Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 41


__ADS_3

Berada diatas kapal mewah pribadi seperti ini memang sangat nyaman, dan tentunya terlihat sangat instagramable kalau buat di foto – foto, selain pemandangan indah dan fasilitasnya yang memadahi, perlakuan manis leonardo selaku suamiku menjadi nilai plus dari liburan bulan madu ini.


Hidungku yang amat sensitif dengan bau makanan yang lezat ini mulai bereaksi dan menangkap aroma sedap dari masakan leonardo, setelah mencium bau sesedap ini tak mungkin aku bisa tinggal diam diatas sini, pastinya aku langsung turun menghampiri sumber kenikmatan ini.


“baru mau mas panggil udah turun duluan ternyata.” Ucap leonardo, aku meringis.


“hehe.” Jawabku


“wah masak apa ini mas?” mataku mungkin terlihat sangat berbinar binar saat menatap masakannya leonardo.


“steak doang, gak apa apa kan?” ujarnya. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.


“makan apapun boleh, asal masakannya kamu mas, kalo aku yang masak auto mules, hehe.” Dia tersenyum mendengar tanggapanku.


Kemudian leonardo melepaskan apronnya dan menggantugkannya kembali di gantugan dekat dapur.


“enak gak bae?” tanya leonardo padaku, aku menggeleng.


Mendengar perkataanku leonardo pun langsung berjalan kearahku langsung meyeret kursi dan duduk di dekatku.


“bentar, mas masakin yang lain ya? Gak enak ya?” ucapnya, ia mengambil piringku, aku merebutnya kembali.


“belum aku makan, gimana tahu enak apa enggak.” Ujarku.


“loh? Kok geleng tadi.” Tanyanya.


“belom tahu maksudku tadi, kan alina belum cobain mas, ini loh potongnya susah hehe.” Jawabku polos.


Biasanya ketika makan steak aku selalu meminta tolong kepada bang jaehyun atau papa untuk memotongkan daging steakku agar dapat langsung aku makan tanpa ribet.


Leonardo menutupi wajahnya dengan tangannya sekilas.


“ya ampun, mas kira masakannya enggak enak bae.” Dia terlihat sangat ketakutan.


“aih, lebay deh.” Cibirku.


Dia sampai ketakutan segala kalau masakannya dia sampai tidak enak dilidahku, padahal leonardo sangat pandai urusan masak memasak, tidak sepertiku yang hanya bisa memasak mie instan.


“udah nih sayang.” Dia mengembalikan piringnya kehadapanku.


Dengan sigap tangan kananku telah memegang garpu, dan aku langsung mencomotnya satu potong dan memasukkan steak itu ke mulut laparku.


“daebak! Astaga.” Ujarku spontan.


Leonardo masih menatapku.


“enak banget mas, hehe.” Dia mengacak rambutku kemudian kembali ke tempat duduknya semula, kami pun makan dengan lahap.


Kita telah kembali ke tepi pantai usai melewati sekitar 3 jam diatas kapal, aku rasa sudah cukup puas berada disana, terlebih lagi aku sudah mulai sedikit sakit perut dan mual saat berada diatas sana, mungkin aku terkena gejala mabuk laut.


Dari awal aku merasa sakit perut dan mual aku sudah tak punya niatan untuk memberi tahu ataupun mengeluh kepada leonardo, nanti yang ada malah dia jadi khawatir dan kebingungan tidak karuan.

__ADS_1


Leonardo menggenggam tanganku kemudian mengajakku untuk berlarian di tepi pantai, tak bisa menolak ajakannya kali ini aku pun tetap berlari bersamanya meskipun dapat aku rasakan kalau perutku terasa seperti sedang diaduk dan aku sudah ingin muntah sekarang.


aku terus berusaha untuk menampilkan senyumanku agar dia tidak sampai curiga.


"bentar bae." ujar leonardo, dia mulai melepas kancing kemeja putihnya satu persatu.


WHAT THE HELL?! kamu mau apa mas' batinku.


dia menyerahkan bajunya padaku dan ia menitipkan bajunya padaku tak lupa dia merogoh saku celananya dan memberikan ponselnya padaku.


"nanti fotoin mas ya!" pintanya, aku mengangguk.


dia berlari dan bermain dengan ombak, kalau saja aku tidak sakit perut aku sudah bergabung dengannya.


leonardo melambaikan tangannya padaku ia menyuruhku untuk bergabung bersamanya.


