Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 42


__ADS_3

Menghabiskan waktu seharian di saint malo dengan berjalan – jalan mengelilingi sekitar cukup melelahkan juga, akan tetapi semua itu sudah terbayar impas saat aku melihat pemandangan indah yang ada di kota ini.


Usai melihat sunset di tepi pantai bersama leonardo tadi, dia memutuskan agar kita menginap satu malam disini, karena langit yang sudah mulai menggelap jika kita hendak pulang kembali ke rumah yang ada di paris malam ini juga, pasti akan sampai disana larut malam.


Le Grand Hotel des Thermes


Hotel ini adalah tempat kami menginap malam ini, lokasinya yang strategis dengan pantai menjadikan hotel ini sebagai tempat utama menginap banyak turis yang berkunjung kemari.


Aku meletakkan topi yang aku kenakan diatas meja yang ada dalam kamar hotel ini kemudian aku duduk sandaran di atas kursi leonardo berdiri di depan kaca yang menunjukkan pemandangan tepi pantai ia terlihat tengah mengecek ponselnya yang tak berhenti berdering sedari tadi.


“sayang.” Panggil leonardo, aku menoleh kearahnya.


“iya?”


“kamu kalo mau mandi duluan ya, mas mau jawab telepon ini dulu.” Aku mengangguk, dengan memasang raut wajah yang terlihat sangat serius itu leonardo membuka pintu kaca menuju ke balkon kemudian dia menutup kembali pintu tersebut.

__ADS_1


Kenapa perasaanku jadi tidak enak lagi, memangnya harus sampai segitunya ya saat telepon  dengan orang lain di depan istrinya sendiri, toh aku juga berhak untuk mengetahui dengan siapakah dia berbicara, atau setidaknya dia sedikit lebih terbuka denganku, bukan hanya terus memanjakanku saja, aku menginginkan ini untuk menghindari rasa curigaku padanya.


Ah sudahlah!


Aku berjalan menuju ke kamar mandi, dan berencana untuk menanyakan kepadanya setelah aku mendinginkan kepalaku.


*


Leonardo’s pov


Baru kemarin aku sampai di paris untuk bulan madu dengan istriku,untuk membuat bulanmadu yang berkesan aku sudah menyiapkan segalanya agar alina bisa menikmati dan bahagia berada disini bersamaku, namun tak kusangka kalau aku hanya meninggalkan perusahaan dalam satu hari sudah ada kekacauan disana, sedari tadi aku menyalakan ponselku dengan mode flight supaya aku bisa meluangkan waktuku untuk alina sepenuhnya.


Sial, dengan melihat raut wajah alina saat aku menerima telepon tadi sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu padaku, tidak mungkin aku akan mengatakan kepadanya kalau sedang ada masalah di perusahaan saat ini juga tapi apa aku harus jujur kepadanya dan menunjukkan sisi lemahku padanya sekarang? beberapa hari kedepan adalah hari bahagia kita aku tak berniat untuk memberikan kesan buruk disini.


“mas? Alina dah selesai, kalau mau mandi buruan udah aku siapin air hangat nya di bath tube.” serunya.

__ADS_1


“iya bae.” Jawabku, aku menghampirinya kemudian memeluknya dari belakang. Dia memukul punggung tanganku pelan.


“mandi sana kamu bau.” Ucapnya. kemudian dia membalikkan badan nya mengahadap kearahku.


Wajah mungilnya yang imut itu terlihat sangat cantik meskipun tanpa ada polesan apapun disana.


Alina meletakkan kedua telapak tangannya dan menempelkan pada kedua sisi pipiku lalu dia mencubit pipiku dengan gemas.


" mas kalau ada masalah apapun, susah maupun senang kudu share ke alina, gini gini kan aku sekarang istrimu loh." dia menyimpulkan senyum tipisnya disana. aku pun ikut tersenyum.


"iya istriku." jawabku.


"jangan cuma iya iya doang. mas dari kemarin kayak sembunyi in sesuatu dari alina ya kan?"


"eh bae, mas mandi dulu ya hehe." jawabku.

__ADS_1


"dih ngeles trus, awas aja nanti gak mau jujur sama alina." ancamnya padaku.


 aku meringis sekilas lalu pergi ke kamar mandi.


__ADS_2