Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected Marriage • 79


__ADS_3

Mengamati wajah suamiku dari jarak yang cukup jauh yang tengah bekerja ini menurutku cukup terlihat seksi di mataku, padahal ia hanya mengenakan baju kasualnya dan di padukan dengan memakai celana selutut.


Ia mengenakan kaca mata padahal yang aku tahu tidak ada masalah di matanya.


"Mas, kenapa pakai kacamata sih, tumben." Tanyaku penasaran.


"Biar keliatan ganteng gitu sayang, tadi mas sempat lihat di kaca kalau kelihatan ganteng saat pakai kacamata, ya sudah mas pakai deh." Jawabnya sambil membenahkan kacamatanya.


Aku terkekeh pelan, dia yang melihatku tengah tertawa lirih ini sepertinya berhasil membuatnya penasaran.


"Ih, kamu lagi ketawain mas ya?" Ujarnya penasaran.


"Kepo. " Jawabku singkat.


"Pasti kamu seneng banget ya punya suami seganteng aku sayang, harus banyak - banyak bersyukur kamu, udah di kasih suami ganteng, baik, tidak sombong, rajin menabung kayak mas ini. "


'Nah kan. Setiap hari semakin narsis dia.' kataku membatin.


"Mas narsis ih." Ledekku.


"Tapi sayang kan sama mas?" Ujarnya. Semulanya aku diam sejenak.


"Ya sayang lah." Jawabku. Leonardo tersenyum penuh kemenangan mendengar perkataanku.


"Eh, tapi bohong." Sambungku. seketika senyuman yang terukir di bibirnya perlahan menghilang. Leonardo menatapku dengan raut wajahnya yang sedikit cemberut, dia mencebikkan bibirnya, lucu.


"Gak usah manyun gitu mas, kayak bebek." Ledekku sekali lagi. Entah kenapa aku sangat suka sekali saat menggoda Leonardo seperti ini.


"Untuk kali ini mas masih maafkan soalnya kamu lagi sakit bae, tapi untuk selanjutnya. Tanpa aba - aba langsung mas terjang saja kamu sampai besoknya gak bisa keluar dari kamar, hehe. " Kata Leonardo dengan nada sedikit mengancam, ia mengucapkannya dengan melirik kearahku.


"Aku sih gak peduli, hehe." Jawabku, lalu berbalik posisi sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhku.


"Ah, kok jadi kamu yang ngeselin sih bae, tapi mas tetap sayang, sayang banget malah, hehe." Gumamannya masih terdengar olehku.


-o0o-


Kembali dengan aktivitasku seperti semula, keadaanku kini sudah mulai membaik, sudah tidak lagi demam dan aku juga tak merasa pusing.


Kemarin Leonardo merawatku dengan baik, meskipun ia tengah berada di dalam kesibukan yang datang secara tiba - tiba.


sebagai seorang suami, Leonardo pasti akan menjadi banyak idaman wanita, selain wajahnya yang tampan ia juga sangat perhatian dan pandai sekali membuat hati meleleh dengan sikapnya yang romantis dan terkadang menggemaskan.


Usai menyiapkan sarapan untuk suamiku, ia berpamitan untuk pergi ke kantor seperti biasanya, aku mengamit tangannya kemudian mencium punggung tangannya. Leonardo menangkup pipiku kemudian mencium keningku sekilas sebelum pergi.

__ADS_1


"Telepon mas kalau kangen ya, hehe. " Ucapnya sebelum pergi. Ia melambaikan tangannya. Aku pun membalas lambaiannya.


Aku menunggu Leonardo benar - benar menghilang dari pandanganku, tak lama kemudian barulah aku merasa sangat kesepian, dan entah mengapa rasanya aku merindukannya, padahal ia baru saja pergi.


Rumah besar ini sepi.


Aku rindu mama, dan ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tapi, seluruh anggota keluargaku sudah memintaku tenang supaya tidak sampai membuat mama semakin kepikiran.


Kembali seperti keadaanku yang semula, karena ujian seleksinya telah usai, aku bisa kembali menonton drama korea kesayanganku.


Setelah mengambil beberapa snack dan minuman, aku menuju ke home theater yang berada di dekat kamar tamu, sekiranya persiapan sudah siap aku langsung memulai menonton drama korea yang telah aku pilih.


