
Leonardo menggenggam tanganku sembari menyetir mobilnya sedari tadi ia tak berniat untuk melepaskannya dari awal kita perjalanan pulang dari kampus menuju ke rumah sepertinya Leonardo menunjukkan sisi posesifnya padaku.
Dia juga berulang kali mengulang perkataannya “Kamu gak bakalan ninggalin aku kan bae?”.
Perkataan Leonardo terdengar soft di telingaku, tanpa ia sadari ia terlihat imut jika bertingkah seperti itu, lagipula aku rasa tidak perlu menjawab pertanyaannya berulang kali, toh. Jawabannya sama ‘aku gak bakalan ninggalin kamu mas.’ Jawabku dalam hati.
Hal ini juga termasuk inti dari janji pernikahan yang telah aku tulis di surat yang aku berikan pada Leonardo pada awal kali kita menikah.
Menikah hanya satu kali dalam hidupku.
Senang maupun susah kita hadapi bersama, jadi tidak mungkin lagi aku akan membuka slot untuk laki – laki lain masuk ke dalam kehidupanku, dan aku juga berharap Leonardo tidak akan mengkhianatiku di masa depan.
“Mas, kamu nyetir dulu yang bener ya? Jangan kayak anak kecil ah, Alina gak bakalan tinggalin kamu kok.”
“Janji dulu sama mas.” Ujarnya, aku mengangguk pelan.
“Iya janji ih.” Aku mengamit jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku, lalu mendekatkan tangannya pada bibirku dan menempelkan pada tangannya sekilas, terlihat Leonardo malah seperti tersenyum kegirangan usai aku berperilaku manis kepadanya.
Aku melepaskan tangan Leonardo lalu mengembalikannya ke kemudi agar dia bisa menyetir dengan benar.
Leonardo meringis sambil menatapku. "Udah sana nyetir yang bener, jangan liatin aku mulu! Susah deh jadi orang cantik, selalu jadi pusat perhatian." kataku bermonolog yang kemudian disusul dengan Leonardo yang menahan tawanya.
"Ciee narsis." kata Leonardo dengan nada sedikit mengejek, aku menjulurkan lidahku sekilas.
----------
Sesampai di rumah aku langsung membaringkan badanku di sofa bed yang ada di ruang keluarga, tas ransel yang semulanya aku kenakan sudah aku buang sembarangan dan entah sekarang sudah ada dimana, Leonardo masih memarkirkan mobilnya di garasi, aku menyalakan televisi meskipun tak berniat untuk menontonnnya, karena aku merasa rumah besar ini terasa sepi karena hanya aku dan Leonardo yang tinggal disini.
Tak memerlukan waktu yang lama untuk bisa memejamkan mata, tiba - tiba kantuk pun menyerang seperti angin yang entah dari mana asalnya merayuku untuk terlelap.
"Sayang! es kr-" panggil Leonardo yang menahan perkataannya.
"hm?" jawabku malas.
"mau tidur ya? baskin robbins nya mas masukin ke kulkas ya." ujarnya.
"hm." ujarku singkat, kemudian terdengar derapan langkahnya yang menjauh.
__ADS_1
Leonardo's pov
Dengan sengaja aku mengambil cuti hari ini agar bisa mengantarkan Alina tes, dan telah merencanakan untuk mengajaknya jalan – jalan alias nge date ketika tesnya telah usai.
Aku bangun lebih awal untuk memastikan kebutuhan Alina untuk menjalankan tesnya nanti sudah ada semua di dalam tasnya, ketika aku rasa di dalam tasnya sudah lengkap aku menuju ke dapur dan menyiapkan sandwich untuk ia makan nantinya.
Sembari menunggu Alina yang tengah tes SBMPTN nya aku membuka laptopku dan mengerjakan pekerjaanku di mobil.
Saat bekerja aku selalu hampir lupa waktu dan tak terasa tiba – tiba kedua sesi tes telah berakhir, aku mematikan laptopku dan memasukkan kembali kedalam tas kemudian meletakkannya di kursi penumpang.
