Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 64


__ADS_3

“bae, bangun yuk.. udah sampai rumah nih.” Kata leonardo sambil mengelus puncak kepalaku.


Aku mengerjapkan mataku lalu bangun dan melihat ke depan ternyata benar kalau kita sudah sampai di rumah, setelah melepaskan sabuk pengaman aku membuka pintu mobil terlebih dahulu sebelum leonardo membukakannya untukku.


Leonardo keluar dari mobilnya lalu ia memanggil leonardoni untuk mengembalikan mobilnya ke garasi.


Saat turun di depan rumah aku melihat ada mobil honda jazz berwarna merah yang ada di halaman rumah, aku mengernyitkan dahiku tak lama leonardo datang dan merangkulkan tangannya kepadaku.


“ada tamu ya mas?” tanyaku pada leonardo, tapi leonardo hanya mengedikkan bahunya sekilas.


“mas gak tau kalo bakalan ada tamu datang.” Kata leonardo, kemudian kami pun berjalan memasuki rumah dan melihat ada perempuan memakai midi dress berwarna putih wajahnya terlihat cemas.


“Leon!” panggilnya seketika dia melihat aku dan leonardo berjalan masuk ke dalam rumah, dia langsung berdiri dan menghampiri leonardo.


“Jennie?” ucap leonardo saat melihat ke arah wanita itu, rupanya mereka berdua saling kenal satu sama lain.


“ngapain lo kesini?” sambung leonardo dengan raut wajah heran, wanita itu langsung merubah ekspresi wajahnya dia terlihat akan segera menangis, terlihat air matanya akan segera menetes.


“suruh duduk dulu lah mas, gimana sih.. masa suruh ngomong sambil berdiri kan gak enak.” Kataku pada leonardo, yang kemudian leonardo hanya meringis.


“duduk dulu jen.” Kata leonardo pada wanita yang bernama jennie tadi


“leon gue hamil.” Kata wanita yang bernama jennie itu, aku langsung membelakkan mataku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh jennie.

__ADS_1


“sepertinya kalian akan membicarakan hal yang penting, gue permisi dulu.”  Kataku datar, aku melepas rangkulan tangan leonardo, leonardo menahan tanganku lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku.


“kamu tunggu di kamar ya, mas selesain masalah ini ya?” kata leonardo aku mengangguk singkat menyetujui perkataannya, lalu beranjak ke kamar setelah itu aku mengunci pintu kamarku dan berbaring di tempat tidurku.


 Benarkah, Leonardo malah menyuruhku untuk benar – benar pergi? Sementara hal yang terdengar ambigu ini membuatku sangat kecewa dengannya aku sangat berharap tidak ada hal buruk yang akan merusak kehidupan rumah tangga kami.


Tapi, kejadian ini membuatku teringat kejadian leonardo yang terlihat aneh dan nampak menyembunyikan sesuatu dariku saat tengah menelpom seseorang sewaktu itu, belum lagi ditambah dengan perlakuan leonardo yang selalu baik kepadaku, bahkan dia tidak pernah marah kepadaku yang selalu menundanya untuk memberi jatah.


Ah, jangan bilang dia sudah tidak sabar kemudian melampiaskan kepada wanita dengan perawakan badan bak model dengan wajah nya yang sangat cantik yang bernama jennie itu, tidak mungkin bukan?


Aku menenggelamkan kepalaku di tumpukan bantal, dan tanpa sadar air mataku terjatuh begitu saja meskipun hanya memikirkan hal yang belum jelas betulnya, karena merasa tak tenang aku mencoba untuk menguping pembicaraan keduanya.


Aku berjalan menuju ke pintu kamar dan membuka pintu yang aku kunci sebelumnya dengan sangat berhati – hati agar tidak sampai menimbulkan suara yang mengakibatkan leonardo menyadari keberadaanku.


“ini anak kita dan gue mau lo tanggung jawab untuk menjadi ayah dari anak kita.” Kata jennie dengan di selingi suara isakan tangis darinya, aku langsung menutup bibirku dengan kedua tanganku mataku sudah membelak dengan sangat lebar.


Untuk saat ini air mataku benar – benar sudah tidak sanggup lagi ku bendung, aku menagis terisak mendengar fakta bahwa ada wanita lain yang terlebih dahulu mengandung anak leonardo dari pada aku yang statusnya sebagai istrinya.


Jangankan mengandung anak leonardo, kami saja baru mulai berhubungan intim hanya satu kali kemarin, aku menghela nafasku panjang, lalu kembali menenggelamkan kepalaku di bantal.


-----


“sayang, pintunya kok di kunci?” tanya leonardo dari luar, dia terus mengetuk pintunya, karena aku belum menanggapi ucapan leonardo tadi.

__ADS_1


“bae? mas mau masuk nih, bukain dong pintunya.” Pinta leonardo dengan nada memelas.


Aku mendekat kearah pintu.


“malam ini mas tidur di kamar tamu ya, alina lagi pengen sendiri.” Kataku lirih, leonardo kembali mengetuk pintu kamar kembali.


“sayang! Kamu gak lagi salah paham sama perkataan jennie tadi kan? Buka pintunya dulu, mas jelasin semuanya sekarang, biar gak jadi salah paham begini.” Kata leonardo padaku.


“mas tidur di kamar tamu aja, percuma mau jelasin ke alina sekarang. Karena alina lagi gak bisa berpikir jernih sekarang, alina terlalu kecewa sama mas jadi tolong mas ngerti in aku ya kali ini.” Kataku, kemudian aku kembali ke tempat tidur dan duduk di tepinya.


“okay, kalau kamu minta itu mas turutin, besok akan mas jelasin semua biar kamu gak salah paham begini, kamu percaya sama mas kan bae?” tanya leonardo dari balik pintu sana, aku tak menjawab perkataannya aku lebih memilih diam daripada menjawab perkataan leonardo.


“maafkan mas ya sayang, jangan lupa kalau cuma kamu yang paling aku sayang.” Kata leonardo, kemudian terdengar derapan langkahnya pergi dari depan pintu kamar.


Mendengar perkataan manis dari leonardo malah terdengar menyakitkan di telingaku, aku ingin mempercayainya, tapi kenapa kedatangan jennie dan ucapanya tadi membuatku sedikit goyah dan meragukan leonardo, di tambah lagi dengan perlakuan ku yang terbilang buruk pada leonardo dulu tidak menutup kemungkinan kalau leonardo akan melampiaskan hasrat laki – lakinya pada perempuan lain.


Sudahlah, hanya dengan memikirkan itu malah menambah luka di hatiku, tapi jika memang benar wanita yang bernama jennie itu mengandung anak dari leonardo, apa yang harus aku katakan pada keluargaku?


Sedangkan di posisiku saat ini benar – benar sulit, mama yang tengah sakit dan papa menemani mama di singapura, jadi tidak mungkin aku akan curhat kepada mereka berdua, belum lagi bang jaehyun yang sedang sibuk dengan thesis nya tidk mungkin juga aku akan menyeretnya ke masalah keluargaku.


Aku kembali menangis kembali, karena tidak tahu aku harus lari kemana untuk mencurahkan isi hatiku yang sedang di penuhi rasa kecewa ini.


Suara ketukan itu terdengar kembali di pintu kamarku, “jangan lupa minum susu dulu sebelum tidur ya sayang, mas taruh di depan kamar.”

__ADS_1


Ternyata leonardo yang ada disana, di tengah kesalah pahaman yang ada di antara kita, leonardo masih saja sabar dan terlihat tenang menghadapiku yang bersikap tidak dewasa ini.


 Maafkan aku mas.” Batinku.


__ADS_2