
“ cara jalan kamu kok jadi aneh gini sih bae?” ledek leonardo kemudian di susul dengan gelak tawanya, sontak aku menatapnya dengan tatapan yang amat tajam seolah ingin segera baku hantam dengannya.
Aku juga tidak akan menyangka jika cara jalanku akan berubah usai melakukan ‘itu’ dengannya, terlebih lagi aku pun tidak tahu kami melakukannya berapa ronde yang jelas banyak ronde sampai - sampai membuatku kesulitan untuk berjalan seperti biasa.
Aww!’ rintihku pelan saat berjalan untuk mengambil air putih yang di letakkan di nakas, aku meringis saat merasakan perih dan nyeri di bagaian bawah sana.
Leonardo hanya melirikku sekilas, ia terlihat cemas namun aku juga melihat ada raut wajah yang menunjukkan kalau dia sedang menahan tawanya.
“sakit banget ya sayang? Mas gendong mau?” ucap leonardo, tapi sambil menyeringai aneh.
Njir, serem.
“gak usah di tanya lagi sakit atau enggaknya, kamu pikir coba kira – kira ini sakit gara – gara siapa yang ngegas berapa ronde kemarin! Huh, gak usah sok mau gendong gendong segala, geli!” Crocosku, dia malah tertawa.
“ya meskipun kemaren mas nge gas ber ronde - ronde, toh kamu juga ke enakan kan? Sampai merem melek begitu, belum lagi liat nih punggung mas banyak maha karya cakaran kamu tuh.” Dia malah ikutan mengoceh sambil menunjukkan punggungnya yang sudah banyak sekali goresan akibat cakaran dahsyat dariku.
“yeuh, mas kok jadi ikutan ngomel sih.” cibirku
Aku menutup wajahku dengan satu tanganku.
Ah, malu banget! Kenapa gue jadi ganas begitu?pake acara cakar – cakar leonardo lagi! udah macam harimau.
“ya, kan itu gerak reflek yang alina lakuin secara gak sadar.” Ujarku menyangkal perkataannya.
“it’s okay, jadi gimana nih, masa kamu mau ke bandara buat antar mama sambil jalan begitu, apa perlu mas beli kursi roda buat kamu?” aku menjitak kepalaku pelan.
“ mas yang bener aja sih, masa aku naik kursi roda? Apa kata mama ntar.” Cicitku.
Yang benar saja, masa dia ingin aku untuk naik kursi roda saat mengantar mama ke bandara untuk pergi berobat ke singapura, mending aku berjalan saja sambil menahan rasa nyeri di bagian sana.
“alina jalan aja, udah mendingan kok.” Imbuhku, aku berjalan dengan perlahan dan sedikit tertatih.
“aduh, gak tega nih mas liatnya.” Ujarnya.
coba bilang sekali lagi sini gak tega! Orang dia yang udah bikin aku jadi begini.
“jeh, pake acara gak tega segala, orang kamu yang bikin alina begini loh! Udah ah, alina mau mandi dulu, abis gitu siap – siap buat ke bandara.”
“eh, mandi bareng dong bae, biar cepet!” seru nya dengan penuh semangat, leonardo melepas piyamanya.
“NO!” pekikku dengan suara lantang.
“mandi sendiri sana! Kamu ih tega banget mas sama aku, masih perih nih.” Sambungku.
__ADS_1
Dia menundukkan kepalanya langsung terlihat lesu.
“ya kan cuma mandi bareng doang.” Katanya dengan nada lesu.
“mandi doang, tapi ntar kalo liat aku naked aja langsung khilaf lagi.” kritikku, aku melengos pergi menuju ke kamar mandi.
“um, ya kalo itu gak tahu lagi, hehe.” Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Hehe mamak kau!' gumamku pelan
---------
At airport
“sudah antar sampai di sini saja, mama sama papa masuk dulu.” Ucap mama, aku mencium punggung tangannya lalu memeluk mama lalu berlanjut ke papa.
“lekas sembuh ya mamaku, pokoknya mama gak boleh banyak pikiran dan terus berdoa biar cepat sembuh.” Kataku, mama mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum kearahku.
