Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 59


__ADS_3

Báilame como si fuera la última vez


Y enséñame ese pasito que no sé


Un besito bien suavecito, bebé


Taki taki


Taki taki, rumba


“mas udah dong zumbanya, mau pingsan nih rasanya.” Tak tahu lagi sudah, badan leonardo itu terbuat dari apa, karena sedari tadi dia masih tetap semangat untuk zumba sedangkan aku sudah merasa badanku kram dan tak sanggup lagi banyak bergerak.


“baru 4 lagu kok udah capek sih?” kata leonardo mengejekku.


“ya kamu kasih gerakan yang gampang kek ke aku, dari awal tadi malah kasih yang loncat loncat melulu.” Racau ku padanya, leonardo hanya terkekeh mendengar cicitan dari ku.


Masa bodo sudah dengan zumba, aku langsung duduk gelesotan dilantai sambil menyandarkan punggungku di ranjang.


Kalau saja lagu zumba yang di putar oleh leonardo lagu boyband atau pun girlband korea ke sukaanku, mungkin aku masih menyanggupi untuk zumba berapa ronde pun, tapi nyatanya sedari tadi leonardo malah memutar lagu yang sama sekali tidak ada unsur koreanya sama sekali.


Dia hanya menutar lagu yang lirik lagunya adalah bahasa spanyol, ya memang beat dari lagu spanyol – spanyol itu sangat pas dengan gerakan zumba, tapi karena itu aku menjadi kurang semangat jika tidak ada unsur oppa disana.


Leonardo hanya melirik ku sekilas kemudian kembali lagi menari nari di hadapan ku, aku menetapkan pandanganku untuk menatapnya dengan heran karena dia masih terlihat sangat semangat untuk zumba sedari tadi yang pada awalnya dia lah yang menyuruhku untuk olahraga malah jadi dia yang tidak bisa berhenti.


“ zumba aja terus sana, alina mau bobo.” Ujarku, sembari berjalan menuju walk in closet untuk mengambil baju tidurku disana.


“eh dah mau tidur? Masih jam 8 malem loh yang.” Pekik leonardo, nampaknya dia juga mulai jengah dan mematikan televisi tersebut sebelum pada akhirnya ikut menyusulku ke walk in closet untuk berganti pakaian.


“ kalau dah ngantuk itu gak liat jam mas, ngantuk ya tidur.” Ucapku kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut usai mendapat baju yang ingin aku pakai untuk tidur.


“jangan lupa sikat gigi, cuci muka , tangan, sama kaki sebelum tidur ya.” sambungku.


“iya, tapi jangan tinggal mas tidur duluan yaa, tungguin hiks.” Jawabnya. Aku hanya mengedikkan bahuku.


“ho oh.”


-----


Leonardo’s pov


Ku rasa tadi aku terlalu semangat untuk mengajak alina- istri kesayanganku itu untuk senam zumba hingga tanpa sadar aku yang malah tetap semangat untuk zumba sedangkan alina sudah kelelahan dan duduk berselonjoran di lantai.


 


 


“ bae?” panggilku sembari berjalan keluar dari kamar mandi, usai melakukan rutinitas sebelum tidur seperti yang alina katakan padaku sebelumnya.

__ADS_1


Alhasil nihil, alina tidak menjawab panggilan dariku, dia sudah tidur terlebih dahulu, badan mungilnya itu terlihat sangat lucu saat meringkuk diatas ranjang, membuatku ingin segera menghambur padanya dan mendekapnya lalu tidur dengan nyaman.


Aku menaiki ranjang dengan sangat hati – hati dan perlahan karena takut alina akan terbangun saat menyadari kehadiranku, dengan gerakan perlahan aku menggiringnya dan memmbawanya kedalam pelukanku, aku mencium keningnya sekilas.


“night kesayangan.” Bisikku disela aku mengecup singkat keningnya.


“hm” gumamnya, aku melirik kearahnya yang masih tetap memejamkan matanya, kuarasa dia samar – samar masih mendengar perkataanku.


“tadi alina bikin susu hangat, jangan lupa di minum ya mas.” Gumamnya sekali lagi.


