
Leonardo's pov
Malam yang cukup panjang, mengingat perdebatan kecil antara aku dengan Alina- istriku, semalam membuatku sangat gemas kepadanya, aku ingin segera memilikinya seutuhnya.
Sabar Leonardo, semua butuh proses.
Aku tersenyum bahagia saat terbangun di pagi hari melihat tangan mungil alina yang melingkar di atas perutku seperti sedang memeluk guling. aku mengecup dahinya sekilas.
"Good morning bae!" bisikku pelan.
Tak ada jawaban darinya, alina masih tidur dengan lelap. mungkin ia kelelahan setelah hampir begadang.
Alina sendiri yang berkata tidak ingin tidur se ranjang denganku lalu ia memiliki niatan untuk begadang agar aku tidak melakukan hal yang aneh kepadanya.
See? begitu menggemaskan, dia yang membuat keputusan itu tetapi dia malah tertidur dalam waktu kurang dari 30 menit, usai mendengar suara handphone yang terjatuh ke lantai aku spontan menoleh ke sofa tempat alina berada dan dia sudah tertidur dengan pulas, aku menghampiri alina lalu memanggilnya pelan.
"Bae."
"Istriku."
Tidak ada pergerakan sama sekali darinya, aku langsung menggendong dan membawanya ke ranjang tanpa sepengetahuanya.
Aku mengeratkan pelukanku lalu meletakkankan daguku pada puncak kepala Alina.
Alina mulai bergerak dan nampaknya dia akan segera bangun dari tidurnya.
Tidak tahu lagi apa yang akan alina lakukan padaku, aku sudah pasrah.
"Oh my god oh my god, gak bisa begini sumpah gak bisa." gumam an Alina terdengar olehku.
Aku memejamkan mataku agar alina tidak mengetahui kalau sebenarnya aku telah bangun terlebih dahulu sebelum dia.
Alina mendorongku dengan kasar sehingga membuatku terjatuh dari ranjang dan dahiku terbentur dengan meja disamping ranjang.
"Aw!" ucapku spontan. Gila, sadis banget istriku. ragu nih bisa dapat jatah apa enggak dari dia, kalau dia nya seganas ini.
"Bae? kenapa kok aku ditendang sih?" tanyaku sambil memegangi dahiku yang terasa sakit.
"Lo ngapain main peluk aja sih, semalem kan gue di sofa, kenapa bisa seranjang sama lo"
"Kamu tidur sambil jalan kali." bohongku, Alina terdiam sejenak.
"Enggak mungkin." elaknya.
Alina membelakkan matanya sambil menatapku.
"I-itu" dia menunjuk kearahku.
Aku memandangnya heran, lalu menaikkan alisku sejenak.
"Kenapa?" tanyaku heran.
Alina bergerak sedikit mendekat kearahku lalu menunjuk kearah dahiku.
"Berdarah" kata alina sambil memasang tampang sedikit ketakutan.
Aku mengusapkan jariku kedahi lalu melihat memang terdapat darah disana, aku langsung ber akting seperti orang yang sangat kesakitan.
"Pusing banget bae" ujarku, padahal sebenarnya tidak
__ADS_1
Alina menutup mulutnya dengan jemarinya.
"Aduh gue harus gimana? gara gara gue tendang tadi ya?" dia terlihat sangat kebingungan.
aku mengangguk dengan semangat.
lah? kok jadi semangat begini sih.
"Om my lord! sumpah tadi gue gak sengaja, kek spontan gitu. it's unnecessary sekarang yang jelas kita harus cepet kasih pertologan pertama dulu, biar darahnya berhenti." katanya.
Dia terlihat kebingungan dan seperti sedang mencari sesuatu.
"Bae!" panggilku, dia menoleh.
"Bentar aku mau cari tissue dulu." ucapnya.
"Ada disini." seruku dia langsung menghampiriku.
Aku menarik tangannya dengan cepat lalu membuatnya terduduk di atas pangkuanku.
