
hiks.. hiks.. hiks..
aku tidak bisa untuk mengontrol emosi ini, bahkan hal ini sangat mengangguku, aku mengarahkan tanganku ke dadaku dan merasakan detak jantungku yang berdetak dengan cepat ini.
"apa harus sesakit ini saat di kecewakan? apa aku sudah sangat mencintai leonardo?" gumamku sambil kembali terisak.
sebelumnya aku sudah pernah berkata kalau pernikahan bukanlah sebuah permainan, dan itu hanya akan terjadi satu kali dalam hidupku. tapi kenapa sekarang aku menjadi goyah saat mengethui leonardo yang tengah bermain di belakangku.
entah kenapa leonardo tidak ada inisiatif untuk memanggilku dan duduk disana bersama untuk menyelesaikan ini semua, dia malah lebih memilih untuk berbicara dengan jennie berdua disana yang membuatku berpikir yang tidak - tidak.
aku memijat pelipisku pelan, kemudian aku berjalan menuju ke sofa lalu duduk disana, menyalakan musik sekeras mungkin agar tak ada yang mendengar suara isakan tangisku ini.
-------
"bae, maaf, nanti mas jelasin ini semua ke kamu, tapi mas harus berangkat kerja sebentar lagi, sekali lagi maafin mas ya sayang." ujar leonardo dari luar.
aku kembali tersenyum tipis mendengar perkataan leonardo
"sudah mau berangkat, tanpa jelasin sedikitpun ke aku? i'm okay" batinku.
Leonardo's pov
__ADS_1
sejak dari semalam aku ingin menjelaskan semua secara detail dengan alina - istriku, tapi dia sudah terlalu termakan oleh emosinya dan memilih untuk mengurung dirinya di kamar tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan yang terjadi semalam.
alina memintaku untuk tidur di kamar lain yang ada di dalam rumah ini, dia bilang dia ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu, aku menuruti permintaannya untuk membiarkannya sendiri agar dia mungkin bisa berpikir lebih jernih besok.
tidak lupa aku pastikan untuk membuat segelas susu hangat yang biasa ia minum sebelum tidur, karena dia tidak berencana untuk membukakan pintu kamar untukku jadi aku meletakkan susu tersebut di depan kamar kami.
tanpa henti aku mengucapkan kata maaf di depan pintu kamar yang terkunci rapat ini berharap dia bisa lebih tenang dan mau membukakan pintu untukku.
sekali lagi maafkan aku sayang, sebagai suami mu aku merasa gagal membuatmu bahagia.
aku memutuskan untuk menunggunya di depan pintu kamar sampai dia membukakan pintu untukku, hingga akhirnya aku tertidur disana, dari awal memang aku tak berniat untuk tidur di kamar tamu seperti yang alina minta tapi aku malah lebih memilih untuk tidur di depan kamar.
drrt.. drrt..
aku langsung mengambil ponselku yang sebelumnya berdetar dan melihat 1 pesan dari bang jaehyun di sana.
bang jaehyun : jagain alina baik - baik bro.
aku menghela nafasku sejenak usai membaca pesan singkat dari bang jaehyun.
leonardo : siap bang!
__ADS_1
aku menekan tombol send lalu mengacak rambutku frustasi.
gimana kalau abangnya sampai tahu semisal adeknya lagi ngurung diri di kamar dan tentunya dia nangis karena kecewa sama gue di dalam sana.
yang jelas pasti bang jaehyun gak bakalan maafin gue kalo kayak begini ceritanya.
------------
saat sudah pagi, dan alina membuka pintu kamarnya aku langsung mendekapnya melihat mata nya yang sudah sangat bengkak semakin menambah rasa bersalahku, aku mencoba meyakinkan alina agar ia mendengar penjelasan dari ku supaya masalah ini segera kelar dan tidak semakin berlarut - larut.
aku memahami perasaannya yang sudah sangat kecewa denganku, bahkan dia menolak saat aku memeluknya dia mendorongku untuk menjauh darinya dan ia tidak berminat untuk menatap ke manik mataku, alina menjaga jaraknya denganku.
dengan segala usaha untuk berusaha meyakinkannya aku akhirnya berhasil membuatnya mau mendengar penjelasan dariku, aku langsung mengajaknya ke sofa dekat kolam renang.
sebelum aku berhasil menjelaskannya dengan baik, malah jennie datang kembali ke rumah ini dengan menangis tersedu sedu.
dan pada akhirnya menambah lagi kesalah pahaman diantara kita.
------------
sabar yak, reader <3
__ADS_1