Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 2


__ADS_3

Aku sudah berencana untuk kabur sejenak karena memang aku tidak mau menemui rekan kerja papa yang dijodohkan denganku.


Dari awal memang rencana kaburku sudah dipermudah oleh Yang Maha Kuasa, aku tersenyum cerah saat melihat ke arah pintu belakang terbuka dengan lebar, dan nasib baik aku juga memiliki kunci untuk membuka gerbang belakang.


Tidak lupa sebelum aku pergi jogging aku menuliskan memo yang aku tempel didepan pintu kamarku.


'Ma, tenang ya.. jangan marah dulu, Alina gak kabur kemana-mana kok cuma pengen ke taman aja hehe'


Aku bergegas keluar dengan cara mengendap-endap dan usaha kecilku ternyata sangat membuahkan hasil, aku berhasil kabur dari rumah.


Dimulai dari lari kecil hingga sampai ke taman. Di hari sabtu seperti ini wajar saja banyak yang datang sekedar hanya menghirup udara segar atau mungkin saja ada yang sama sepertiku? Lari dari masalah.


Setelah membeli Sprite aku mencari tempat duduk yang kosong.


"Tidak baik loh untuk kesehatan minum yang bersoda sehabis jogging." kata seseorang


sontak aku langsung menoleh ke sumber suara, lalu aku mengacuhkannya.


"Nih minum." dia memberiku air mineral.


"Gak usah, terimakasih" jawabku.


"Udah ambil aja, sekalian biar bisa kenalan hehe."


"Dih, modus lo. Untung cakep." dia tertawa.


"Well, gue Leo."dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Aku membalas salamannya


"Alina"jawabku singkat.


"Keliatan kayak lagi suntuk banget sih lo, muka kusut amat" ledeknya.


"Haha, keliatan banget ya?" dia langsung mengangguk.


"Gak tahu apa yang gue rasain, tapi yang jelas gue pengen lari dari masalah ini." ucapku spontan.


"Ya elah, kalau yang namanya masalah itu di hadapin, biar cepet kelarnya. kalau lo lari bukannya malah kelar, yang ada malah bertambah."


" Iya juga sih, ya sudah lah gue mau pulang aja, mungkin nyokap khawatir, gue kabur dari calon suami gue."


"Baru mau pdkt, ternyata udah di booking orang, sad amat hidup gue."

__ADS_1


"Lo mah kalo mau cari cewek gampang, tampang lo keliatan kok doyan tebar pesona" ledekku


"Astaghfirullah, kagak!"


"Kagak salah lagi kan?" ucapku menimpali.


"Sudahlah, gue balik dulu ya"sambungku kemudian beranjak pergi.


"Nice to see ya Alina." kata Leon.


Aku mengangguk.


Se sampai dirumah aku melihat masih ada 3 pasang sepatu yang berjejer di teras rumah,


tidak salah lagi, sepertinya rekan papa belum pulang. yang harus aku lakukan adalah menghadapi masalah ini. Aku harus jadi dewasa dan tegas.


"Alina pulang" kataku saat masuk ke ruang tamu.


"Alina, sini duduk sini nak." kata mama.


aku langsung duduk disamping mama.


"Kenalkan ini Leonardo calon-"


"Stop ma, aku gak mau dengerin kata itu dulu, aku masih belum siap."


Lelaki berkumis lumayan tebal dengan perut yang menyembul dari balik setelan jasnya.


Ini bukan lelucon kan?


Jadi dia rekan kerja papa? benar-benar sesuai dengan ekspetasiku. Tua, berkumis, dan perut buncit.


Makin tidak rela aku untuk menghadapi kenyataan pahit untuk masa depanku kelak ini.


sebenarnya kenapa papa menjadi seperti ini? Memaksaku menikah dengan pria yang sama sekali bukan kriteria idamanku.


lalu, bagaimana dengan angan-anganku yang ingin menikah dengan oppa Koreaku.


Bagaimana kalau Sehun marah aku menjadi istri orang lain.


"Ma, Alina balik kekamar dulu."pamitku, namun tanganku ditarik dan menyuruhku untuk duduk kembali, lalu mama melirik kearahku tajam.


Aku berdiri lagi lalu sambil memegang perutku.

__ADS_1


"Bentar deh ma, perut Alina pusing"


"Lah mulai gak bener ini anaknya" ledek bang Jaehyun.


tak memperdulikan apa kata abangku yang paling ngeselin sedunia itu aku tetap beranjak pergi dari ruang tamu, dan segera berlari menuju ke kamarku dan menguncinya rapat.


Aku duduk di balkon sambil melihat pemandangan taman samping rumahku, dan melihat terdapat mobil sport berwarna hitam bertengger disana dan juga ada 1 mobil SUV yang berada di belakangnya.


'Cih, kayak begini saja pake di kawal'


Ya ampun aku masih tidak dapat membayangkan masa mudaku akan di habiskan dengan om-om itu?


Bukannya hanya menilai seseorang itu dari fisiknya saja, namun bagaimana jika kalian berada pada posisi yang sama denganku, dipaksa menikah di usia kalian yang baru saja lulus SMA dengan laki - laki yang kalian tidak tahu sebelumnya dan juga usia yang terpaut jauh dari usia kalian satu lagi, pernikahan ini adalah pernikahan bisnis.


Pernikahan adalah peristiwa yang sakral, dan hanya akan terjadi 1 kali dalam hidupku. Itu adalah prinsip dalam hidupku


Tapi entahlah untuk sekarang, aku ragu jika aku bisa tetap untuk berpegang teguh dengan prinsipku itu, karena selain aku tidak bisa menolak permintaan papa yang katanya adalah permintaan terakhirnya ini jadi mau tak mau berjalannya waktu pasti aku harus menerimanya.


Melihat kearah birunya langit dan putihnya awan yang seperti gula kapas itu membuatku kembali berpikir tenang.


"Maaf ya nak Leonardo." samar aku mendengar perkataan mama dari teras


'Holy shit' umpatku, aku segera masuk kembali ke kamarku, kemudian aku mendengar suara 2 mobil yang sepertinya pergi dari halaman rumahku.


Akhirnya dia pergi juga.


Aku keluar dari kamarku dan segera menuju ke ruang makan mencari sesuatu yang bisa di makan.


"Akhirnya muncul juga, calon mempelai wanitanya." goda abang Jaehyun.


"aduh, apa - apaan sih bang! siapa juga yang mau kawin sama dia" aku menjulurkan lidah kearahnya.


"Seriusan dek, adek ipar cocok banget buat kamu, tampangnya juga lumayan, gak jelek-jelek amat kan."


"Adek ipar? Makmu kiper, abang nih kok jadi ikutan sama mama sih, dia kan bukan seleraku."


"Ya kali, masa dia harus jadi Indomie dulu baru jadi selera lo dek"


"Udah ah, **** + bekicot" ucapku


"apa dah?"


"Bacot" ujarku lalu aku beranjak pergi sambil mencomot 3 slice pizza yang berada di meja makan.

__ADS_1


"Oh iya dek, minggu depan calon kamu mau datang lagi, dia mau main game fortnite bareng abang"pekik abang


"Bodo amat" jawabku kesal


__ADS_2