
aku kembali ke kamar dan tidak mendapati kehadiran leonardo disana, dia tidak terlihat dimanapun, bahkan di balkon juga tidak ada.
aku duduk di depan meja riasku dan melihat pantulan diriku yang ada di cermin.
jangan bilang leonardo ngambek gara - gara lingerie tadi?’ pikirku.
ah masa bodoh.
siapa juga yang berminat untuk memakainya dan menunjukkan pada leonardo, meskipun dia adalah suamiku, tapi pasti itu akan sangat memalukan, entah apa yang ada di pikirannya kenapa dia sangat bersemangat jika membahas hal erotis seperti ini, ya meskipun tak jarang dia mengatakan padaku kalau dia hanya mesum ke istrinya saja.
yakali!
jangan sampai dia berani mesum ke cewek lain, auto potek lah hati aku.
aku membuka pintu yang menuju ke balkon lalu aku berdiri sambil memegangi dinding kaca yang membatasi balkon, kemudian mataku langsung menangkap keberadaan leonardo yang tengah duduk di sofa dekat kolam renang, aku memperhatikannya dari kejauhan nampaknya ia sedang sibuk dengan ponselnya sepertinya dia tengah menelepon seseorang.
tubuhku terasa bergerak sendiri dengan automatis tanpa aku sadari dan entah mengapa rasanya aku juga sedikit penasaran dengan leonardo yang menjawab panggilan saja dia menjauh sampai sejauh itu, apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku?
lagi - lagi kenapa aku menjadi merasa seperti ini, apa aku sedang cemburu?
yang benar saja.
__ADS_1
dengan membawa minuman hangat yang akan aku antarkan pada leonardo mungkin aku dapat mendengar sedikit dari perbincangannya.
aku tahu ini mungkin tidak sopan, tapi aku sebagai istri juga punya hak untuk menyelidiki suamiku yang bertingkah mencurigakan.
bukankah bersikap terlalu manis dan romantis sedikit mencurigakan?
aku berjalan dengan mengendap endap agar derapan langkahku tidak terdengar oleh leonardo, dan untung saja leonardo membelakangiku jadi dia tidak sadar dengan kedatanganku.
"iya, leonardo janji, tunggu saja. sebentar lagi kok." itulah kata yang aku dengar.
WHAT?!
terdengar formal dan sangat ambigu.
sebenarnya dengan siapa dia tengah berbicara?
tanpa mengubah ekspresiku aku berjalan dengan santai lalu aku meletakkan minuman hangat tadi di meja dekat leonardo.
entah mengapa leonardo dengan cepat mengakhiri panggilannya secara sepihak setelah ia melihat kedatanganku di hadapannya, membuat rasa curigaku terhadapnya semakin besar, aku menahan rasa kecewaku dengan sekuat tenaga agar tidak terlalu nampak jelas.
aku tersenyum.
__ADS_1
"diluar dingin, kenapa gak telepon di dalam aja sih mas?" tanyaku lembut.
kenapa aku merasa hatiku sedikit sakit saat mengucapkannya.
"tadi mas sedikit gerah, jadi sekalian cari angin." jawabnya, lalu ia menyesap minumannya.
halah, kok aku merasa dia sedang menutupi sesuatu?
di dalam rumah juga ada kipas angin, belum lagi dikamar tadi ac pun menyala, kalau dia mengeluh gerah jadi kurasa sangat tidak wajar, yang ia lakukan baru saja hanya ingin menghindar dari pertanyaanku.
"maksih ya sayang, udah bawain mas minum." ucapnya, dia hendak mengelus rambutku namun aku menghindari sentuhannya.
"alina masuk dulu, diluar dingin." kataku sambil berusaha menyungging senyumku semanis mungkin.
aku beranjak pergi dari tempat ini lalu kembali masuk kedalam rumah.
di setiap langkahku tak henti aku memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah ini, dan apa sebaiknya aku bertanya padanya?
tapi aku merasa jika aku melakukannya dia akan menganggapku terlalu posesif terhadapnya dan tidak menutup kemungkinan dia akan menertawakanku karena aku terlihat seperti sedang cemburu.
pada akhirnya, kurasa aku memilih untuk berdiam, dan menyimpan rasa perasaanku dan aku gantikan dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
tak mau ambil pusing dengan pikiran negatif yang mengusikku, karena besok aku sudah berangkat ke paris untuk honeymoon bersamanya jadi aku harus berusaha percaya padanya dan tetap terlihat ceria sampai besok.