
Hari pertunangan telah tiba, sungguh hari yang sangat tidak ingin alina lalui, jika saja dia memiliki pintu kemana saja milik doraemon pasti dia sudah kabur kemana pun asal yang jauh dari hal yang berbau seperti ini.
Alina's pov
Tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku hari ini tapi, semoga saja acara yang merepotkan ini harus berjalann sesuai rencana tanpa aku harus berbuat hal yang aneh- aneh dan tidak memalukan keluargaku. tapi bagaimana caranya.
aku benar benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar acara ini berjalan mulus tanpa ada kesalahan yang akan aku perbuat nantinya.
tok..tok.. tok
"Alina penata riasnya udah dateng sayang" kata mama
Mama menghampiriku dan melihatiku tengah cemberut.
"Lah, jangan di tekuk gitu dong mukanya."
"Alina gak tahu acara ini bakal mulus apa engga, tapi alina minta maaf sama mama dari awal kalau seumpama nanti Alina bakal ngelakuin kesalahan. Alina udah mencoba yang terbaik untuk nerima perjodohan ini demi nurutin satu-satunya permintaan mama dan papa dari pertama alina lahir sampai sekarang, Alina cuma bisa kabulin yang satu ini." air mataku tiba tiba saja jatuh dengan sendirinya, aku sudah tidak kuat untuk membendung semuanya. akhirnya aku telah mengucapkan perkataan yang sangat mengganjal di hatiku.
"Mama yakin kamu bisa, Alina percaya kan sama mama?"
Alina mengangguk.
"Mama pasti kasih alina yang terbaik." mama memelukku dan membiarkan aku menangis dibahunya sejenak lalu menangkup wajahku.
"Eh, gak boleh nangis dong, hari ini kamu pemeran utamanya loh sayang. udah ya, mama tinggal biar kamu dirias.
* * * *
*Jepret*
"Senyum yang cantik kak jangan lesu dong." ujar penata rias itu kepadaku.
"Gak bisa kak huaa " jawabku
Aku mengipasi wajahku dengan tanganku karena tiba- tiba saja aku ingin menangis kembali.
'lah kenapa jadi cengeng gini gue?'
"Eh kak btw, abangnya cakep ya."puji salah satu penata rias yang mendandani ku tadi.
"Cakep kak, tapi gak doyan sama cewek." jawabku asal.
"Lah masa? sayang banget ya."
"Sebenernya dia loh yang mau nikah." ujarku membubuhi perbincangan ini agar terdengar makin panas.
"EHEM abang denger loh dek." kata bang Jaehyun dengan nada kesal.
"Eh abangku yang paling cakep. udah siap nih mau kawin?"
"Ngasal aja ya kamu bicaranya, abang lo ini demen nya sama cewek loh dek!"
"Oh, baru tahu" goda Alina.
"Udah sini kamu,buruan acaranya mau dimulai."kata bang jaehyun.
__ADS_1
Alina berjalan menuju abangnya berdiri lalu berhenti didekatnya dan berbisik.
"Tukar cincin beres kan ya?"
bang Jaehyun berbisik.
Oke lah kalau begitu, berarti yang harus aku lakukan adalah bertukar cincin dengannya lalu kembali kekamar, dan poin yang paling penting hari ini aku tidak perlu untuk menatap wajahnya yang sangat tidak penting itu, ups~!
'Ayo Alina, kamu pasti bisa! hanya bertukar cincin.' ucapku menyemangati diriku sendiri
Bang Jaehyun berjalan sambil menggandeng tanganku lalu aku menghentikan langkahku.
"Bentar bang Alina lupa cara nafas." ucapku absurd
"Apaan sih dek?" bang Jaehyun memandangku heran.
"Tarik nafas pelan pelan."kata bang Jaehyun
"Brojol deh"sambungnya
Aku memukul lengan bang Jaehyun
Melihat banyaknya keluarga ku yang lain datang membuatku semakin gugup, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan saat mereka tahu siapa calon suami yang akan menikahiku.
yang jelas pasti aku akan menjadi trending topic bahan obrolan keluarga dan kerabat karena bersedia menikah dengan om om yang seperti itu.
