
“kak Jennie? Kok lo kenal sama dia lin.” Gavin seperti terkejut saat aku menanyakan tentang Jennie, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan wanita yang bernama Jennie itu.
berarti memang dia mengenal dengan baik wanita bernama Jennie itu.
"um, dari kemarin dia datang kesini sambil nangis gitu, ya dari pada gue takutnya ganggu ya kan jadi gue pergi ninggalin mereka siapa tahu mereka ada masalah yang harus mereka selesain." kataku pada Gavin.
"seriusan? Ngapain dia balik ke Indonesia ya, padahal kayaknya dia udah tenang di australia. " tanya Gavin berusaha memastikan perkataanku yang aku jawab dengan anggukan singkat.
Ya, mungkin dia kayak gak tenang gitu liat Leonardo bahagia sama gue.
"setahu gue, kak Jennie itu temen bang leonardo semasa dia kuliah di Australia dulu." kata Gavin, aku ber oh ria mendengar perkataan Gavin.
"tapi kayaknya bukan sekedar temen sih, soalnya dari dulu kak Jennie itu demen banget sama bang Leon, ya sampai rela halalkan segala cara buat deketin bang leon." imbuh Gavin.
Speechless
tak dapat berkata apa pun setelah mendengar perkataan dari Gavin, berarti memang benar kalau mereka memang bukan hanya sekadar teman biasa, sudah dapat aku lihat saat tatapan mata Jennie saat menatap Leonardo dengan mata sayunya itu.
"oh gitu ya." jawabku singkat, lidahku terasa kelu saat akan berbicara.
"eh, bentar dulu deh! lo gak lagi salah paham kan sama bang Leon?" tanya Gavin mengintrogasiku.
"hah? eng - enggak kok kita baik - baik aja." elakku dengan cepat, yang menurutku malah membuat ini semakin jelas kalau aku tengah salah paham dengan Leonardo.
"lo percaya deh sama gue, bang leon bukan seperti kayak yang lagi lo pikirin sekarang dia udah demen banget sama lo, gak mau pisah sama lo dan cuma ada lo di hatinya. Ya meskipun mungkin Jennie sempat mengisi masa lalunya.” Aku meringis mendengar perkataan dari Gavin, memang benar yang sekarang ya sekarang dan yang lalu biarlah berlalu, tapi kalau ceritanya seperti sekarang aku rasa akan sedikit berbeda.
Jennie yang tiba – tiba saja datang dengan memelas pada Leonardo, dan tak dapat di pungkiri kalau Leonardo juga tidak bersikap seperti mengelak justru malah bertingkah mencurigakan, kan jadi bukan salahku juga kalau sampai terjadi ke canggungan di antara aku dan Leonardo.
“permisi-“ kata seseorang yang membuat aku dan Gavin langsung melihat ke asal suara tersebut.
Jennie?
“Leonardo udah balik kerja ya? gue kesini cuma mau ambil test pack yang kayaknya tadi ketinggalan di dekat situ.” Ujar Jennie denga raut wajah yang tampak biasa saja, tidak seperti biasanya saat dia bersama Leonardo.
__ADS_1
“ah iya.” Jawab ku singkat. Aku mengangkat kedua kakiku lalu menaikkannya ke atas kursi agar dia bisa mengambil barang yang ia cari tadi yaitu test pack.
Tunggu,apa dia tadi menyebutkan test pack?
“hey, bilang sama Leonardo, ah tidak .. kayaknya mending gue bilang ke dia sendiri deh nanti, see you.” Katanya sambil melambaikan tangannya saat dia sudah menemukan test pack yang jatuh di dekat sofa di antara aku dan Gavin duduki.
Setelah melihat mak lampir itu benar – benar menghilang dari pandanganku aku mendengus kesal, ada sedikit rasa sesak di dadaku yang melihatnya berani datang ke sini kembali dengan sikapnya yang menjengkelkan dan terlebih lagi dia berniat untuk menemui Leonardo dan mengatakannya dengan jelas di hadapanku tanpa ada rasa sungkan sedikitpun.
