
"Good morning istriku." Ucapan itu yang aku dengar saat pertama kali membuka mataku di pagi hari ini.
Aku mengucek mataku lalu merenggangkan tubuhku yang sedikit ngilu.
"Good morning." jawabku
Aku duduk lalu melihat ke seantero ruangan.
Masih berada dirumah sakit.
Yang benar saja, kan memang aku sedang menemani Leonardo yang kemarin tiba- tiba pingsan seusai memakan melon sehingga membuatnya harus dirawat di rumah sakit.
Aku turun dari ranjang dengan perlahan.
Wait..
Kenapa aku bisa diranjang.
Ini pasti ulah Leonardo!
Aku melirik kearahnya sinis. Dia meringis.
tanganku sudah sigap dan berancang ancang ingin memukul Leonardo.
"Gak mungkin lah aku biarin istriku tidur sambil duduk sedangkan aku sebagai suaminya malah tiduran enak diranjang, hehe." Ujar Leonardo sambil cengengesan.
"Tapi lo itu lagi sakit, malah gendong gue segala." Omelku padanya
"b1ae liat deh, suami kamu ini udah sehat wal afiat sayang, gak usah khawatir gitu ah."
"Idih, siapa juga yang khawatir, ntar lo sakit lagi gue kena omel mama anjir." Kataku sedikit ngegas. Lalu bergerak menjauh darinya.
"Habis ini kita pulang ya." kata Leonardo.
Aku mengangguk lalu ia sambut dengan senyum kegirangan.
"Welcome home sayang." Kata Leonardo saat kita sampai dirumahnya yang didesain simple namun terlihat sangat mewah.
Aku diam saja tak berniat menanggapi perkataan Leonardo
Rumah ini terlihat tidak terlalu besar dari luar namun sangat megah dari dalam.
"Mulai sekarang ini jadi rumah kamu." Leonardo merangkulku.
__ADS_1
Aku sedikit menggeserkan badanku darinya.
"Rumah kita, bukan aku." Ralatku
Senyumnya mengembang raut wajahnya menampakkan ekspresinya yang sangat bahagia saat mendengar perkataanku yang baru saja aku ucapkan.
"Iya rumah kita sayang."
Ya ampun lihat itu!
Bagaimana dia bisa sebahagia itu hanya mendengar kata seperti itu yang keluar dari mulutku.
"Rumah ini terlalu besar kalo buat kita berdua." kataku berkomentar sammbil melihat seantero rumah yang didesain begitu megah.
"Sengaja aku desain besar bae." Jawabnya.
"Oh"
"Kamu gak penasaran gitu kenapa kok aku desain gede begini?" Leonardo mendekat kearahku.
Aku mengangkat pundakku dan bersikap masa bodo lah, mau dia desain besar atau kecil kek, itu terserah dia, kan aku cuma ingin berkata kalau ukuran rumah seperti ini dan hanya kita berdua yang tinggal didalam sini akan sangat boros.
Aduh jiwa hemat ala emak emak ku bergejolak.
"Nanti kita bikin anak yang banyak. biar rumahnya rame, hehe."Ucap Leonardo sambil menyeringai dia terus berjalan mendekat kearahku dan dari raut wajahnya aku sangat yakin kalau dia sedang berada di mode on.
Aku belum siap.
"Stop!" Ancamku agar dia tidak mendekat kepadaku, aku mengambil miniatur menara eiffel yang berada di dekatku lalu menodongkan kedepan menjadikannya sebagai benteng perlindunganku, melawan Leonardo yang sedang berada pada mode gaharnya.
Leonardo tetap maju dan semakin mendekat kearahku sambil tersenyum smirk.
aduh tolong ini dia lagi kenapa sih?
Baru juga sembuh langsung mau nyerang aja.
"Awas aja lo berani ngapa- ngapa in gue, gue bakal teriak sekenceng- kencengnya." ancamku padanya.
"Alina sayang, inget kamu ini istriku. Mau kamu teriak bagaimana pun orang - orang pasti akan bersikap wajar kalau tahu aku hanya meminta jatah dari istriku ini." Ujar Leonardo santai.
Aku terdiam sejenak.
Lah iya bener.
Sekarang sudah sah.
__ADS_1
Surat nikah pun juga ada.
Kalau pun aku mau teriak sekencang apapun malah yang ada aku akan jadi bahan gossip an tetangga yang mengatakan kalau aku istri durkaha yang tidak mau memberi jatah pada suaminya.
Aku menjitak kepalaku pelan.
'Aku kudu ottoke ini, Sehun oppa bantu dedek" batinku.
Dengan sigap Leonardo mengangkat tubuhku dan menggedongnya bukan ala bridal style akan tetapi seperti menggendong karung beras.
Ah yang benar saja dia.
Apa yang ingin dia lakukan padaku?
Masa mudaku, dan hal yang paling aku jaga selama ini akan ia renggut saja setelah ini.
Alina Keenan Raftar, delapan belas tahun, menikah atas kemauan orang tuanya, akan segera kehilangan keperawanannya setelah ini.
Hal itu terus terngiang di otakku.
Aku memberontak dan terus meronta- ronta agar leon menurunkanku.
"TURUNIN GUE SEKARANG."
"TURUNIN ANJ."
"BANGKE."
"BANGCAT
Tak henti henti aku memaki dan menyumpahi dirinya.
"Uh, istriku kasar banget yak, makin gemas."kata Leonardo dengan santai menanggapi makianku.
Dia tidak memiliki niatan untuk menurunkanku sama sekali. dia terus menggendongku dan membawaku ke kamar yang sangat besar dan tampak nyaman dengan terdapat kaca besar yang menunjukkan pemandangan taman luar dan kolam renang yang sangat indah.
brug!
Leonardo menjatuhkanku tepat di ranjang berukuran king size nya.
Lalu dia kembali tersenyum ala mode gahar. "Leonardo, plis jangan sekarang. gue belum siap."
"Tenang bae, kamu gak perlu persiapan, biar aku yang siapin semuanya." Jawabnya lalu mendekat kepadaku.
Aku memundurkan badanku terus menerus hingga aku terjebak di ranjang.
__ADS_1
Leonardo kembali menyeringai. "Hehe." Desisnya