Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 74


__ADS_3

"Jadi tadi Jennie sempat mampir ke sini buat pamitan pergi bae? " tanya Leonardo sambil meneguk air putih mineral yang baru saja ia ambil dari kulkas, Alina mengangguk singkat sembari memakan es teler nya di ruang makan.


Leonardo berjalan kemudian ia duduk di samping Alina.


"Eh di luar hujan mas,  aku pindah ke dekat jendela ah, sambil liat hujan." Ujar Alina yang kemudian pergi berlalu dari Leonardo yang baru saja duduk di sampingnya.


"Mas baru duduk juga udah main pergi aja, ikut bae!" protes Leonardo yang kemudian pergi mengikuti langkah Alina.


Alina duduk di sofa depan yang di dekat jendela kaca yang sangat besar kemudian dia kembali makan es nya.


"Eh bae sini deh, mas mau cerita sesuatu. " Kata Leonardo yang kemudian mengundang lirikan penasaran dari mata Alina.


Alina pun langsung merubah posisinya menghadap ke arah suaminya sambil memasang tampang yang penasaran.


"Kenapa mas, ada gosip terhangat ya?" Ujar Alina, Leonardo malah menepuk jidatnya ketika istrinya terlihat sangat semangat kalau akan membahas tentang gosip.


"Hmm, kamu nih kalo gosip aja semangat. Enggak mas cuma mau ajak nonton film." kata Leonardo, yang kemudian hanya di balas oh ria oleh istrinya tersebut.


"Kirain ada gosip apaan gitu mas, by the way film apa mas?  Aku saranin jangan film horror ya,   takutnya malah kamu yang sawanan dan jerit - jerit kayak lagi dihutan persis waktu itu kita nonton. " Usul Alina, Leonardo hanya mengerucutkan bibirnya mendengar Alina berkata seperti itu.


"Enggak bae,  ini filmnya bagus banget..  seriusan! "


"Emangnya film apaan sih mas?"tanya Alina penasaran.


"Tentang seorang istri yang dibunuh secara brutal kemudian hanya menyisakan suami dan anaknya kan, setelah itu anaknya itu hilang gara - gara di culik dan si ayahnya yang sudah sebatang kara itu cari in anaknya sampai menempuh perjalanan ratusan kilometer akhirnya di tengah perjalanan dia cari anaknya  dia di bantu sama temennya yang disabilitas buat cari in anaknya. " kata Leonardo.


"Wah kayaknya seru sih kayak genre film Thriller gitu yak, tapi kamu kok spoiler duluan sih nggak asik ah!" seru Alina.


"Itu judul filmnya apaan mas? " tanya Alina, Leonardo malah tertawa ngakak sebelum menjawab pertanyaan Alina.


"Finding nemo. " Jawab Leonardo dengan santai, kemudian Alina memasang raut wajah datar menanggapi suaminya tadi.


"Finding nemo kan firm kartun mas." protes Alina, Leonardo tertawa melihat Alina yang protes tidak terima karena Leonardo yang telah mengusilinya.

__ADS_1


"Eh tapi bener kan aku?" kata Leonardo sembari tertawa, Alina mendengus kesal.


"Ya bener sih, tapi aku kira tadi film apaan, eh ternyata Finding nemo."


Alina’s pov


Tak kuasa aku menahan tawaku saat mengetahui kalau film sadis yang di ceritakan leonardo tadi ternyata malah film kartun yang berjudul Finding nemo yang pernah aku tonton semasa sekolah dasar dulu.


Hujan masih turun dengan bergemericik, aku membuka jendela dekat memberinya sedikit celah pada tempatku duduk agar angin sepoi dan bau tanah yang terkena hujan itu tercium sampai ke dalam rumah kami.


Leonardo melingkarkan tangannya di sekitar pinggangku aku duduk membelakanginya sementara ia merangkulku dia sambil sibuk berkutat dengan ponselnya.


“Eh bae, dokter udah nentuin tanggal operasi mama..” ujar Leonardo, aku memutar badanku menghadap padanya karena aku mulai tertarik pada topik pembicaraannya.


Glek


Aku menelan salivaku dengan susah payah. “ kata dokter kapan mas?” tanyaku, Leonardo menyodorkan ponselnya kehadapanku.


“Itu barusan mas di chat sama papa kamu, itu liat sendiri tanggalnya.” Kata leonardo.


