Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 75


__ADS_3

Sambil menunggu Leonardo yang sedang bersiap - siap untuk mengantarkanku ke ITB aku pun membuka ponselku dan mengirim pesan kepada keluargaku agar mendoakanku supaya aku bisa menjalani tes ini dengan baik.


Tiba - tiba saja aku mendadak menjadi sering cemas dengan sendirinya karena aku pikir aku cukup memaksakan diriku beberapa hari belakangan.


"Udah siap sayang?" tanya Leonardo yang sudah berpenampilan santai namun terkesan rapi, dia mengenakan kaos polo berwarna putih dipadukan dengan celana kain berwarna krem, dia meraih tanganku yang sedikit gemetaran tentunya agak berkeringat dan terasa dingin saat di sentuh, Leonardo langsung menatap kearahku.


Kemudian ia menghela nafasnya sejenak, lalu sebelah tangannya mencubit pipiku dengan lembut sekilas. "Hey, kamu pasti lagi gugup, mas dari dulu udah bilang kan kalo kamu yang terbaik jadi apapun nanti hasil tes yang keluar jangan sampai kamu berkecil hati harus tetep optimis okay?" Ujar Leonardo, aku pun menggegam tangannya sambil tersenyum menatap kearahnya.


"Iya mas, pengennya Alina sih enggak gugup tapi kaum rebahan kayak aku gini pasti ya langsung gemeteran kalo mau hadapin dan kerjain soal banyak, apalagi aku dulu sering bolos sekolah jadi aku agak nervous kalau nanti hasil tesnya gak sesuai dengan apa yang aku harapkan.” Kataku pada Leonardo, dia malah mengacak rambutku dan menunjukkan ekspresi wajahnya yang tengah gemas denganku. “ kamu sih, coba dulunya rajin, pasti sekarang gak terlalu ngegas begini belajarnya.” Timpal Leonardo


“Yeuh, mentang – mentang pinter kamu jadi ledekin aku,okelah kalo gitu aku kuliah di luar negeri gimana, boleh gak? Sekalian cari cogan gitu, udah sebel banget aku sama kamu mas.” Kataku usil, dia langsung mengerutkan dahinya.


“Enak kuliah di Indonesia aja bae, nanti kamu kalo kuliah di luar negeri susah nyari bakso gerobak sama nasi uduk, kamu ini udah serumah sama cogan masih kurang bersyukur aja, meskipun mas nyebelin gini tapi ngangenin tahu!” Leonardo menyengir, aku langsung memanyunkan bibirku.


"Mas, sumpah Alina tiba - tiba kok deg deg an begini ya, jangan jangan aku.." kataku sambil menggantugkan perkataanku.


"Laper." terka Leonardo, dia langsung berjalan ke arahku lalu ia menuju ke belakang badanku dan membuka tas ransel yang melekat di punggungku, ia membuka resleting tas tersebut lalu ada bunyi seperti tas plastik yang keluar dari tas ranselku.


Leonardo membawa tas plastik yang berisi makanan di bento bening berwarna biru muda itu lalu membukanya di hadapanku.

__ADS_1


"Ini udah mas siapin nih, sandwich enak banget tadi pagi banget aku bikinin spesial buat istriku yang mau tes kuliah." Ujar Leonardo, makin manyun bibirku dibuat olehnya, aku menepuk lengan Leonardo pelan.


"Ya Allah, Alina ini gak lagi laper loh mas, eh tapi ya makasih ya udah siapin ini semua, nanti Alina makan.” Jawabku, Leonardo meraih tanganku dan menggenggamnya.


“Deg – deg an banget ya? Lebih deg – deg an mana kalo lagi so sweet an sama mas, apa mau ujian?” Tanya Leonardo, aku tahu kalau Leonardo ingin membuatku lebih relax dan tidak sampai mengganggu materi yang telah aku pelajari dan aku hafalkan dari beberapa minggu kemarin. Leonardo tersenyum cerah yang membuatku sedikit melted karenanya, aku membalas senyumannya.


