
Alina's pov
drrt..drrt..drrt..drrt
Aku meraih ponselku yang berada di nakas lalu menjawab panggilan tersebut
"halo?" ucapku
"halo, Alina."
"Ini siapa ya?" aku menjauhkan ponselku dari telingaku lalu melihat nomor yang tidak aku kenali.
"ini aku, Leonardo."
"Bangke, lo dapet nomor hape gue dari mana?" crocosku kesal.
"Alina, bentar lagi kamu kan jadi istri aku, jadi wajar dong aku punya nomor kamu, lagian mama kamu juga yang ngasih pas aku nganterin masakan korea buatan aku,dan aku seneng banget pas denger kamu suka masakan aku."
"Udah - udah gak usah banyak bacot dulu ah, gue mati in."
"Eits, jangan dulu dong. Kamu galak banget sih ke aku, jadi makin sayang hehe."
"Bodo amat,hehe" aku langsung mengakhiri panggilan. Kemudian aku membuang ponselku asal dan dalam sekejap aku mencarinya kembali, kan bego.
Yang jelas sekarang aku sedang memendam sedikit rasa kesal kepada mama, karena mama memberikan nomorku kepada si om itu, tanpa ada persetujuan dariku, bahkan pernikahan ini pun kan juga bukan atas kemauanku.
"Mama ih, Alina kesel deh." aku mendatanginya yang tengah asyik nonton ftv di ruang keluarga.
"Kenapa sih nak?"tanya mama, dengan pandangan yang tak beralih dari televisi.
"Mama kenapa kasih nomor alina ke om itu sih?"
"Om yang mana coba?" tanya mama langsung melihatku sambil mengernyitkan alisnya.
"Ya gak tahu yang mana. Au ah kesel"
Mama tertawa pelan.
"Kamu ini lucu loh, dia kan calon suami kamu loh nak, wajar dong."
"Ya setidaknya mama bilang dulu ke Alina, biar gak terketjoet setengah mati kek tadi."
"Ya udah lain kali mama bilang deh."
"Dih udah terlanjur" mama malah tertawa.
" Kalo gitu kamu siap siap gih." perintah mama.
"Lah mau kemana emangnya? Alina pengen streaming dulu ma, gak bisa ditinggal nih. bias baru comeback ."
"Dih kamu ini. Bentar lagi doi mu datang. kan mau fitting baju buat lamaran yang katanya dipercepat."
"WHAAAAT?!" pekikku.
" Kenapa bilangnya mendadak gini sih? mama tahu gak sih, alina tuh kalo mau ketemu sama 'om' itu kudu jalanin ritual dulu biar engga hujat dia. kan ntar jadinya ribet."
__ADS_1
"Lah tadi kan Leonardo udah telpon kamu sih? masa dia belum bilangin kamu"
"Wait ma, kenapa kok udah disuruh fitting baju sih? jangan bilang lamarannya udah deket deket ini ya?"mama terkekeh.
"Engga kok, masih dua minggu lagi."
"Ma? gak lucu banget sih. ngapain di percepat."
"Lebih cepat lebih bagus nak." jawab mama sok tegas.
"Hilih ya gitu, kalo udah tahu om- om yang ngebet kawin jangan cari sama bocah yang masih pengen jalanin masa mudanya. yakali ma aku-"
"Assalamualaikum tante." suara seseorang dari ambang pintu ruang tamu.
aku pun langsung seketika lari ngibrit dan kembali ke kamarku dan meninggalkan mama yang sekarang tengah mengomel dan terus memanggil namaku.
Sesampai dikamar tak lupa pasti aku langsung mengunci kamarku rapat-rapat.
tok..tok..tok
"Alina, buruan siap-siap ya sayang, calon kamu udah nungguin."
"Ma! Perut Alina mules nih, kayaknya gak bisa ikut fitting baju gak apa apa kan?"
"Loh? gak bisa gitu dong, tadi kamu sehat wal afiat gitu."
"Udah gak apa apa tante, kalo alinanya gak bisa ikut biar Leonardo pergi sendiri." sahut om itu.
'Dih, sok baik banget om genit yang ngebet kawin itu' batinku
"Adek yakin gak ikut ya? nanti gak usah protes soal bajunya ya."pekik mama.
"Iya nyai kanjeng." jawabku pelan hampir tak terdengar.
Aku memandangi poster Taehyung yang melekat di dinding dekatku berdiri.
'Abang emphi.. adek gak mau kawin dulu bang, rasanya kok suckid ya bang.' gumamku.
oke, jiwa ke fangirl an ku memang sudah sedikit akut, halu ku sudah tingkat kabupaten.