Aku keluar dari mobilku dan hendak menelpon Alina, namun samar samar aku mendengar suara khas dari Alina yang memanggilku, aku menerpa pandanganku ke sekitar tapi tak kunjung juga aku menemukannya, karena banyaknya orang yang berlalu lalang.
“Mas!”
Selang beberapa menit aku kembali mendengar suaranya memanggilku, barulah aku melihatnya yang baru saja mengibaskan tangan cowok yang seperti tengah menahannya dengan kasar.
Hal itu mengundang pandangan geram dariku, Alina segera berlari menuju ke arahku dan merangkulkan tangannya di lenganku yang membuatku sedikit mereda, namun pandanganku masih tertuju kepada orang yang dengan beraninya memegang tangan istriku.
Lagi - lagi aku merasa kalau sifat posesifku kembali keluar dan tak tertahankan, rasanya aku ingin menghambur pada istriku dan tak rela untuk melepasnya, terkadang aku merasa takut kalau istriku yang masih berusia 18 tahun itu akan merasa bosan denganku dan meninggalkanku.
namun nyatanya saat aku menatap dalam pada manik matanya membuatku yakin kalau dia tidak akan pernah meninggalkanku.
Alina tertidur dengan lelap saat kita baru saja sampai di rumah, entah mengapa dia membiarkan tvnya menyala, sedangkan yang menonton telah tidur dengan lelap.
Dengan sigap aku menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar kita yang berada di lantai dua kemudian meletakkannya dengan hati hati di ranjang, tak lupa aku menyelimutinya agar dia bisa tidur dengan nyaman.
"makasih mas, Alina ngantuk banget tadi dah gak kuat, hehe." gumamnya dengan matanya yang masih terpejam.
"iya sayang." jawabku, aku mengusap puncak kepalanya sejenak lalu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, namun tanganku merasa sedikit aneh saat menyentuh telinganya.
Aku meletakkan tanganku di dahinya dan mataku langsung terbelak lebar.
"Astaghfirullah ini kenapa bisa panas banget begini, dan kenapa mas baru sadar kalau kamu demam astaga." Racauku.
aku langsung bergegas menuju ke luar kamar.
"Bi erna!" panggilku, tak perlu waktu yang lama asisten rumah tangga yang baru saja aku panggil langsung muncul di hadapanku.
__ADS_1
"Iya pak?" tuturnya.
"Bi tolong belikan kompres demam semacam bye bye fever di toko yang paling dekat ya bi, kalau bisa yang cepet! bilang Leonardoni suruh antar bibi, makasih." Ujarku.
"baiklah, saya pergi sekarang pak." jawabnya kemudian ia langsung bergegas pergi.
Aku kembali ke kamarku dan mengambil kotak p3k yang ada di dalam rak yang ada di meja rias, kemudian mengambil termometer dan meminta Alina untuk menahannya sejenak di mulutnya.
"Tahan bentar ya, mas mau cek suhu badan kamu." kataku pelan, Alina hanya menggeliat sebentar lalu mengangguk lemah.
Sembari menunggu hasil termometernya aku mengambil air putih untuknya.
drrt.. drrt.. drrt..
Aku melihat nama mami yang tertera di sana aku langsung menggeser layarku kearah panel hijau.
"Assalamualaikum." sapa mami dari seberang sana.
"Waalaikumsalam, kenapa mam?" jawabku
"besok mami balik ke Indonesia, eh iya. istri kamu apa udah hamil? Semalam mami mimpi dia jalan gandengan sama anak kecil, kan jadinya kangen sama menantu kesayangan mami hehe."
Aku langsung terdiam sejenak, lalu berpikir.
"Mam, kalo awal - awal kehamilan itu kayak gak enak badan gitu gak sih?" tanyaku.
"Iya, terus di sertai mual - mual."
Tapi Alina kan gak mual, ah mikir apa sih aku! masa iya secepet itu bayinya jadi,hehe.
"Istri kamu hamil?"
"masi-" belum sempat aku menyelesaikan ucapanku namun panggilan itu langsung mati secara sepihak.
tut.. tut..tut
aku melihat ke arah ponselku lalu memasukkan kembali ke saku celanaku.
__ADS_1
jadi apa aku harus beli testpack dari sekarang?