-o0o-


Drrt.. drrt.. drrt


Aku meraih ponselku yang aku letakkan tak jauh dari tempatku berada, lalu melihat nama Mami yang tertera disana.


"Halo Mam. "


"Hai sayang, bagaimana kondisi kamu sekarang? Sudah membaik kan? " Tanya Mami.


"Ah, iya Mam. Alina sudah baikan kok. " Jawabku.


"Enggak mam, kaki Alina sehat kok. " Jawabku.


"Berarti bisa dong temanin Mami shopping hehe. "


Aku terkekeh mendengar perkataan Mami, " Iya mam, hehe. Alina temanin deh." Jawabku.


"Kamu sebagai wanita harus mempunyai jiwa shopping sayang,hehe. 10 menit lagi Mami jemput ya.. Mami udah on the way ini. " Tuturnya.


"Iya Mami. Alina siap - siap dulu ya. "


Mendengar Mami yang ingin mengajakku shopping aku menjadi sedikit lebih bersemangat, karena daripada hanya berdiam di rumah sendirian seperti ini, aku rasa lebih enak jalan - jalan, meskipun bersama mertua.


Tak perlu persiapan yang berlebihan, aku memilih mengenakan midi dress dengan corak bunga - bunga yang soft, kemudian rambut panjangku aku biarkan tergerai begitu saja, tak lupa memoleskan sedikit bedak dan menganak liptint.


Aku mengambil tas selempang Louis Vuitton hadiah dari Leonardo saat seserahan pernikahan dulu


Aku pun siap berangkat, sambil menunggu Mami datang, tentunya aku berpamitan ke Leonardo terlebih dahulu kalau aku akan pergi dengan Maminya untuk shopping.


Menekan nomor 1 yang langsung terhubungkan pada nomor suamiku Leonardo.

__ADS_1


"Assalamualaikum Mas, Alina mau pergi shopping di ajakin Mami ya.." Ucapku.


"Waalaikumsalam sayang, iyaa. Hati hati dijalan ya sayang, jangan lupa kabarin Mas lagi kalau kamu sudah sampai di mall."


"Iya mas, Alina tutup dulu teleponnya."


"Love you.." Kata Leonardo.


"Love you too.." Jawabku, cepat - cepat aku menutup panggilannya.


Masih sedikit malu rasanya.


"aduh.. duh lucu banget kalo lihat anak muda lagi pacaran gini hehe. Padahal juga mau di tinggal nge mall pake love you love you segala, gemes."


Aku tersentak kaget saat dengar suara Mami yang rupanya memergoki kejadian tadi. Semakin malu aku rasanya.


"Eh Mami sudah datang. Alina jadi malu gara - gara terciduk hehe.." ujarku.


"Ngapain malu segala sayang, mami malah seneng kalau rukun dan saling sayang satu sama lain." Tutur Mami. aku mengangguk pelan.


"Udah yuk berangkat, Mami pengen cepat - cepat beli baju si kecil hehe.." Ujar Mami sembari menggandeng tanganku.


"Si kecil siapa Mi?"Tanyaku spontan.


"Cucu pertama Mami lah." Jawab Mami penuh semangat.


"Tapi bayi nya kan belum ada mi, perut Alina kan juga masih kosong." Kataku.


Aku menjadi bingung sendiri harus menanggapi mami seperti apa lagi.


"Ya kan namanya proses, makanya harus terus berproses biar cepet jadi si kecil."Ujar Mami


"Hehe, i-iya Mam."


Aku menjerit di dalam hatiku, dikira proses pembuatan si kecil semudah bikin telur ceplok.


Nampaknya dari kedua belah pihak keluarga kami sudah tidak sabar menantikan kehadiran anak pertama kami yang nantinya akan menjadi cucu pertama dari kedua orang tuaku dengan kedua orang tua Leonardo.


Menurutku faktor inilah yang membuat mereka menjadi menggebu - gebu ingin segera menimang cucu.


Untuk kedepannya aku bingung, harus menyegerakan progam anak ini sedangkan di faktor lain aku yang baru saja akan memulai kehidupan kuliahku.


Sebaiknya aku menunggu Leonardo pulang, dan berdiskusi dengannya.

__ADS_1


__ADS_2