Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 60


__ADS_3

Hari sudah mulai beranjak siang, namun hujan masih saja turun dengan derasnya dan belum kunjung mereda yang pada akhirnya membuat kami hanya ingin bermalas malasan di dalam rumah sambil ngemil makanan atau sekedar rebahan.


“ mas mama bilang hari ini kita nggak usah ke rumah mama, soalnya lagi hujan deras.” Kataku pada leonardo, sembari berjalan menuju kearah nya yang sedang asyik bermain fortnite di komputernya.


Aku berdiri di samping leonardo, dia hanya menoleh ke arahku sejenak lalu mengangguk sebentar dan kembali lagi fokus bermain game.


“ah, game terus. Aku nya di anggurin terus dari tadi huh.” Sindirku pada leonardo.


Leonardo yang tengah memakai headphonenya langsung melepaskannya lalu menatap kearahku yang sudah membuat ekspresi sangat cemberut.


“dih itu muka kenapa kok dilipat – lipat gitu?” tanya leonardo.


“kamu tadi ngomong apa, mas gak denger.” Sambungnya.


Aku memutar bola mataku dengan cepat, sudah terlalu malas untuk mengulang perkataanku.


“ ha? Alina gak ngomong apa – apa kok, mas lanjtin aja main game  aku mau ke dapur dulu.”


Ketika aku hendak melengos pergi namun dengan gerak cepat tangan kekar milik leonardo sudah terlebih dahulu mencekal lenganku membuatku tetap berdiri di tempatku tadi.


“ ngomong dong, mas udah kepo nih.” Ujarnya dengan nada lembut dan raut wajah yang terbingkai senyuman disana.


Srrt..


Leonardo menarik lenganku yang berada di cekalannya dan pada akhirnya membuatku terduduk di pangkuannya yang tengah duduk di kursi gaming tersebut, dia mebalikkan badanku agar menatapnya lalu satu tangannya ia rangkulkan di sekitar pinggangku, dan satu tangan nya lagi membelai rambut panjangku yang sengaja aku biarkan ter urai begitu saja.


“ kenapa sayang?” tanya leonardo sekali lagi masih dengan nada bicara yang tenang.


“mas lanjut main aja ih, ntar di report kalo afk begini.” Ujarku sambil memalingkan wajahku yang jaraknya sudah sedekat ini.


“ biarin aja deh gamenya, mas udah bosen main game maunya sama kamu aja.” Mendengar ucapan manis dari leonardo aku sengaja sedikit memberontak darinya.


“ game aja sana, tadi kayak betah banget kok baru sekarang mau manja – manja sama aku dih.” Crocosku.


What the- apa yang baru saja aku ucapkan? Aku benar – benar tak percaya kalau aku bisa mengucapkannya, seolah aku meminta untuk dia bermanja – manja denganku sedari tadi, dan terlebih lagi disini semakin terlihat kalau aku marah karena merasa di abaikan karena dia tengah bermain game.


Aku memukul pelan mulutku.


”ah, bodo amat. Lupakan.” Seruku dengan suara yang cukup keras, aku berusaha bangkit untuk lepas dari rangkulan leonardo meskipun aku tahu kalau dia tidak akan melepaskanku dengan semudah itu.


Kejadian yang terjadi selanjutnya persis seperti yang aku katakan sebelumnya, dia malah semakin menarikku yang malah membuat kami berpelukkan, daguku sudah berada di pundaknya, dia mengunci ku rapat sehingga aku tidak dapat bergerak sedikit pun.


“ bae aku laper.” Keluhnya dengan memelukku erat.

__ADS_1


“hm, ya udah lepas dulu makanya aku masak bentar.” Ujarku ber alasan.


“ tapi pengen nya makan kamu, gimana? Boleh gak.” Tanyanya yang kemudian di susul dengan terkekeh pelan.


“duh, apa sih mas? Lepas ah.” Kataku sambil berusaha untuk memberontak kembali.


“sayang mas pengen..” ujar leonardo random.


“hah? Pengen apa?” tanyaku kemudian dengan nada yang gopoh dan berusaha menerka –nerka kemauannya.


“um, cicil bikin jagoan kecil yuk biar rumahnya rame.” Jawabnya.


Blush!


Masih di pelukan leonardo dan daguku masih bersandar di pundaknya aku memegangi kedua pipiku yang terasa memanas ini.


Aku mengangguk sangat pelan menyetujui ucapan dari leonardo, aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk menjadikanku sebagai miliknya seutuhnya tak ingin mengulur waktu lagi, dan tak lagi ingin menunda di lain waktu aku harus melaksanakan kewajibanku untuk melayaninya.