Gemas adalah kata yang tepat untuk mewakili perasaan yang tengah aku rasakan saat ini.


Menikahi gadis yang baru saja lulus SMA dan juga tentunya lebih muda daripada aku adalah sebuah tantangan yang menarik, apalagi gadis yang aku nikahi ini seperti alina.


Yang sebelumnya aku pikir akan memerlukan waktu yang lama untuk menaklukannya, tapi ternyata dengan perlahan proses penaklukan istriku ini menurutku tak terasa lama, apalagi aku malah menikmati setiap momen kebersamaanku dengannya.


Dengan perlahan aku melepaskan tanganku yang mendekap alina dengan posesif lalu menggeser badanku sedikit ke tepi ranjang untuk meminum susu hangat yang alina buatkan untukku sebelumnya, dalam beberapa detik saja aku langsung meminumnya hingga habis dan meletakkan kembali gelas tersebut diatas nakas, lalu aku kembali pada posisiku yang sebelumnya.


 


 


“makasih sayang.” Ujarku sambil berbisik dan mendekapnya kembali ke pelukanku, tak ada lagi jawaban dari alina, karena memang sepertinya dia sudah benar benar terlelap saat ini.


Usai hampir seharian berada di rumah orang tuanya, dan sepulang nya aku langsung mengajaknya untuk zumba pasti dia sangat kelelahan.


 


 


HUJAN turun dengan cukup deras membuat langit yang seharusnya cerah akan mentari pagi tersipu malu untuk memancarkan sinarnya.


Setelah sholat subuh berjamaah dengan alina kita pun memutuskan untuk kembali berlindung di balik selimut karena hawa dinginnya merayu untuk kembali untuk meringkuk di atas kasur.


Jam sudah menujukkan pukul 8 pagi, langit mendungnya menyamarkan waktu yang membuatnya terasa masih pukul 6 pagi, alina masih tidur dengan lelap di pelukanku, sengaja aku tak berniat untuk membangunkannya hanya untuk melihat wajah manisnya yang tengah tidur itu.


Thank god it’s Saturday aku senang mengetahui kalau hari ini adalah hari sabtu, karena aku bisa menghabiskan waktuku dengan istriku sepenuhnya karena sudah masuk weekend.


Kalau di lihat – lihat ini adalah waktu yang tepat untukku dengan istriku untuk bermesraan, apalagi suasana dingin dan gemericik suara hujan ini menambah kesan romantis di pagi hari ini.


Perlu di garis bawahi kata romantis yang baru saja aku ucapkan bukan hanya menjurus ke hubungan ranjang, bisa juga dengan sekedar menonton film dengan berpelukan dengan istriku di tambah lagi dengan balutan selimut dan memberinya kecupan kecil agar dia tidak kedinginan juga termasuk kata romantis dalam otakku.


“bae, minum cokelat panas ya? mas bikinin.” Ucapku pelan tepat di telinganya, dia sedikit mengerjap dan mulai merenggangkan badannya.


“kalo hujan – hujan begini enaknya teh anget sama bakso keliling aja mas.” Jawabnya sambil mengucek kedua matanya, ia duduk lalu melihat ke arah luar.


Seleranya dia gak pernah muluk – muluk minta makanan yang mewah, asal pas di lidah saja dia sudah senang. Batinku, aku tersenyum tipis menatapnya.

__ADS_1


“masih hujan ya, jadi ngantuk.” Dia kembali menghempaskan badannya di ranjang lalu merapatkan kembali selimutnya.


Aku berhenti beranjak dari ranjang karena tangan mungil alina menahan lenganku untuk tetap berada disana.


“sebentar.” Ujarnya sambil bergerak malas.


“good morning.” Sambungnya sambil mengecup sekilas pipi kananku tepatnya hampir menyentuh bibirku.


Hampir.


”good morning sayang.” Kataku sambil membalas kecupan sekilasnya di bibir merah mudanya yang terasa lembut saat menerpa bibirku.


Aku mengembalikannya ke posisinya yang sebelumnya dan membenahkan selimutnya kembali.


-----


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2