
Leonardo mendorongku hingga aku terpojokkan di sudut lift, ia menyeringai
Astaga, kenapa lagi dia ini.
“Kamu kangen sama mas ya? Sampai bela belain dateng buat ketemu mas di kantor.” Ujarnya.
Aku memutar bola mataku, lalu mendorongnya agar menjauh dariku.
“Orang mas yang nyuruh Alina kesini kan? Tadi mami yang bilang.”
“Enggak tuh.”
Kan firasatku benar, kalau ada yang tidak beres disini.
“Beneran?” Tanyaku padanya.
Dia mengangguk sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Ya udah, Alina pulang aja kalo gitu, mau belajar dulu.” Aku menekan tombol lift ke lantai dasar.
Leonardo mengurungkannya.
“Jangan pulang deh. Disini aja sama mas, hehe”
Lah?
*
Aku duduk di sofa yang berada di ruangannya, dia kembali ke mejanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
Pandanganku terfokuskan pada amplop besar berwarna baby pink berada di sudut meja yang ada di depan sofa tempat aku duduk, aku melirik kearah leonardo sekilas dan ia terlihat sangat fokus saat ini.
Aku membalikkan amplop itu karena sedari tadi mengganggu pemandanganku, warnanya yang sangat lucu membuatnya begitu catchy di mataku.
Honeymoon trip
Automatis aku mengembalikan amplop itu kepada posisi seperti semula.
‘Honeymoon’?
__ADS_1
Entah mengapa tiba-tiba aku menjadi merasa sangat senang, karena secara diam-diam Leonardo telah menyiapkan ini semua ini tanpa pengetahuanku, apa dia berniat untuk memberiku kejutan?
Tunggu, kenapa aku menjadi begitu percaya diri seperti ini?
“Bae, aku udah order makanan, abis ini kita makan ya?” katanya padaku.
Dia mengambil laptop lalu membawanya dan duduk di sebelahku.
“Iya.” Jawabku singkat.
Srek
Leonardo mengambil amplop yang berada di atas meja dengan cepat, aku melihati kearahnya heran.
Bukankah seharusnya aku menunjukkan rasa ingin tahuku pada amplop yang ia sembunyikan, yah meskipun sebenarnya aku sudah tahu itu.
“Kamu lagi sembunyi in sesuatu ya dari aku?” Tanyaku sok kepo.
Dia menggeleng geleng cepat.
“Aku lupa bae, ini tadi kontrak perusahan client aku, aku cari in kemana – mana eh ternyata disini.” Cicitnya.
“Lucu ya amplop kontraknya warna baby pink, terus disana tertera tulisan honeymoon.” Celetuk ku.
Leonardo memutar posisi dudukku agar aku mengahadap kearahnya.
Aku melihatinya.
“Lah, udah ngintip ya?” Tanyanya
Aku mengangguk sambil membuat gestur peace.
“Mas selalu gagal deh bikin suprise buat kamu, pasti ketahuan duluan.” Ujarnya, dia terlihat murung.
“Apa sih mas, gak usah sampai galau segala gitu ah.” Omelku
“Tium dulu dong bae, biar mas gak galau.”Pintanya manja.
“Mas merem dulu!” Perintahku.
__ADS_1
Ia tersenyum lebar tampak sangat antusias dan matanya terlihat berbinar binar kegirangan.
Dia memejamkan matanya lalu sedikit mencondongkan badannya kearahku, bibirnya sedikit ia majukan.
Aku menahan tawaku tak kuasa melihat wajah polos Leonardo yang mudah sekali aku tipu ini.
Aku mengambil spidol permanen berada di dalam kotak pensil yang terletak di tengah meja ini.
Aku membukanya dengan hati hati dan pelan agar tidak menimbulkan suara apapun.
Aku menyeringai pelan, lalu mulai aku mencoret bibirnya gambar silang yang cukup besar.
Dia membuka matanya lalu melihat kearahku kesal.
“Awas kamu ya bae! Tunggu hukuman dari aku.”ucapnya dia membuka matanya kemudian mengerucutkan mulutnya seperti bebek.
Aku menjulurkan lidahku kearahnya lalu menertawakan kebodohannya, dia melihatiku yang tengah tertawa lalu dia tersenyum smirk kearahku.
Spontan aku berhenti tertawa dan mulai sedikit merinding melihat Leonardo yang tiba- tiba mengubah ekspresinya seperti itu.
Dia menarikku dan membawaku kepelukannya lalu dia mendekatkan mulutnya ke telingaku.
"Istriku berani jahil rupanya, bikin mas jadi gemas." Ucapnya kemudian ia sedikit meniup telingaku membuatnya terasa sangat geli dan dapat aku rasakan hatiku berdesir.
Leonardo menatapku sangat dalam
Oh god please! kenapa suamiku terlihat lebih tampan saat ini?
Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya lalu mulai menciumiku begitu dalam dan lembut.
I'm dying.
Damn!
Tubuh laknatku ini sama sekali tidak memberi penolakan dari sentuhan dari Leonardo, alih alih malah aku mengalungkan kedua tanganku ke pundaknya yang membuatnya malah semakin memperdalam ciumannya.
Aku mendorongnya pelan. "Mas ingat ini lagi di kantor, jangan gini!" Peringatku padanya.
dia tersenyum.
__ADS_1
"Dikit lagi bae, tanggung." Jawabnya singkat kemudian ia melanjutkan kembali aktifitasnya.