Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 24


__ADS_3

ketika makanan yang dipesan leonardo telah datang, ia mengajakku pergi keruangan yang ada di balik pintu disudut ruang kerja leonardo.


disana terdapat ranjang berukuran besar dengan lemari, televisi dan sofa, terdapat kamar mandinya juga.


aku sedikit tercengang melihat ruangan ini pertama kalinya.


bagaimana bisa terdapat kamar di dalam ruang kerjanya.


"dulu mas jarang pulang ke rumah, jadi mas bikin deh kamar yang nyaman disini, yuk makan disini aja deh." kata leonardo.


dia meletakkan makannan tersebut diatas meja lalu menatanya dengan rapi, dia membuka lemari yang cukup besar itu kemudian mengeluarkan beberapa peralatan makan.


aku kembali mentapnya heran.


asli deh kayak kostan, haha.


"kamu nanti kalau capek nunggu mas, bisa tiduran disana." kata leonardo. tanpa dia suruh aku pasti tiduran juga


"dih, siapa mau nungguin mas sih, alina pulang duluan lah bareng supir kan bisa." jawabku.


dia berhenti menata makanannya.


"engga bisa, pokoknya mas yang antar." elaknya.


aku berjalan kearahnya lalu membantunya untuk menyiapkan makanannya.


"iya deh iya, alina tunggu masku disini sampai kerjaannya selesai dan pulang bareng, mumpung mood alina lagi baik nih."


dia meringis.


"beneran yaa?"


aku menaik trurunkan kedua alisku dengan cepat.


"makan nya cepetan terus kembali fokus kerja lagi, kalau mas disini terus nanti yang ada malah bikin alina ngerasa kalau kedatanganku kesini malah menganggu dan buat mas jadi gak fokus, nanti alina gak mau kesini lagi loh." ancamku.


"siap boskuh." dia menegakkan badannya lalu meletakkan tangannya disudut alisnya seperti orang yang tengah membuat hormat.


aku tersenyum melihatnya.


----------


langit senja mulai nampak, aku berdiri di depan jendela besar yang menampakkan pemandangan kota di sore hari ini terlihat sangat cantik.


usai leonardo membangunkanku untuk bersiap pulang, aku segera mandi agar ketika pulang aku merasa nyaman dan badan sudah tidak terasa lengket.

__ADS_1


"baju gantinya ada di lemari bae." pesan leonardo saat aku hendak masuk ke kamar mandi.


jadi dia telah menyiapkan semua ini gunanya berjaga - jaga jika aku pergi ke kantornya sewaktu waktu.


aku melihat ada 5 setel pakaian wanita yang tergantung didalam sana.


pandanganku langsung tertuju pada loker kaca yang ada didalam sana, ada berbagai macam make up dan skin care yang ada didalam sana.


mataku seketika berbinar binar melihat surga para wanita tersebut.


sebentar, aku tidak boleh sesenang ini terlebih dahulu.


bisa saja ini ia menyiapkan seperti ini karena sudah banyak wanita yang silih berganti berada di kamar ini.


cih!


kenapa aku malah berpikir yang tidak tidak, setelah mendapatkan perlakuan yang sangat baik dan istimewa dari leonardo.


bangjahe is calling..


abang? duh kangennya sama abangku yang gesrek ini. aku menjawab panggilannya.


"halo justin bieber disini, kenapa telpon dek?" kata abang.


"kan lo yang telepon sukenah " jawabku nyolot.


"ais, nyolot sekali ibu direktur ini, abang kangen dek."


aku menertawakannya.


tidak biasanya dia berkata seperti itu, bisa bisanya dia berkata perkataan manis seperti itu.


"pasti abang mau minta uang jajan ke gue kan? selalu kayak gitu pas ada maunya."


"dih. kaga anjir. yodah kalo ga mau di kangenin." dia malah ngambek.


"haha, engga engga. gue juga rindu suasana rumah bang. kangen mama, sebulan lalu kerumah tapi gak ada siapa siapa."


"itu sengaja dibikin kek begitu dek, mama baru pengen ketemu lo kalo udah bawain kabar kalo dia mau punya cucu, katanya gitu sih." kata bang jaehyun.


aku membelakkan mataku tak percaya.


"WHAT? cucu apaan bang, duh mama ini ngomongnya ngelantur." jawabku sangat terkejut dan sedikit cringe.


"lah, lo kan udah kawin, masa belum program ngisi sih."

__ADS_1


"ngisi apaan?" tanyaku.


"ngisi perut." jawab bang jaehyun.


"makan?" tanyaku sekali lagi.


"begonya astaga adek gue  dah lah abang tutup teleponnya mau sholat taubat dulu mintain adek gue yang bego ini biar dapat hidayah." ocehnya.


"eh eh, jangan dulu bang, seriusan apaan dah?" desak ku


"dek, jangan bilang lo belum kasih suami lo jatah?" bang jaehyun mengintrogasiku.


aku hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa, jika aku bilang belum dia pasti akan menceramahiku, kalaupun aku berbohong dan mengatakan sudah, kenapa aku tidak bisa langsung menangkap perakataan bang jaehyun tentang 'program ngisi' tadi.


"b-belum bang." jawabku.


"ASTAGANAGALAALA, kurang apa coba suami lo dek, cakep iya, baek iya, kaya iya, perhatian iya, sabar iya. nah sekarang lo malah nguji kesabaran dia sebagai suami" dia terus mengoceh dengan hebohnya


"abang kok malah belain dia sih? gue kan cuma belum siap aja bang!"


"belum siap aja terus, sampai suami lo diambil pelakor, inget dek, sabar ada batasnya loh, apalagi kalau sampai nafsu leonardo yang udah tidak bisa tertahankan dan nalurinya sebagai laki laki yang berjalan, kelar hidup lo! dah abang tutup panggilannya."


tuut tuut


entah mengapa tiba - tiba wajah sekertaris leonardo yang terus menggodanya terngiang di kepalaku aku mengacak rambutku frustasi.


Ting!


1 pesan masuk


aku melihat nama bang jaehyun yang tertera disana.


"ingat, istri yang gak kasih jatah suaminya diranjang, bakal dilaknat malaikat seluruh semesta loh dek!"


aku begdik ngeri. idih, mentang mentang dia laki laki juga, giliran jatah aja semangat.


jadi apa yang harus aku lakukan?


"bae!" panggil leonardo yang tiba tiba masuk


secara tak sengaja aku melemparkan ponselku karena sangat terkejut karena kedatangannya.


"mas, udah selesai. abis ini pulang yuk." ajaknya.


aku mengangguk lalu mengambil ponselku.

__ADS_1


__ADS_2