Susunan acara telah di sebutkan oleh salah seorang pamanku yang tengah menjadi pembawa acara pada hari ini.
Dan tentunya jantungku sangat berdegup kencang saat paman ku mulai menyebutkan
acara inti dari hari ini
Di hadapan semua orang?
Oh no!
Menunduk Alina
Kamu cuma perlu menunduk dan tidak usah melihat wajahnya' ucapku menyemangati diriku sendiri
Aku berjalan sambil menunduk tanpa melihat wajah om genit itu.
Ah sial
Perutnya yang sangat buncit itu sungguh catchy di mataku saat aku berhadapan dengannya, tak kuasa aku ingin meninggalkan acara ini secepatnya.
Okay, rencana berjalan sesuai dengan harapanku.
Aku segera beralih dari tempat ini dan kembali kekamarku dengan cepat, tidak peduli apa kata keluarga dan kerabat yang lainnya, yang penting aku bisa menjalani acar tukar cincin dengan sangat baik.
"Eh lin?"panggil seseorang
aku menoleh
"Sarah?" jawabku, ternyata dia adalah sepupuku.
"Anjir gue kaget lo mau nikah lin. kok kagak bilang sih?"
__ADS_1
"Gue aja gak tahu kalo gue mau nikah. ya kali gue mau bilang ke lo sedangkan gue nikah sama orang kek begitu dan dengan bahagia nya gue mau sebar sebar." kataku sedikit melow
"Dih apaan jangan sok galau gitu ah! btw kalian cocok loh! calon suami lo kocak banget serius!"
Aku lagsung memasang wajah datar kearahnya.
"Gue ke kamar dulu, perut gue sakit banget nih." kataku beralasan agar bisa kabur.
Sarah mengangguk tak yakin lalu aku meninggalkan nya.
Aku menoleh sejenak kebawah melihat orang-orang yang sepertinya berkumpul sangat bahagia.
Bahkan aku melihat ada om genit itu berdiri ke sekumpulan keluargaku dan tertawa dengan renyah
* * * *
Sekali lagi aku terbangun dari tidurku saat aku mencium aroma makanan yang sangat lezat yang berasal dari kamarku.
Aku menajamkan penciuman hidungku dan memang terdapat makanan lagi di meja belajarku yang tentunya terdapat memo pad yang tertempel di nampan tersebut.
Jangan telat makan, kesehatanmu itu prioritasku Alina <3 gws maluv
-yours
Aku membacanya dengan sedikit ada rasa disgust yang mengusikku.
Bagaimana dia bisa sangat baik dan perhatian kepadaku? sedangkan aku selalu mengejeknya, menjelekkannya. intinya aku tidak pernah memperlakukannya dengan baik selama ini, tapi dia bisa sebaik ini.
Dengan cepat dan lahap aku menghabiskan makanan yang ada di hadapanku saat ini.
usai memakannya hingga habis aku langsung meletakkan nampan itu ke dapur.
"Alina? perutnya masih sakit sayang?" tanya mama yang sedang duduk di ruang makan.
"Udah mendingan ma." jawabku berbohong.
Ya kali, gue kan gak sakit perut anjai, tadi kan gue cuma akting biar bisa kabur dari acara pertunangan ini.
"Bagus lah kalau begitu, tadi Leonardo udah khawatir setengah mati."
"Dih lebay mama."
"Loh, mama ini seriusan loh! tad1i dia langsung pergi ke apotek, beliin kamu obat sakit perut, abis gitu dia masakin kamu makanan yang udah kamu habisin itu,jadi jangan lupa obatnya diminum." omel mama
"Iya ma."ucapku sambil mengangguk.
Ting!
Aku langsung merogoh saku celanaku
Om gatal : Gimana? perutnya udah mendingan, obatnya udah diminum?
Om gatal : Aku khawatir loh.
alina : Oh
Om gatal : Jaga kesehatan kamu ya, makan yang teratur, jangan sering begadang.
__ADS_1
Alina : Bacot.