Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 13


__ADS_3

"Mana suami kamu sayang?" tanya mama. Aku menaikkan pundakku sekilas


"Loh? suruh makan dulu, panggil gih" ujar mama.


"Ntar kan dia juga pasti turun sendiri mam, masa Alina kudu jemput sih." Jawabku sedikit kesal.


Tak lama mami Leonardo datang, aku langsung pergi mengambil makanan.


Oh tidak, pasti ini akan sangat canggung, dan aku terlalu malas untuk menjawab jika ia bertanya dimana Leonardo dan kenapa kita tidak pergi sarapan bersama- sama.


Dari kejauhan aku memperhatikan mama ku dengan mami nya Leonardo menjadi sangat akrab dengan kurun waktu yang singkat.


"Bae!"


"Astaghfirullah kaget." aku memukul lengannya lumayan kencang.


"Kok aku ditinggalin sih." kata Leonardo.


Tiba tiba saja Leonardo muncul dan berada dibelakangku tanpa aku menyadari kehadirannya.


"Kan tadi gue udah bilang selesai mandi turun, sarapan." kataku.


Aku kembali sibuk mengambili makanan yang ingin aku makan.


"Aku gak ditungguin, kan jadi turun sendirian." dia cemberut.


"Apaan sih? bawel banget." cibirku.


Aku meninggalkannya lalu duduk didekat mama dan yang lainnya


"Aduh cute banget yaa, masih pengantin baru jadi masih malu malu." ujar mami.


Aku hanya membalas dengan senyum yang sangat terpaksa, leonardo dengan semangatnya merangkulkan tangannya dipundakku.


"Duh, Alina kamu jangan terlalu agresif sama suaminya dong, sampai lecet itu dahinya."timpal mama


Kemudian kedua orangtuaku malah tertawa dan berbicara topik yang tentunya kalian pasti tahu mengarah kemana.


"Apa sih ma? Alina gak begitu."elak ku, terlihat dari raut wajah Leonardo yang tengah menahan tertawanya.


aku melepaskan rangkulan Leonardo dengan cukup kasar, dia menatapku lalu tertawa pelan.


"Enggak kok mam, jadi dahi Leon itu-"


"Aku ambilin buah bentar ya sayang." kataku memotong perkataan Leonardo.


Bisa menjadi masalah jika Leonardo mengatakan yang sebenarnya jika aku menendangnya hingga jatuh dari ranjang dan dahinya terbentur meja.


Yang jelas pasti mama akan memarahi dan mengomeliku habis- habisan tanpa ampun


sebelum itu menjadi masalah yang besar, lebih baik aku menyela pembicaraan leonardo. dan sepertinya ini berhasil


"Eh iya boleh." jawab Leonardo, dia tersenyum smirk


kurang ajar'batinku


"Nah gitu dong, yang perhatian sama suaminya." ucap mama.


idih


Apaan?


Perhatian sama suaminya


Mimpi!


Dan pada akhirnya aku sedikit menyesal karena telah membungkam mulut Leonardo dengan embel - embel 'sayang'. dan untung saja Leonardo menjadi luluh dan tidak jadi mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Loh, pada kemana?" tanyaku pada Leonardo, saat hanya mendapati dirinya seorang diri. dan yang lainnya telah pergi.


"Mereka pergi duluan, katanya biar kita breakfast berdua, hehe" jawab Leonardo sambil cengar cengir.


ew!


"Lo gak bilang ke mama kan tentang dahi itu?" kataku sembari meletakkan piring yang berisi buah melon tersebut di hadapannya.


Leonardo menggeleng.

__ADS_1


"Engga kok bae, tenang. btw kamu suka melon?" Leonardo melihati kearah piring buah yang hanya terdapat melon disana.


"Iya, suka banget." jawabku, dia mengangguk angguk. lalu memakannya dengan lahap.


Ini orang kenapa kayak gak pernah makan melon gitu sih? seseneng itu dia makan melon doang.


"Makasih ya udah panggil aku sayang tadi."katanya sambil sedikit tersipu.


Hah?


Baper nih mas nya.


Aku tak menanggapi perkataannya.


"Makasih juga udah ambilin buah buat aku, uh gemas." Leonardo mencubit pipiku.


"Aduh sakit tau lepas." ocehku. Aku memukul lengan Leonardo


"Love you bae." ia tersenyum sambil mengatakannya, aku langsung memalingkan pandanganku.


"Huh."


-------


Aku telah kembali ke kamar hotel bersama Leonardo, dan ia mengatakan kalau kita akan check out hari ini dan langsung pulang ke rumah miliknya.


Usai merapikan barang barangku dan memasukkannya kembali kedalam koper, aku kembali duduk di sofa sambil memainkan ponselku.


Leonardo masih sibuk membereskan barang barangnya yang masih banyak belum ia masukkan kedalam koper. dan dengan sangat baik hatinya, aku tidak ada niatan sama sekali untuk membantunya.


Jahat?


Aku rasa tidak, ini namanya impas.


Anggap saja ini pembalasanku karena dia telah menjahiliku seperti itu hingga terjadilah pernikahan yang tidak pernah aku kira sebelumnya.


