
“hey hey, mas udah seger nih, udah wangi juga hehe.” Ucapnya setelah ia menyelesaikan ritual mandinya, dia langsung ikut berbaring dikasur tepat di sebelahku.
“he em.” Jawabku singkat.
“sayang.” Panggilnya.
“hmm” aku melirik karah leonardo sekilas, dia terlihat mempoutkan bibirnya.
“apa sih mas?” ujarku.
Dia hanya menaik turunkan alisnya.
“mas mau..” ia menggantungkan perkataannya.
Aku menatapnya.
Ting!
Aku rasa dia sedang memberiku kode yang telah aku janjikan sebelumnya saat sebelum kita berangkat honeymoon, jadi apa dia akan menagihnya malam ini?
Baiklah.
“mau apaan mas?” ucapku berusaha menerka perkataannya.
“mas mau..”
“mau apa sih? Gak usah bikin alina penasaran gitu dong.” Ocehku.
“aciee penasaran nih dia gais.” Dia malah menggodaku.
“gak usah ngomong, dah males.” Aku langsung bergerak berbaring membelakanginya, sungguh sangat menjengkelkan.
“dih ngambek, hehe.” Kemudan dia merangkulku dari belakang, deru nafasnya yang terdengar tenang itu menerpa di tengkukku.
“mas mau cerita sesuatu bae sama kamu.” Ungkapnya.
“oh.” Aku langsung membalikkan badanku menghadapnya.
Dug!
Secara tak sengaja membuat kepalaku terbentur dengan kepalanya, kemudian kami meringis secara bersamaan.
__ADS_1
“kirain minta jatah toh, ternyata enggak ya sudah lah~” ujarku.
Astaga, what the heck! Mulut lucknut, licinr banget ngomongin masalah jatah, ah bego.
“seriously? Kasih mas jatah hari ini?” matanya terlihat semakin berbinar binar ketika membahas hal ini.
Gini aja semangat, dasar cowok.
“enggak jadi deh, kan hari ini mas mau cerita sesuatu ke alina.” Elakku.
“ah, bae! Gak boleh tahu php in suaminya, dosa.”
“besok besok kan masih bisa, sekarang mas cerita dulu.”
“jatah dulu.”
“cerita dulu.”
“jatah dulu pokoknya.”
“cerita dulu pokoknya.”
“jata-“
“kalo terusan begini malah gak alina kasih.” Ancamku.
“sedari kemarin kemarin alina ngerasa kalau mas pasti lagi sembunyikan sesuatu kan dari aku?” tanyaku lembut sambil memegangi pipinya yang jarak kami terhitung sangat dekat, aku memundurkan kepalanya sedikit menjauh dariku, namun usahaku nihil dia kembali pada posisinya sebelumnya.
Dia mengalihkan pandangannya sejenak.
“sebenarnya ini masalah mas sendiri kok, gak ada hubungannya sama kamu bae.” Tuturnya sambil menggigit bibir atasnya sejenak.
“ssstt.. masalah apapun itu, kecil ataupun besar, mas harus cerita.”
“eh, tapi terserah sih, kalo mas menghargai dan menganggap alina sebagai istri mas, ya pasti mas bakalan cerita apapun masalahnya, begitu juga sebaliknya dengan alina, ada apapun pasti bakal cerita sama mas.” Ocehku.
“ututu, bawel sekali hari ini istri kesayangan mas, oke deh, mulai sekarang mas bakalan cerita apapun.” Ucapnya, aku mengangguk lega.
“jadi, sebenarnya gak ada hubungannya sama kita sih bae, Cuma di perusahaannya mas itu lagi ada masalah, ya udah biasa sih tapi nanti setelah di tanganin kelar deh.” Kata leonardo.
“terus gimana kondisinya sekarang? Kok mas malah ajak alina bulan madu sih.” Protesku
Leonardo meringis sekilas.
“bulanmadu ini udah mas rencanakan dari jauh jauh hari sayang, kalau masalah perusahaan ada bawahan mas yang sigap selesain masalahnya.”
__ADS_1
“beneran?” tanyaku. Dia mengangguk.
“iya sayang, tadi papa juga bilang kita suruh menikmati liburan kita, biar para bapak bapak yang akan membantu mengatasi masalah ini.”
“huft, baguslah kalau begitu, tapi mas gak boleh lepas juga, kudu bantuin mereka.”
“iya sayang.”
“bentar deh alina masih sedikit penasaran, siapa sih yang mas telepon waktu dirumah, kok sampai mas ngungsi ke kolam.”
“haha ngungsi.” Ujarnya.
“mama kamu yang telpon mas waktu itu bae.” Sambungnya.
“jiah, beneran mama?” tanyaku.
Dia mengangguk sangat yakin.
“jahat banget sih, mama telpon kamu tapi enggak ke aku, gak kangen apa sama anaknya.” Kataku lirih.
“ mama cuma titip pesan sama mas, suruh jagain kamu dan tentunya mama request cucu yang lucu.”
“cucu lucu dia bilang, se enaknya aja main request request segala, dikira tinggal beli di warung, bikinnya susah. -_-“ crocosku pelan.
“nah sekarang ayo kita mulai cicil bikin aja dulu, siapa tahu jadi satu gitu bae.”
“aduduh, kok perut alina mendadak jadi mules gini ya..” ujarku beralasan.
Brug!
Leonardo membuat posisiku menjadi terbaring telentang sambil dia menyangga tangannya di samping tubuhku.
Dia menggigit bibir tipisnya lalu menyeringai kearahku.
“ boleh ya? Gak boleh lari lagi untuk kali ini.”
Ah, yang benar saja.. tapi, baiklah.
Aku menjawabnya dengan mengangguk singkat, kemudian dia tersenyum lebar sembari menurunkan tubuhnya dengan perlahan dan mulai mengecup keningku.
Turun ke bibirku,dia menggigit kecil agar dapat membuka akses dan bisa menelusuri lebih dalam.
Semakin turun lagi ke leherku, dan dia juga kembali memberi gigitan kecil disana lalu dia berhenti melakukan aktifitasnya sejenak dan menatapku dalam.
__ADS_1
“you’re mine, i love you istriku.”