusti, mas kira kamu kenapa kok kelihatan semangat dari tadi, ternyata ada maunya." kata Leonardo, namun dia terlihat senang karena melihat mata berbinar binar bahagia melihat istrinya yang sangat bahagia karena ia bawakan es teler durian pesanannya. Alina mengacuhkan perkataan dari leonardo dan ia sudah terlihat sangat tidak sabar untuk segera memakan esnya.


"Halo kacang, ada orang disini. " kata Leonardo, namun Alina masih saja tidak menghiraukannya sama sekali, Leonardo hendak berjalan melaluinya lalu tangannya di cegah oleh tangan kecil milik Alina yang membuat ia menghentikan langkahnya, lalu menatap ke arah Alina.


cup!


Alina mengecup singkat bibir milik Leonardo. "makasih ya mas, hehe. " Lalu ia berlari kecil dengan langkah yang penuh semangat.

__ADS_1


"eh, stop bae! gak bisa begini. makan es nya nanti ya? sekarang kita kelonan aja dulu, lagian kok pake acara pancing mas pake sun segala, kan jadi gemes. " ujar Leonardo sembari mengejar Alina yang berlari dengan penuh semangat.


__ADS_2