“Astaghfirullah mas! Itu tanggal tes PTN minggu depan.” Pekikku saat aku tersadar kalau tanggal operasi mama bertepatan dengan tes seleksi PTNku minggu depan.


“Astaghfirullah iya mas sampai kelupaan, tahu gitu tadi gak mas kasih tahu dulu ya. Bae! Pokoknya kamu harus tetep santai, pikirannya jangan sampai terganggu sama hal yang lain, fokus dan lakuin tes nya dengan sebaik mungkin yang kamu bisa. Okay?” Kata Leonardo sedikit gopoh.


Aku meletakkan es telerku yang ada di mangkuk tadi di atas meja lalu aku mengalungkan tanganku pada sekitar pundak Leonardo. "Aduh, mas tenang aja pasti Alina bisa kerjain tesnya dengan baik, gak usah khawatir." kataku.


Leonardo menarikku dan membawaku ke pangkuannya lalu ia melingkarkan kakiku di sekitar pinggangnya dan ia menyuruhku untuk menguncikan kakiku di sana.


Aku pun menuruti apa yang ia katakan lalu, dia berdiri dan pada akhirnya dia terlihat seperti tengah menggedongku sekarang.


ya,memang lagi di gendong sih.


Leonardo mendekat kepadaku, lalu ia mengendus endus di sekitarku. " uh bau bunga bangkai, ayo mandi dulu ya." tak terima dia mengejekku seperti itu, aku pun mulai memberontak dan mengoyakkan badanku agar terlepas dari gendongan Leonardo.

__ADS_1


"Astaga, diem bae jangan banyak gerak nanti jatoh." kata Leonardo.


"Mas sih nyebelin, padahal yang bau kan kamu!" hardik ku, bukannya berhenti memberontak aku semakin menjadi jadi.


brak!


"AWW! SAKIT.." rintihku dengan suara yang lantai, aku memegangi pantatku yang terjembab dengan indah di lantai aku meringis kesakitan.


Leonardo langsung duduk dengan menggunakan lututnya sebagai penyangga tubuhnya ia memegang bahuku. " sakit banget ya? Kan tadi mas udah bilang jangan banyak gerak, jadi gak seimbang jatoh deh akhirnya."


Aku mendongak menatap ke arahnya lalu menatapnya sebal. " ini sakit banget loh, kamu masih sempat ngomelin aku! Lagian kamu juga sih mas, pake ngatain gitu padahal kamu loh yang bau bunga bangkai."


"Eits, sesama bau bunga bangkai gak boleh saling ledek." ujar Leonardo, aku tetap memegangi daerah badanku yang agak ngilu akibat insiden jatuh yang terjadi karena ulahku sendiri.


"Lagian kamu ini sih kurang inisiatif gitu, gak sadar apa suaminya ini mau modus, tadi itu maksudnya mau ngajak mandi bar-" sebelum Leonardo menyelesaikan perkataannya aku terlebih dahulu menyelanya dengan mencengkeram lumayan keras bahunya untuk berusaha berdiri.


"SAKIT BANGET YA GUSTI!" pekikku dengan suara yang keras hingga memenuhi seluruh ruangan yang ada di rumah ini.


"Lagian kamu kok tinggi banget sih mas? kalo jatoh dari gendongan kamu ya jadinya sakit banget begini." omelku.


"Gak tinggi - tinggi banget kok, cuma 188cm doang." sahut Leonardo


188cm itu tinggi banget bambang, apa lagi tinggiku cuma 158.5 begini, kudu di kasih 0.5 ya, soalnya biar agak tinggi dikit gitu aku, pas jalan sama Leonardo berasa lagi jalan sama tower sinyal, anjir.


"Au ah, princess sebel jadinya, gak mau tahu besok panggilin tukang urut." desakku pada Leonardo


"iya - iya, besok mas suruh tukang urut langganan mami buat kesini." tutur Leonardo, dia kembali membopongku dan membawaku kedalam gendongannya ala bridal style, kemudian dia tersenyum smirk sedikit aneh, seperti tengah berada dalam mode gaharnya.


Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku lalu membisikkan padaku. " malam ini mas yang pijitin gimana?" sambungnya sambil sedikit meniup di telingaku.


aku langsung begidik ngeri mendengar perkataannya.


"Awas aja kamu berani macam - macam sama aku yang lagi kesakitan begini, aku suruh tidur di kamar tamu!" ancamku padanya, dia meringis.

__ADS_1


"gak macam - macam kok sayang, cuma satu macam." ujarnya.


"MAAS!" pekikku


__ADS_2