Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 53


__ADS_3

“ assalamualaikum papa, mama.” Ucapku pelan ketika memasuki kamar tempat mama di rawat inap.


“waalaikum salam.” Jawab papa yang semulanya duduk langsung berdiri menghampiri kami.


Aku berjalan mendekat kearah papa lalu mencium punggung tangannya lalu memeluk papa sejenak, begitu pula dengan leonardo.


Aku harus kuat.


“mama, alina datang sama mas leon.” Ucapku lirih sambil mencium tangan mama, papa menuyuruhku duduk.


Mama tersenyum simpul, dia terlihat sangat pucat dan tentunya sangat lemah dan rapuh, aku menahan diriku sekuat tenaga agar tidak menitikkan air mataku sedikitpun.


“mama cepat sembuh ya, cucunya lagi proses, hehe.” Ujar leonardo.


“iya, mama harus kembali ceria lagi secepatnya ya, alina rindu berat loh.” Imbuhku kemudian aku mencium tangan mamaku kembali.


Mama menggerakkan tangannya dengan lemah kearah perutku.


“a-da, cu-cu?” tanya mama dengan terbata – bata, aku melihat air mata yang mengalir dari sudut matanya.


Aku melihat kearah mama dengan tersenyum seceria mungkin.


“ sebentar lagi, makanya mama cepat sembuh ya, biar bisa gendong cucu pertamanya nanti.” Jawabku.


Mama mengangguk pelan namun berulang kali, aku mengelap air matanya.


“sebentar alina kebelet pipis nih, mau ke toilet ya.” pamitku.


Bukanlah toilet yang aku tuju, aku berjalan lurus kearah pintu dan keluar dari kamar rawat tersebut.


Aku menangkup mukaku dengan kedua tanganku, karena sudah tidak tahan lagi aku untuk menahan tangisku aku pun menangis sejadi jadinya.


Mama sakit apa?aku ingin mengetahuinya, tapi disisi lain aku tidak ingin menerka – nerkanya lebih jauh.


Yang aku lihat adalah mama yang sudah sangat pucat, terbaring lemah diranjang, dan yang cukup menyita pandanganku adalah rambut mama yang menjadi sangat tipis.


Mungkinkah kemoterapi?


Kumohon, ya allah.. sembuhkanlah mama..


“alina sayang.” Aku merasakan tangan papa yang merangkulku.


Aku langsung duduk dengan tegak, mengelap air mataku dengan tanganku.


“maafkan papa yang gagal merawat mama dengan baik.” Ujar papa kepadaku.


“ini sudah takdir pa, kita tidak boleh saling menyalahkan..”


“sekali lagi maafkan papa nak.”


“papa gak salah.. kita harus terima takdir ini kan cobaan. lebih baik papa masuk kedalam deh, mama kan butuh papa disisinya, temani mama, jangan ditinggalin ya pah.”kataku lembut.


Papa tersenyum lalu masuk kembali kedalam.


“dek? Kok gak masuk.” Bang jaehyun datang sambil menenteng tas ranselnya yang berwarna hitam, kemudian ia duduk disampingku.


“suami lo dimana dek?” tanya bang jaehyun.


“ada di dalem kak, lagi ngobrol sama mama, alina gak kuat di dalem pengen nangis terus.” Jawabku.


Bang jaehyun merangkulku lalu tersenyum.


“harus kuat, lo kasih semangat mama biar lekas sembuh ya..” ujar bang jaehyun


“gak boleh nangis.” Imbuhnya


Aku mengangguk.


“tapi, gue belum tahu sebenarnya mama sakit apa bang?” tanyaku pada bang jaehyun.

__ADS_1


Bang jaehyun menghela nafasnya sejenak.


“ kanker sarkoma atau juga disebut dengan kanker jaringan lunak.” Bang jaehyun menunduk.


Aku kembali terdiam, membisu tak dapat berkata – kata kembali yang aku lakukan hanya bisa menunduk dan air mata ku kembali berlinang dengan deras.


Bang jaehyun menepuk punggungku.


“tadi abang bilang apa dek? Yang kuat jangan nangis gitu ah.” Kata bang jaehyun,


“meskipun penyakit mama ini tergolong penyakit langka di indonesia dan dokter pun belum menemukan dengan pasti penyebab penyakit ini, tapi kita harus yakin keajaiban yang di beri allah nanti, kita gak boleh berhenti berharap.” Bang jaehyun kembali menepuk pelan punggungku.


Aku semakin terisak mendengar perkataannya bang jaehyun.


“abang bener, percuma ya menangis. Gue harus kuat dan gak boleh nunjukin raut sedih di depan mama, dari di paris kemarin leon juga bilang kalo gue gak boleh tunjukin muka cengeng ini depan mama.”


“nah itu tahu.” Seru bang jaehyun.


“di usap dulu dong ingusnya, jorok banget kek jigong kuda.” Ledek bang jaehyun


“diem ah bangkai anoa.” Tak ingin kalah aku pun juga ikut meledeknya.