Papa membetulkan turban mama yang menutupi kepalanya itu sedikit miring, setelah itu papa merangkul mama.
“ papa titip alina ya leon, jagain itu anak papa yang garang itu.” Kata papa sebelum pergi, aku memanyunkan bibirku mendengar perkataan papa.
“iya pa, tenang aja kalau urusan itu.” Leonardo tersenyum kemudian menyium tangan papa dan mama.
Aku melambaikan tanganku kepada kedua orang tuaku, lalu menunggu hingga mereka berdua menghilang dari pandanganku, leonardo senantiasa merangkulkan tangannya di pundakku sambil ikutan melambaikan tangannya.
“aw, ampuun!” rintih leonardo sambil menjauhkan tanganku yang mencubitnya lalu dia menggenggam tanganku.
“aku tahan tahu! Biar gak ketahuan sama mama papa, kan aku malu mas.” Ujarku.
“ututu, sakit ya sayang? Beli ice cream yuk biar gak kerasa sakit.” Ajak leonardo yang kemudian disambut oleh anggukan penuh semangat dariku.
------
Leonardo mengajakku untuk mampir ke baskin robbins dan memesankan es krim varian oreo cheesecake untukku, aku duduk manis selagi menunggu dia kembali.
Tak lama kemudian dia datang dengan membawa es krim tersebut di tangannya, dia berjalan menuju ke arahku duduk.
“tadi mas gak liat bang jaehyun kemana bae?” tanya leonardo sambil meletakkan es krim tersebut di depanku.
“bang jaehyun ada urusan di kampusnya, jadi tadi dia pamit dari rumah duluan.” Ujarku sambil mulai memakan es krimku, leonardo juga mulai memakan es krimnya.
“oh, pantesan kok gak keliatan. Eh bae, nonton yuk udah lama nih kita gak ngedate.” Aku melirik kearahnya sekilas.
__ADS_1
“boleh sih, tapi cara jalan alina masih agak aneh nih mas.” Keluhku, dia meringis lalu mengusap rambutku.
“orang gak bakal sadar kok, mungkin mereka pikir kaki kamu lagi sakit.” Jawabnya.
“eh iya juga ya, ya udah yuk.” Seruku.
“abisin dulu gih ice creamnya, abis gitu kita langsung ke bioskop.” Kata leonardo, aku melahap es krimku dengan cepat.
Leonardo mengambil tissue yang ada di waist bag yang ia kenakan lalu mengelapkannya di sekitar bibirku.
“ish kalo makan belepotan! kek anak kecil.” Cibirnya, aku menjulurkan lidahku kearahnya.
“julurin lidah kamu sekali lagi aku sun di tempat.” Ancamnya, aku langsung berhenti menjulurkan lidahku kepadanya daripada nanti dia malah menciumku di depan umum.
“ iya – iya enggak lagi, huh.” Ucapku, leonardo tersenyum lalu mengambil ponselnya.
“mau nonton apa nih, Shaun the sheep?” ujarnya. Aku memukul lengan leonardo pelan lalu tertawa.
“apaan dih, yang bener ah mas, masa ke bioskop nonton shaun the sheep sih, yang lain ah.” Sahutku, dia malah ikutan tertawa.
“i have no idea mau nonton apa?” ucap nya.
“ apapun deh, asal yang bagus tapi jangan kayak shaun the sheep juga, huaa.” Ujarku.
“oke deh, genrenya bebas ya?” aku mengangguk menyetujui perkataannya.
“dah, mas udah pesan setelah ice creamnya abis, kita langsung berangkat, oke?” kata leonardo.
“okee bosku.” Jawabku.
-----------
Sesampai di bioskop, leonardo berjalan dengan menggenggam tanganku erat seolah tak ingin melepaskannya kita langsung berjalan menuju ke tempat mencetak tiket yang telah kita beli secara online.
“jadi nonton apa mas?” tanyaku pada leonardo masih sibuk mencetak tiket.
“mas lupa judulnya, pokoknya tadi horror.”
Mampus! Mana gue paling enggak bisa nonton film yang genre horor atau action.
“oh.” Jawabku singkat.
“kenapa?” tanyanya, aku hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis kearahnya.
__ADS_1