Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 72


__ADS_3

Urusan percaya atau tidak percaya sebenarnya aku masih ragu, karena penjelasan dari Leonardo masih terlalu transparan bagiku, dan menurutku masih kurang jelas.


Di tambah lagi dengan dia yang masih seperti berusaha untuk menutupi sesuatu dariku, tapi mau bagaimana lagi? Dari pada aku harus memperpanjang masalah yang nantinya malah menjadi runyam, lebih baik aku mengalah saja, toh dia juga sepertinya tulus untuk meminta maaf denganku dan serius ingin mengembalikan suasana agar seperti biasanya kembali.


"Oke deh, aku mau tutup masalah kasus ini sekarang, tapi ada 2 poin yang harus kamu ingat mas!" Kataku dengan tegas, aku berusaha melepas tangan Leonardo yang memelukku dan mengembalikannya kembali ke posisi duduknya yang semula, agar lebih nyaman untuk berbicara.


"Siap bosku! Waktu dan tempat di persilahkan." goda Leonardo ia tersenyum.


Punya suami kok murah senyum begini, kan bikin awet muda istrinya hehe.


"Satu! Ada masalah apapun kamu harus diskusikan sama aku, jangan ada yang di tutupin dari aku. Karena poin ini mengarah ke kepercayaan satu sama lain, jadi jangan salahin kalau saling curiga kalau ada aja yang di sembunyikan." ucapku dia hanya mengangguk dengan penuh antusias.


"Dua! Jangan lupa kalau kita udah berkeluarga dan aku ini statusnya adalah istri kamu, perlakuin aku kayak istri kamu mas." Leonardo kembali mengangguk menanggapi perkataanku, dia mendengarkan perkataanku dengan baik, tanpa menyela perkataanku dan tidak protes sama sekali.


"Jangan cuma ngangguk doang! kamu suka nya main rahasia rahasia an gitu ah sama aku sebel." crocosku.


"Iya iya enggak sayang, lagian mas lakuin ini semua juga buat kebaikan kamu. Mana tega mas ngeluh masalah mas ke kamu sedangkan kamu aja udah bela - belain begadang belajar demi tes itu, yang ada nanti malah nambah beban pikiran kamu." kata Leonardo sambil mengacak rambutku membuatnya berantakan, aku mendengus kesal.


yang di acak rambut kenapa yang berantakan hatinya ya?'


"Oke deh, aku maklumin yang ini, masih bisa di maafkan. Tapi kalau sampai aku mergokin kamu bertingkah mencurigakan lagi jangan salahin kalau Alina pergi." Leonardo langsung menarikku mendekat kepadanya dan ia mendekapku kembali.


"Jangan pergi dari aku ya bae, jangan tinggalin aku! Udah terlanjur nyaman banget sama kamu. Aku gak mau yang lain maunya cuma kamu." Ujarnya dengan nada yang terdengar cemas, sepertinya dia memang khawatir kalau aku akan benar - benar meninggalkannya, padahal aku tidak akan pergi dan aku hanya menggunakan kata itu sebagai ancaman.


"Maka nya jangan tuman!" seruku.


"Iya enggak." jawab Leonardo dengan nada suara pelan.


"Yang bener yang mang mana? Iya apa enggak sih."


"Iya nggak tuman." ujar Leonardo mengoreksi perkataannya yang sebelumnya, aku terkekeh pelan.

__ADS_1


-------


Sekitar 2 jam setelah aku kembali sadar usai pingsanku tadi dokter memperbolehkan aku untuk pulang, karena memang kondisiku yang sebenarnya tidak apa - apa hanya karena shock yang berlebihan yang membuatku menjadi pingsan.


Bukan Leonardo namanya kalau dia yang tidak rempong kalau urusan yang menyangkut tentang kesehatanku, dia yang terus - terusan memastikan kalau aku benar - benar sudah pulih atau masih membutuhkan perawatan sekali lagi bahkan dia juga yang mengusulkan untuk aku tinggal di rumah sakit satu malam.


Hello? Aku cuma pingsan biasa.


"Aku udah gak apa - apa kok, gak perlu sampai khawatir yang berlebihan gitu ah mas." ujarku, Leonardo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mas belum kasih tahu ke keluargaku kan kalau aku habis pingsan? soalnya ini pertama kalinya aku pingsan." tanya ku pada Leonardo, dia menggelengkan kepalanya.


"Mana sempat mas hubungin mereka, pas denger dari Gavin kalau kamu pingsan aja meeting langsung aku tinggal." ujarnya, aku bernafas lega mendengarnya.


"Bagus lah kalau begitu, Alina gak mau sampai mereka tahu, oh iya sampai lupa Gavin kok tiba - tiba ngilang sih?" kataku, leonardo hanya mengedikkan bahunya sekilas.