Begini lah kami saat bertemu, pasti tidak jauh dari saling meledek satu sama lain, ya bagaimana lagi, namanya juga saudara.


--------


“lama banget pipisnya?” tanya leonardo.


Aku sangat yakin kalau leonardo sudah mengetahui kalau aku tidak pergi ke kamar mandi, tapi hanya berada diluar untuk duduk dan menenangkan diriku.


“eh iya, tadi perut alina mules. Hehe.”


“tolong kamu jagain alina ya sayang, meskipun dia labil tapi sangat penyayang..” ucap mama dengan suara yang lemah.


“ alina sudah nurut sama suami kok ma, mama gak usah pikirin alina, sekarang harus mengutamakan kesehatan mama terlebih dahulu ya..”


“iya nak.” Jawab mama.


Tok.. tok.. tok..


“maaf jam besuk sudah habis, sudah waktunya untuk pasien beristirahat.” Ucap seorang suster yang memasuki ruangan.


“kamu pulang dulu ya nak.” Pinta mama.


“alina disini.”


“mama minta lo pulang dek, besok pagi aja balik lagi.” ujar bang jaehyun.


“kamu juga perlu istirahat, gak usah maksain diri lagian kamu sudah bersuami sayang.” Imbuh papa.


“pulang ya nak, istirahat.” Ucap mama.


Aku menoleh kearah leonardo sedih.


“iya ma, kita pulang.” Kata leonardo.


“besok pasti kesini lagi.” sambung leonardo.


Dengan berat hati aku mendekat kepada mama lalu mencium tangannya , lalu beranjak ke papa dan mencium tangannya juga, bang jaehyun mengangkat tangannya untuk tos denganku.


“alina sama leon pamit dulu.. mama jangan kangen yaa.” Ujarku.


Mama tersenyum tipis lalu mengangguk.


----------


“mas alina gak kuat.. alina harus gimana? Kenapa harus mama!” ucapku pada leonardo saat berada di dalam mobil, leonardo mendekapku erat, dia berusaha memberiku ketenangan.


“kanker yang di derita mama tergolong penyakit langka yang ada di indonesia, kalau seperti ini kita memang harus berharap adanya keajaiban.” Sambungku.

__ADS_1


“mas berencana untuk menghubungi teman mas yang jadi dokter spesialis di singapura supaya membantu kita untuk menangani penyakit mama, kamu jangan khawatir ya sayang.”


“ lakukan yang terbaik ya mas.”


“semoga ini jadi jalan yang terbaik.” Ucap leonardo.


“amin.” Jawabku


----------


“dibikinin susu hangat dulu ya baru tidur.” Ucap leonardo.


“gak usah deh mas, ayo langsung tidur aja. Kamu pasti juga capek kan.” Elakku.


“enggak kok, udah kamu kekamar dulu, bentar lagi mas nyusul, tapi jangan tinggalin mas bobo duluan ya.” ucapnya persis seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal.


“iya iya mas, alina tunggu.”


“hehe, makasih sayang.”


Aku berjalan kearah leonardo, lalu mengecup pipinya singkat.


“takutnya nanti ketiduran, jadi aku kasih good night kissnya sekarang.” Aku langsung berlari kencang menuju ke kamar.


“bae! Awas kamu tidur duluan, mas hukum sampai subuh.” Pekiknya.


Jiahaha, hukum aja.


Toh, alina masih datang bulan, nanti kamu sendiri yang menyesal.


dari lantai dua aku meneriaki nama leonardo lalu dia langsung menoleh.


“good night mas.” Pekikku.


Leonardo tampak menyebikkan bibirnya.


“au ah.” Kata leonardo sambil berjalan menuju ke dapur.


--


Sudah menunjukkan pukul 23.29 leonardo masuk dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat segelas susu hangat.


“mas tahu kamu belum tidur kan bae, kamu pasti lagi pura – pura bobo.” Ucap leonardo.


Aku tetap memejamkan mataku.


“ayo di minum dulu susunya bae.” Ujar leonardo, tetapi aku tetap memejamkan mataku.


“wah kayaknya ada yang minta di gelitikin dulu nih baru mau minum.”


“ah iya, alina bangun nih hm.” Aku merubah posisiku yang semula berbaring menjadi duduk.


Aku mengambil gelas yang ada diatas nampan tersebut lalu meminumnya dengan cepat.


“dah beres, yuk tidur capeeek nih..” ujarku.


“eh tunggu 10 detik, mas ganti baju.” Kata leonardo.


“kelamaan.” Cibirku.


“ya udah gini aja.” Leonardo melepas baju atasannya lalu menaiki ranjang.


Lah kan emang dia biasanya juga tidur shirtless kok ribet amat kayak cewek.


“kamu gak khawatir mas masuk angin gitu bae?” tanyanya.


“ bodo amat, terserah, mau masuk angin kek masuk pak eko kek yang penting sekarang ayo kita cepet tidur.” Crocosku.


Dia meringis.

__ADS_1


“dih, jawabannya sama sekali diluar ekspetasi mas, good night zheyeng.” Leonardo mengecup keningku lalu tidur sambil memelukku.


__ADS_2