"sini bae!" panggilnya.


dengan sedihnya aku menggeleng tapi aku tak mau menampakkan wajahku yang tengah menahan rasa sakit perut yang terus mengaduk perutku.


ia menghampiriku.


"kenapa?" tanyanya, dia terlihat sangat gembira.


"alina males basah basahan mas." bohongku, dia sedikit heran.


"mas hadap kesana deh, terus noleh kesini dikit, alina fotoin close up." dengan cepat aku berusaha mengalihkan topik pembicaraannya.


"oke deh."



"wah bagus nih." ucapku. dia langsung berlari kecil menghampiriku aku pun langsung menunjukkan hasil jepretan ku padanya.


"eh iya bae, aku keliatan seksi dan manly gitu, apalagi rambutku rada basah gini ya, pasti kamu langsung klepek klepek gitu kan pas liat aku begini." ia memuji dirinya sendiri sambil menyibakkan rambutnya yang basah itu.


jidat oh jidat' batinku.


"iya iya terserah mu mas -_- narsis amat jadi orang, heran deh." cibirku, dia meringis.


"eh tunggu sini ya!" serunya.


leonardo kembali berlari dan nampaknya ia tengah mencari sesuatu di sekitar tepi pantai.


leonardo kembali sambil membawa tangkai kayu di tangannya, dia meringis kepadaku.


lah bocah ngapa?


"diam disitu gak boleh gerak." pintanya, aku berdiam diposisiku sedari awal tak ada niatan untu bergerak kemana pun memang, karena mengingat perutku yang sakit ini.


dia mulai menggambar bentuk hati disekitarku.

__ADS_1


'aih, mainstream. tapi gak apa apa mas aku suka, hehe.' batinku, aku mengukir senyumku menatapnya.


dia meraih ponselnya yang ada ditanganku lalu mulai memutar instrumen violin dari lagu bruno mars - just the way you are.


dia mendekatkan wajahnya padaku aku memejamkan mataku saat dapat aku rasa kalau jaraknya sudah begitu dekat denganku, dia menempelkan dahinya pada dahiku, tangannya ia lingkarkan disekitar pinggangku aku mengalungkan tanganku disekitar lehernya.


entah apa yang merasuki ku~


tapi tanganku secara automatis sudah bertengger disana.


leonardo mulai menggerakkan kakinya mengiringi irama lagu tersebut, aku pun juga mengikuti langkahnya, meskipun jantungku sedang berdebar tak karuan aku merasa sangat bahagia, aku membuka mataku sekilas lalu memejamkannya kembali saat melihatnya juga memejamkan matanya.


dengan posisi yang begitu intens seperti ini tidak mungkin seorang leonardo tidak akan melakukan apapun padaku, tentunya dia memulainya dengan mengecup pelan di dahiku lalu turun kehidung dan memberi kecupan singkat pada bibirku ia tak berhenti memberiku kecupan kecupan singkat di wajahku, seolah dia tengah memberiku stempel di seluruh wajahku.


leonardo menggendongku lalu mencium bibirku dengan sangat lembut dan yang aku rasakan selain bahagia saat ini adalah kakiku yang tak mampu untuk menapak dengan baik di tanah, beruntungnya leonardo telah berinisiatif untuk menggendongku terlebih dahulu.


di sela - sela dia mencium lembut bibirku dia terus mengatakan kata 'i love you' sedari tadi.


tak tahu lagi rasanya, bercampur aduk.


tentunya aku bahagia bisa bersamanya.


" i love you too,suamiku yang mesum."


dia terkekeh sejenak mendengar julukan terakhir yang aku sematkan disana.


"bentar bentar kamu bilang apa bae!" ujarnya.


lah dia gak sadar apa yak kalo gue bilang i love you too.


"gak ada siaran ulang." ujarku.


"ulang."


"enggak."


"ulang."


"enggak."


"huaaa plis ulang." pintanya.


aku melepaskan tangannya yang tengah menyangga badanku kemudian aku berjalan sedikit menjauh darinya.


"yeuh! kaga mau ulang wek." cibirku.


"cium lagi nih, ampe lemes." ancamnya.


"enggak mau huaaaa." aku berlari menjauh darinya.


woah! sungguh mengherankan, tapi aku merasa kalau aku sudah tidak lagi merasakan kalau perutku sakit, untung saja tadi sewaktu leonardo menciumku aku tidak mual dan -tiit

__ADS_1


pasti akan sangat menjijikan.


thank god karena engkau membuatku merasa sangat bahagia bersama leonardo.


__ADS_2