Menikah dengan seseorang sepertinya benar benar diluar ekspetasiku, karena sepengetahuanku aku akan menikahi Leonardoni yang ternyata dia hanyalah asisten Leonardo yang juga bersekongkol dengan Leonardo sebelumnya.


Argh!


"Bae!"panggil Leonardo.


"Hmm?" jawabku malas.


"Sini dong, bantuin aku sayang."ujarnya, entah mengapa nada bicaranya berubah, suaranya terdengar sangat lesu dan tidak bersemangat.


Aku menengok kearahnya, sambil menggelengkan kepalaku.


"Gak mau weeek" jawabku sambil menjulurkan lidahku kearahnya.


"Ah jahat kamu nih, tapi untung sayang." dia meringis lalu melanjutkan aktifitasnya.


Aku kembali fokus memainkan ponselku.


brug!


Spontan mataku langsung tertuju pada sumber suara dan melihat Leonardo yang tersungkur di lantai.


dia tidak bergerak sama sekali.


"Woy!." panggilku


"Leonardo!."


Dia masih tetap terdiam diposisinya.


Eh, seriusan gak sih?


Masa dia pingsan? jangan bilang ini gara- gara dahinya yang terbentur tadi pagi?


"Leonardo, jangan nakut-nakutin deh." ujarku sedikit gemetar.


tanpa pikir panjang aku mendekatinya dan berusaha dengan keras untuk membalikkan tubuhnya yang berat itu.


Wajahnya pucat namun sekujur tubuhnya terdapat bercak bercak warna merah samar.


"Lo gak lagi ngerjain gue kan?" aku menepuk pipinya pelan.

__ADS_1


tiba tiba saja badannya berkeringat.


Aku tidak tahu pastinya kenapa Leonardo bisa menjadi seperti ini, tapi yang terpenting adalah aku harus segera menelpon ambulans dan menghubungi keluarganya secepatnya.


------


Jujur saja aku tidak berani menampakkan diriku saat ini. rasanya aku ingin untuk bersembunyi di suatu tempat.


Di dalam ruangan tersebut terdapat keluargaku dan keluarga Leonardo yang tampak sangat mengkhawatirkan keadaan Leonardo.


Untung saja Leonardo sudah terbangun dari pingsannya, aku sedikit lega.


aku merasa tidak berguna, dan tidak dapat melakukan apa- apa, yang ada malah aku membuat masalah pada hidup Leonardo.


"Sayang masuk gih, suamimu loh dari tadi nyariin kamu" kata mami Leonardo


.


"Eh iya mi. alina disini aja." jawabku.


"Gak apa apa ayo masuk dulu." mami merangkul lenganku lalu mengajakku masuk bersamanya.


Leonardo nampak tersenyum saat melihatku, aku hanya menunduk, dia masih terbaring lemah


"Gak usah khawatir gitu ah bae, aku gak apa apa loh." ujar Leonardo berusaha meyakinkanku.


"Dih, ngarep banget." gumamku.


"Leonardo, beneran gak kenapa- napa sayang, dia memang agak bandel, udah dibilang gak boleh makan melon masih aja dimakan." kata mami padaku.


"Loh?" aku membulatkan mataku.


Jadi dia bisa begini, memang gara- gara aku?


"MAM."panggil Leonardo, dia menggeleng dengan wajah serius.


"Ini bukan gara-gara leon makan melon. Leon cuma kecapek an aja." elaknya.


"Alina gak tahu mam, kalau leonardo alergi melon, Alina minta maaf." kataku penuh penyesalan, aku benar- benar merasa bersalah.


"ini bukan salah Alina kok, Leon aja yang bandel." mami malah menyalahkan Leonardo.


what?


"Alina, kamu harus lebih berhati hati lagi dong nak, harus sering komunikasi sama suami, biar gak ada kejadian kayak begini lagi." ujar mama ku menasihatiku.


Aku mengangguk, lalu kembali menunduk.


"Udah ah, Leon udah gak apa apa." Leonardo berusaha meyakinkan kami kembali, dengan wajah yang pucat seperti itu bagaimana bisa dipercaya.


"Bae, sini dong. jangan jauh- jauh." panggil Leonardo, ia menunjuk kearah kursi sebelah ranjang pasien dan memintaku untuk duduk disebelahnya.


Di karenakan ada kehadiran mama dan mami mertuaku aku menjadi tidak dapat menolak permintaan darinya.


Leonardo meraih tanganku lalu menggenggamnya.


Aku sengaja tak mengelak kali ini, karena aku merasa bersalah padanya


Dia membuat gestur agar aku sedikit mendekat kearahnya.


"Bukan salah kamu kok, jangan dengerin kata mami, dia melebih- lebihkan." bisik Leonardo.


"Enggak bisa gitu, seharusnya lo bilang dari awal kalo alergi, kan tetep aja gue yang salah." jawabku ikut berbisik.


"Aku seneng loh, kamu perhatian ke aku, khawatirin aku juga." Leonardo mengusap jemariku yang berada dalam genggamannya seraya tersenyum.


Aduh, manis banget senyumnya.


plak


Alina sadar!


Jangan terbawa suasana.


"Plis gak usah halu" cibirku, dia malah tertawa.


Ini orang gampang banget senyum sama ketawa, gak tahu apa yang disini hatinya lagi gak karuan.

__ADS_1


__ADS_2