"Gak tahu dia kemana, tadi mas baru dateng dia langsung pamit pergi gitu aja." jawab Leonardo.


"Oh gitu ya."


Satu minggu setelah kejadian aku pingsan di dekat kolam renang rumah, Leonardo semakin memperketat penjagaan di rumah, dia khawatir kalau aku tiba - tiba nge drop kembali dan tumbang seperti waktu itu.


Dia juga terus terusan mengirimiku pesan untuk memastikan apakah aku baik - baik saja di rumah dan lagi kalau sampai aku tidak membalas pesan tersebut dia pasti akan langsung menghampiriku ke rumah, padahal jarak kantor dengan rumah lumayan jauh.


Aku juga telah berkompromi dengan Leonardoni untuk memberi tahuku sewaktu - waktu jika mak lampir a.k.a Jennie datang menemui Leonardo di kantor secara diam - diam tanpa sepengetahuanku, ya sekarang bukannya apa tapi wajar kan kalau sebagai istri aku bertindak was - was karena takut suami coganku di embat sama pelakor, kan gak lucu sama sekali.


Satu minggu lagi sudah mulai ujian seleksi PTN akan di mulai, sudah dari beberapa hari yang lalu aku terus terusan belajar semampuku untuk menghadapi ujian yang sudah di depan mata.


Inginku sebenarnya hanya fokus memikirkan tes sepenuhnya, tapi nasib berkata lain bukan hanya masalah kemarin, aku kan juga punya tugas lain ketika menjadi seorang istri, seperti melayani suami.


Aku rasa tidak perlu di perjelas lagi melayani yang bagaimana, karena pasti kalau menyangkut hal seperti ini sudah sangat jelas, beberapa hari ini Leonardo menjadi semakin liar dari awal kali kita melakukannya, karena sekarang malah dia yang paling semangat urusan bikin jagoan kecil yang akan menghiasi kehidupan rumah tangga kita, Leoanrdo berkata kalau dia sudah tidak sabar untuk menunggu jagoan kecilnya.

__ADS_1


drrt.. drrt.. drrt..


Aku membuka ponselku.


Leonardo's pov


Sebagai suami aku tidak bisa tenang ketika meninggalkan istriku di rumah begitu saja, di tambah lagi dari beberapa hari belakangan dia yang terus terusan fokus belajar tanpa memikirkan kesehatannya lagi, tapi bagaimana lagi kalau pun aku melarangnya dia pasti tetap akan melakukannya secara diam - diam.


Alina keenan raftar.


Senyumku mengembang dengan sangat lebar melihat foto pernikahanku dengannya yang terbingkai indah di dekat komputer yang ada di meja kerjaku terlihat kala itu Alina tengah memaksakan dirinya untuk tersenyum namun justru dia malah terlihat sangat imut.


Aku mengambil ponsel yang ada di dalam saku celanaku lalu menekan sedikit lama angka satu, yang langsung automatis menelpon ke nomor Alina. Tak perlu menunggu waktu yang lama, Alina langsung menjawab panggilan dariku tadi.


"Halo, iya Alina gak apa - apa, ini lagi belajar. udah makan kok sayurnya banyak lagi, udah minum jus juga." Ucapnya pertama kali saat menjawab telepon dariku.


Dia melontarkan jawaban terlebih dahulu sebelum aku bertanya padanya, aku terkekeh pelan mendengarnya.


"Idih, kamu kepedean banget sih, siapa juga mau nanyain itu." cicitku.


"Ya udah buruan kamu mau nanyain apa? Alina lagi sibuk nih." omelnya.


"Nggak, mas cuma mau bilang kalo kangen hehe." tuturku


tok..tok..tok..


aku menengok ke pintu dan mendapati asistenku yang berdiri di ambang pintu aku menutup mic ponselku agar suaraku tidak masuk ke telpon.


"Pak Leonardo acara akan di mulai 10 menit lagi pak, semua persiapan sudah selesai." ujarnya, aku mengannguk singkat kemudian dia pergi.


"Gak penting ih kamu mas, udah ah babay." kata Alina kemudian mematikan panggilannya secara sepihak, aku melihat ke ponselku lalu memasukkan kembali ke saku celanaku, aku sangat menyukai karakter Tsundere dari istriku yang tentunya terlihat menggemaskan di mataku.

__ADS_1


10 menit lagi acara penghargaan karyawan akan segera di mulai, aku sebagai direktur utama dari Adriano corp. yang akan menyampaikan sambutan acara dan juga memberikan beberapa penghargaan pada  beberapa karyawan teladan, ya meskipun sejujurnya aku kurang semangat jika menghadiri acar semacam ini, tapi bagaimana pun ini juga adalah kewajibanku.


Leonardo's pov end


__ADS_2