“Kamu ih, bandinginnya gitu, ya susah jawabnya. Kan keduanya punya tingkat deg – deg an yang berbeda, tapi kalau di bandingin sama itu ya lebih deg – deg an kalau sama kamu hehe.” Ujarku.


“Kamu kok jadi makin gemesin begini sih bae!” Ujar Leonardo yang bergerak ingin mencubit pipiku, aku langsung memundurkan badanku dan mencekal tangannya terlebih dahulu agar ia tak bisa mencubitku.


"Tapi bo'ong." Ralatku dengan cepat.


Astaga, kalau mengingat ini membuatku menjadi tersenyum sendiri, mengingat Leonardo yang seperti memiliki kepribadian ganda dalam hidupnya, yang orang lihat Leonardo adalah sosok yang dingin, arigan dan tegas, justru malah terlihat soft, baik hati, dan penyayang di hadapanku. Hal ini membuatku tersenyum simpul dan merasa menjadi sebagai wanita yang paling beruntung di dunia ini.


--------


"Semangat ya sayang! semoga berhasil, you're the best." Ucap Leonardo ketika kita sudah berhenti di tempatku untuk melaksanakan SBMPTN tersebut, aku meraih tangannya lalu mencium punggung tangannya selagi di sini masih belum terlalu banyak orang yang berlalu lalang, aku melambaikan tanganku pada Leonardo lalu berjalan namun Leonardo terlebih dahulu mencegahku untuk pergi, dia menahanku.


"Mas punya jimat biar kamu nanti gak nervous waktu ngerjain soal.." Ungkap Leonardo, aku menaikkan kedua alisku dan menatapnya dengan ekspresi yang amat penasaran.

__ADS_1


"Apa coba jimatnya?" Tanyaku padanya, dia malah terkekeh pelan lalu mengedipkan satu matanya dengan manja, lalu membuat gestur agar aku sedikit mendekat kearahnya, aku pun mendekat kepadanya.


cup!


Leonardo mendaratkan kecupan singkat di dahiku, lalu kembali tersenyum dan seperti tengah tersipu malu.


Astaga, Leonardo kayaknya udah gak sadar umur, dia malah bertingkah tengah tersipu malu di khalayak umum seperti ini.


Aku langsung menaboknya sekilas sembari menoleh ke kanan kiri dan depan belakangku memastikan kalau tidak ada yang melihat Leonardo yang tanpa aba - aba memberiku kecupan manis singkat di depan umum.


"Nanti kalau ada yang liat gimana ih, jahil banget kamu mas." kataku mencibir, dia malah meringis.


"Lagian kita kan udah sah, gak bakal ada yang berani protes, hehe." dia malah sempat menjawab seperti itu.


"Haha, hehe sana deh. dah Alina mau masuk kebanyakan liat muka kamu bikin lupa materiku sedikit demi sedikit." aku beranjak pergi meninggalkannya yang masih terdiam di tempatnya tadi.


Aku menyempatkan diriku untuk menoleh ke arahnya lalu, melambaikan tanganku kepadanya. " Alina masuk dulu ya! assalamualaikum." kataku tak bersuara kepada Leonardo, dan ia yang melihat apa yang aku lakukan baru saja dia langsung mengembangkan senyumnya dan berbalik melambaikan tangan ke arahku, ia mengepalkan tangannya ke dekat mukanya. " waalaikumsalam, semangat sayang!" Leonardo malah menjawabku dengan sebuah teriakan yang cukup nyaring.


Lagi - lagi Leonardo teriak, sejak kapan Leonardo jadi memiliki hobby teriak seperti itu, yang jelas perbuatannya tadi menjadi pusat perhatian calon mahasiswa lain dan membuat beberapa orang yang mendengar teriakannya tadi untuk siapa teriakan itu di tujukan, namun aku sudah bersikap natural dan bersikap bodo amat dengan yang terjadi tadi.

__ADS_1


Dengan langkah yang cepat aku segera menuju ke ruangan tempatku nanti mengerjakan soalku, aku mencari tempat dudukku dan ketika aku menemukan nomor yang cocok dengan nomor pendaftaranku aku langsung meletakkan tasku dan segera duduk di sana.


__ADS_2