Untuk ke sekian kalinya lagi aku berpikir, haruskah aku kabur dari masalah ini? coba bayangkan! sebentar lagi kalian akan bertunangan dengan orang yang sama sekali belum aku kenal dan belum pernah melihat rupa jelasnya.
Sebenarnya aku berniat untuk kabur dari rumah dan pergi ke rumah temanku. tapi, mengingat kalau dulu aku ini home schooling dan aku cukup membatasi dalam berteman membuatku tidak punya kawan akrab. mungkin aku punya sepupu yang aku anggap seperti sahabatku tapi, tidak mungkin aku kabur kerumahnya sedangkan keluarganya telah mengetahui tentang perjodohan ini. kan sama sekali tidak mungkin.
Aku membuka mataku dan melihat kearah pintu balkon yang terbuka dengan langit yang semulanya terang kini sudah berubah menjadi gelap.
'Ah,sudah malam ya? mama pasti sudah pulang."
tiba-tiba hidungku mencium aroma sedap yang berada di meja belajarku. aku langsung bergegas keluar dari selimut
wait selimut? Memangnya aku tadi sempat pakai selimut ya sebelum tidur? bukan nya aku tadi tertidur?
Bodo amat yang penting makan, hehe
Cepet di makan, mumpung masih hangat. lekas sembuh ya
__ADS_1
-yours
Aku langsung mengepalkan memo tersebut dan membuangnya asal.
'Udah tua, masih ganjen, tapi kan makanannya gak jahat jadi aku harus makan dong hehe.'
Terdengar suara mobil aku langsung mengintip dari balkon, mobil sport berwarna kuning itu keluar dari halaman rumahku.
Eh, by the way sepertinya ada yang tidak beres. aku berjalan kearah pintu dan mencoba untuk membukanya, namun ternyata masih terkunci. aku merasa lega. eh tapi, bagaimana cara makanan ini bisa sampai di meja belajarku?
Aku membawa piring tersebut ke luar balkon, dan terus berjalan sampai ke kamar seberang kamarku a.k.a kamar bang jaehyun.
lalu mengetuk pintu balkonnya.
"Abang, sini deh."panggilku
bang Jaehyun cuma melambai kearahku.
Aku membuka pintunya langsung masuk dan duduk di kursi gaming abangku.
"Awas abang mau mabar sama adik ipar" kata abangku sambil memukul pelan lenganku.
aku tetap bergeming dan fokus makan spagetti dari om itu
"Ciee dimakan, enak ya masakannya adik ipar?"
"Hehe, bacot deh abang ni."jawabku ketus
"awas dek minggir"pintanya sekali lagi
"Gue ini kesel tau sama abang, ngapain coba abang bantuin dia masuk kamar gue? Gimana kalo dia ngapa ngapain gue" crocosku sambil begidik ngeri
"ga1k bakalan lah dek, Leonardo itu orang baek kok gak mungkin dia ngelakuin sebelum sah."
"Dih so tau, padahal abang juga tahu kalo dia udah ngebet kawin berarti napsu nya gede, udah tua juga jelek, pasti ga laku"
"Dih adek don't judge people by it's cover."
"astaghfirullah iya bang maap khilaf, btw kira kira gue bisa gak ya nerima dia seiring berjalannya waktu?"
"Abang yakin bisa. bisa banget, Leonardo cocok banget sama lo dek"
"Tapi bang.."
"Udah, kamu belajar nerima dia dari kekurangannya, lama kelamaan juga akan terasa indah, apalagi dia jago banget main fortnitenya, nih udah nyambung di discord, barang kali mau ngomong?"
"GAK MAKASIH, gue balik kekamar dulu."
Saat berjalan menuju kamarku aku memutuskan untuk duduk santaibterlebih dahulu di kursi nyamanku yang berada di balkon, menatap langit dan mulai merenungkan kesalahan kesalahan yang aku lakukan belakangan ini.
"Belajar menerima dia dari kekurangannya..
sesempurna apa sih aku? kok aku sepertinya menuntut om itu yang notabenenya akan menjadi suamiku untuk menjadi orang yang sempurna?
Benar juga abang, aku ini juga banyak kesalahan dan kekurangannya lalu kenapa aku bersikap rakus dan egois.
__ADS_1
Aku harus belajar untuk menerima dia, sejelek dan berapapun kekurangan yang ada pada dirinya karena aku yakin pasti masih ada sisi positif yang terselubung disana.