Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 8


__ADS_3

Waktu berjalan sangat cepat, tak terasa dua minggu telah berlalu, seiring berjalannya waktu membuat Alina tersadar dan menjadikan dirinya lebih dewasa lagi.


Sekarang hanyalah masalah waktu, dia harus menerima kenyataan pahitnya ini, karena dia merasa harus bagaimana lagi, toh seluruh keluarganya sudah sangat setuju kalau dirinya menikah dengan orang yang dipilih oleh papa nya yang membuatnya tak berdaya untuk menolak pernikahan ini


Dia sudah melupakkan impian impiannya yang ingin menikah dengan salah satu dari oppa nya, dan mencoba menerima kenyataan bahwa dia akan menikah dengan orang yang apa adanya.


Dan mau tidak mau alina harus menerima dengan apa adanya juga.


Ya meskipun dia kaya, tapi tetap bagaimana pun dan dilihat kembali dari sisi mana pun dia bukanlah tipe ideal dan idaman alina.


Apalagi Alina telah memantapkan hatinya dari dulu dan dia juga percaya kalau cinta pertama dan cinta sejatinya adalah suaminya kelak.


Menurut Alina, pernikahan bukanlah sebuah permainan, jadi jika dia sudah menikah itu akan berlaku satu kali didalam hidupnya maka dari itu tidak ada cinta pertama yang bisa di ulang dua kali.


"ALINAAA!" panggil mama Alina, suaranya terdengar sangat terburu buru


Alina's pov


Setelah dengar teriakan dari mama aku pun langsung menuju ke kamar mama.


hampir tidak pernah mama meneriakiku seperti itu, maka dari itu aku segera lari menghampirinya, karena khawatir ada sesuatu yang terjadi.


"Buruan panggil mang Adit, cepeet" kata mama tergesa.


"Kenapa? Ada apa?" tanya ku kebingungan.


"Papa kamu di bawa ke rumah sakit." mama terlihat sangat khawatir dan ekspresinya sudah tak karuan.


Aku sudah tidak tahu apa yang ada di otakku tapi yang jelas aku langsung berlari mencari mang Adit dan memerintahkannya untuk menyiapkan mobil secepatnya.


Saat aku hendak berkata pada mama kalau mobilnya suda siap ternyata mama sudah siap terlebih dahulu dan pada akhirnya kita pun langsung masuk ke mobil dan berangkat.


"Papa kenapa ma?" tanyaku tanpa sadar air mataku jatuh dengan sendirinya.


aku menggigit bibir bawahku memikirkan papa yang selama ini selalu bekerja keras.


"Mama juga masih belum tahu jelasnya, tapi intinya papa kamu udah ada disana."


Papa adalah tipe orang yang sangat cuek, jarang berbicara namun dia juga sangat perhatian.


Belum lagi dia sangat pekerja keras demi keluarganya.


Hal ini yang membuatku tidak enak untuk menolak pernikahan ini secara terus terusan di hadapannya.

__ADS_1


Terlebih lagi aku sangat khawatir, jika papa merasa terbebani karena aku menolak pilihannya yang menurutnya dan menurut semua orang sudah yang terbaik.


------


Rumah Sakit Pelita Harapan


Ini adalah rumah sakit yang jaraknya paling dekat dengan kantor papa. Sesampai disana aku langsung menuju ruangan tempat papa dirawat.


"Papa." ucapku sambil membuka pintu aku menahan air mataku agar tidak sampai terjatuh.


Papa terbaring lemah. Aku langsung berlari menghampirinya.


"papa gak apa apa nak, kata dokter cuma kecapek an."


Aku menangis sambil menggenggam tangan papa.


Tak lama dari itu abang Jaehyun datang.


"Papa cuma pingsan, karena kecapek an, gak ada penyakit yang serius kok, jadi kalian gak perlu khawatir."


Mama duduk dikursi samping ranjang papa.


"Kemarin mama bilang, papa itu loh jangan terlalu gila kerja, namanya manusia itu juga ada batas kemampuannya jadi jangan dipaksain, akhirnya jadi beginikan." ujar mama. Dari sorot mata mama terlihat sangat khawatir dan juga nampak kalau mama menahan tengah tangisnya.


"Masa harus nunggu parah baru berhenti gila kerja!" sahut mama


"Yah namanya juga orang keburu buru pa" celotehku.


Papa tersenyum namun tatapannya itu terlihat seperti menahan sesuatu.


"Maafkan papa ya sayang." kata papa. Kemudian ia mengelus kepalaku.


"Alina yang salah, Alina egois dan terlalu mementingkan diri Alina sendiri tanpa berterima kasih sama papa dan mama yang selama ini bersusah payah merawat alina dengan baik."ucapku lirih


"Lagi pula Alina sudah menerima perjodohan ini sepenuhnya." imbuhku.


Entah mengapa semuanya menjadi tersenyum usai mendengar perkataanku.


Ada yang gak beres nih.


"Eh, ma? by the way adek udah tahu gak sih kalau nikahannya di percepat?" ceplos abang


"HA?" sahutku.

__ADS_1


Tuhkan.


"Eh mama belum bilang ya?"


 papa menahan tawanya.


"Cuma akad saja, soalnya neneknya Leonardo mau kembali ke italy dalam waktu dekat ini." kata papa


"p1a? Ma? Abang? Sumpah ini gak lucu deh, dari kemarin ini Alina udah kayak di kejar deadline tahu gak sih? da2n sebenernya ini nikah apa lari, kok terburu buru mulu."


mereka semua tertawa.


Mana bagian yang lucu coba?


Heran aku melihat mereka yang terlihat sangat bahagia itu


"Lebih cepat lebih baik nak." kata mama


"Gak gitu juga sih, ini terlalu cepat tahu ma!" protesku.


"Kan kasihan kalau sampai nenek Leonardo belum lihat pernikahan cucu kesayangannya sayang." imbuh mama.


"Nah iya." bang Jaehyun ikut menyahuti.


Aku menatap kearah papa yang membuat ekspresi yang sama dengan mama dan bang Jaehyun, papa menyetujui perkataan mama sebelumnya.


Aku memang telah menyetujui soal pernikahan ini, but. Tolong bukan kah ini terlalu cepat?


"Iya iya Alina pasti akan menikah! tapi aku mohon jangan secepat ini ma, pa, bang jaehyun!" pintaku.


"Hilih, lo kan yang biasanya halu banyak suami Korea an tuh, giliran dikasih suami di real life gak mau." kata bang jaehyun mencibir.


"Ya iyalah, kan suami yang kali ini bukan pilihan Alina, kalian yang pilih." kataku mengoceh, namun mereka seperti mengabaikanku.


Eh? Sumpah, gue di cuekin.


"Kamu kalo udah lihat calon kamu pasti auto klepek klepek." kata mama.


"Berkali kali lihat malah enek pengen muntah." ujarku sambil begidik ngeri.


"Hus." sahut mama.


"Hilih sok banget lo dek, berkali kali lihat berarti sering curi curi pandang ciyee..."

__ADS_1


"Gak gitu juga kali!" makiku


__ADS_2