“vin, gue udah gak tahan, entah kenapa gue kesel banget sama-“
Brakk
Dengan setengah kesadaranku yang sudah mulai sedikit demi sedikit menghilang aku dapat merasakan kalau tubuh yang mulai lunglai ini terjatuh tersungkur dari sofa.
“ALINA!” pekik Gavin.
--------
usai mengatakan itu dokter tadi langsung pergi dan kemudian Leonardo berjalan menghampiriku, sebelum dia tahu kalau aku sudah siuman, aku memutuskan untuk tetap memejamkan mataku agar dia tidak tahu kalau aku telah sepenuhnya sadar.
" maafkan mas yang selama ini gak bisa jagain kamu dengan baik ya bae." ujarnya bermonolog sambil memegang sebelah tanganku, nada bicaranya nyaris terdengar seperti dia sedang menahan tangisnya.
"kamu terlalu baik buat laki - laki macam mas ini."
eh tunggu, kenapa Leonardo malah jadi semellow ini, dan kenapa dia malah terlihat sedang berusaha untuk mengakui suatu kesalahan yang telah ia perbuat, jadi apakah benar kalau dia pernah berselingkuh dengan Jennie?
pada akhirnya aku membuka mataku dengan perlahan dan menggerakkan jariku yang tanganku tengah di genggam oleh Leonardo.
"mas, aku dimana?" hanya sekedar basa - basi aku mengatakannya.
nyatanya aku sudah tahu kalau aku sedang berada di rumah sakit.
Kan gak mungkin kalau aku pingsan kemudian di bawa ke taman bermain.
__ADS_1
"di rumah sakit sayang, kamu sekarang di rumah sakit. Kamu kalo ngerasa gak enak badan langsung hubungin mas ya sayang, jangan sampai kayak tadi.” Katanya dengan raut wajah yang tampak sangat khawatir.
Yeuh, lagian aku ini kan pingsan gara – gara shock sama semua masalah ini, terus ya kali aku mau bilang langsung ke Leonardo. Ya gengsi dong.
“Alina udah gak apa apa kok mas, jangan khawatir. Mending mas balik ngantor lagi gih.” Ujarku pada Leonardo sambil mengulas senyuman tipis di sudut bibirku.
“ No, mas gak bakalan bisa tenang kerja sedangkan istri mas terbaring lemah disini. “ elak leonardo.
“oh iya, tadi jennie balik lagi ke rumah mas. Terus tadi dia bilang mau ketemu kamu lagi dan ada yang mau di bicarain. “ aku mencoba untuk menguatkan diriku dan mengatakan apa yang ingin aku katakan pada Leonardo.
“Oh ya? Biarin aja deh. Kamu lebih penting dari dia. “ kata Leonardo.
Hilih, ngomong doang kalau aku lebih penting, tapi selalu berusaha buat nutupin sesuatu dari aku.
“Tunggu kamu udah ngerasa mendingan baru mas jelasin semua. “ ujar Leonardo madih menggenggam tanganku, lalu ia mengecup punggung tanganku sejenak.
“Nggak mau! Maunya sekarang juga.” Protesku, aku memalingkan wajahku ke lain arah.
“oke, mas jelasin semua sekarang. Tapi kudu janji dengerin semua dari awal dan gak boleh sela perkataan mas, biar jadi jelas. “ kata Leonardo kepadaku, aku mengangguk pelan. Ia mengulurkan jari kelingkingnya padaku.
“pinky promise? “ ucapnya.
Aku menautkan jari kelingking milikku pada miliknya. “hmm. “ jawabku singkat.
Kemudian Leonardo tersenyum.
“hmm, jadi mas harus mulai dari mana dulu ya.. “
---------
Chapter penjelasan dari leonardo tayang setelah ini yaa..
jangan lupa klik like ❤✨
__ADS_1