"Kasih morning kiss, langsung sembuh." kataku sambil menatap manik matanya yang sangat cantik
Dia tertegun sejenak, tampak tak bisa berkata-kata dan membuat ekspresi yang tak dapat ku tebak.
aku mendekatkan wajahku pada wajahnya dan hampir menghapus ruang diantara kita
Namun
plak!
Ah sial,.
Aku kena tampol.
"Yailah bae, morning kiss doang kok malah ditampol sih."keluhku
"Gak usah mesum! kamu itu halu banget pengen dapet morning kiss, mana bau jigong lagi! sana jauh jauh. bodo amat sama luka lo di dahi." kemudian Alina berdiri dan meninggalkanku yang masih duduk di lantai.
Alina's pov
Astaga naga!
Sepertinya ada yang salah dengan diriku.
Kenapa jantungku terasa sedang lari marathon! aku gugup? karena leonardo?
Mustahil
Aku tidak boleh semudah itu terperangkap rayuan kecil darinya.
Ya meskipun sebenarnya roti sobeknya yang terlihat sangat menggoda itu cukup menggoyahkan imanku.
Ah tapi lupakan.
Tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tapi ketika aku terbangun dari tidurku aku sudah berada di atas ranjang yang sama dengan Leonardo.
"Oh my god oh my god, gak bisa begini sumpah gak bisa." gumamku.
Cepat cepat aku melepas tanganku yang bisa bisa nya melingkar dengan indahnya di atas perut Leonardo.
__ADS_1
Secara spontan aku menendang Leonardo cukup keras lalu hingga dia terjatuh dari ranjang.
"Aw!" serunya, dan akhirnya itulah yang terjadi sebelum aku hampir tersulut api kebaperan karena leonardo, wajahnya yang tiba tiba sangat dekat dengan wajahku membuatku sangat gugup dan keringat dingin.
tok..tok..tok
"Bae kamu gak apa apa kan?" tanya Leonardo sambil terus mengetuk pintu kamar mandi.
"Berisik ah." jawabku.
"Kamu udah hampir 2 jam di dalem sana aku takut kamu pingsan." ujarnya.
"Bawel bener." kataku sambil membuka pintu kamar mandi,
aku sedikit terkejut saat melihatnya berdiri didepan pintu dengan keadaan rambut yang acak acakan dengan keadaan shirtless.
Aku menutup mataku lalu berjalan melewatinya.
"Masuk angin mampus pamer badan mulu." hujatku.
Ya tuhan, kenapa sih mulut ini licin banget kalau nyiyir. gini deh susahnya jadi netijen.
"Bagus ya badanku bae." ujarnya dia berjalan mendekat kearahku.
"Uh, istriku udah harum jadi pengen kelonan aja hehe." katanya jaraknya terasa sangat dekat denganku.
"Sana lo bau jigong." makiku.
"Ah masa." Leonardo menghentikan langkahnya.
"Mandi dulu deh, biar wangi kayak istriku." sambungnya bermonolog.
"Bodoamat bazeng" gumamku.
Aku membuka ponselku dan melihat banyak pesan masuk yang belum sempat aku baca.
Abang Jahe: Dek
Abang Jahe: Adek gue terbenci.
Abang jahe: Mentang mentang pengantin baru, betah banget dikamar. suami lo suruh sarapan dulu gih ditunggu mama sama mama mertua lo tuh."
Alina: bct kzl
Samar samar aku mendengar suara Leonardo yang sepertinya tengah bernyanyi didalam kamar mandi.
Aku menghela nafasku, kenapa dia bisa sesantai itu sih?
Sepertinya dia telah berpengalaman menangani gadis- gadis lain sehingga dia tidak merasa canggung atau pun gugup saat berhadapan denganku.
Apa yang telah aku pikirkan?
Sepertinya memang benar jika ada yang tidak beres dengan otakku.
Aku berjalan menuju ke depan pintu kamar mandi.
"WOY! SELESE MANDI LANGSUNG TURUN SARAPAN, DITUNGGUIN MAMA." teriakku dari luar pintu kamar mandi.
"APAA BAE? AKU GAK KEDENGERAN." dia malah ikutan berteriak dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Masa bodo dia kedengeran atau enggak yang penting aku sudah memberitahunya, aku beranjak keluar dari kamar hotel.