“ beneran boleh nih?” tanya leonardo sekali lagi, aku hanya terdiam karena sangat malu untuk menjawab perkataannya tersebut, namun dia nampak sangat gembira mendengar jawabanku sebelumnya saat menyetujui permintaannya.


“asik sekarang kita gol in satu dulu ya, itung – itung kalo dapet kembar ya rejeki, hehe.” Ujar leonardo, ah aku semakin tersipu.


Leonardo menarik kakiku lalu melingkarkan kakiku di sekitar pinggangnya, aku mengalungkan tanganku di tengkuknya, kemudian dia berdiri sambil berjalan dengan posisi tengah menggendongku seperti ini.


“hm?” jawabnya.


“itu.. nanti pelan pelan ya.” kataku lirih, terdengar sangat gugup dan tentunya aku semakin malu saat mengucapkannya.


Ya maklumlah, sekali lagi aku tegaskan, aku kan masih minim pengalaman tentunya pasti akan sangat takut deg – deg an dan campur aduk rasanya saat akan melakukan ‘itu’.


Leonardo terkekeh pelan.


“iya, nanti pelan – pelan.” Jawabnya. Aku mengeratkan rangkulanku di tengkuknya, dia berjalan menuju kembali ke kamar kami.


-----------


Leonardo meletakkan ku dengan sangat hati – hati di ranjang, aku memundurkan badanku, leonardo masih berdiri di depan ranjang sambil mulai membuka kancing piyama yang ia kenakan dan mulai menanggalkannya.


Aku menyipitkan mataku, dan berusaha untuk memalingkan pandanganku dari pemandangan perawakan tubuh atletis milik leonardo yang tentunya terawat dengan indahnya.


Untuk sekarang aku sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk mundur, aku yang meminta kepada leonardo untuk mengunci kamar dengan rapat, juga aku tidak ada lagi niatan untuk menendang, menonjok, nampol atau kekerasan yang lainnya, karena untuk kali ini aku tidak menolak permintaannya dan aku melakukan ini dengan suka rela.


Dengan langkah perlahan leonardo mulai menaiki ranjang, dan dia mulai mendekat kepadaku dia meletakkan kedua tangannya di pundakku, seraya aku menoleh kearahnya dan melihatnya yang tengah menatapku dengan tatapan yang dalam ia menyungging senyuman cerah disana.

__ADS_1


“ i love you babe, thank you for coming into my life.” Bisik leonardo tepat di telingaku ia mulai merengkuhku, dan aku membalas rengkuhannya.


“i love you too.” Ucapku pelan, leonardo mempertemukan wajah kami dan menempelkan dahinya dengan dahiku lalu dia tersenyum.


“mas berterima kasih banyak sama kamu yang udah nerima aku apa adanya, dan sudah rela untuk mencintai aku sebagai suamimu.” Ujarnya sambil memejamkan matanya senyuman yang terukir disana belum memudar, aku pun ikut memejamkan mataku sambil tersenyum.


Tengah – tengah memejamkan mataku, aku dapat merasakan bibir lembut leonardo sudah menempel dengan bibirku, dia menciumku dengan lembut dan begitu intens, aku menikmati setiap sentuhan yang ia berikan.


Tanpa aku sadari kejadian yang sebenarnya terjadi aku melihat sekilas ke samping ranjang baju piyamaku yang sudah di buang asal kesana dan sekarang menyisakan tank top yang melindungi bagian atasku, tangan leonardo sudah asik gencar untuk menulusuri setiap inci bagian tubuhku.


“uhh-” aku sudah berusaha dengan keras untuk menahan suara laknat itu agar tidak lolos, namun hasilnya nihil tetap saja dia terlepas.


Leonardo semakin semangat untuk melanjutkan aktifitasnya, dia membaringkanku di ranjang dan mulai menanggalkan semua pakaian yang kita kenakan.


------


tersirat dari wajah leonardo menunjukkan kalau dia terlihat panik saat melihat darah yang mengalir dari milikku, dia menatapku khawatir.


"sakit gak?" tanya leonardo dengan tampang cemas.


ya iyalah sakit maemunah, pake acara nanya segala.


aku memukul bahunya pelan. " ya sakit lah mas."


dia malah meringis.


"lanjutin gak nih." tanya leonardo.


astaga please ya! leonardo gak usah tanya lagi nanggung banget kalo sampai dia berani menghentikannya di tengah - tengah seperti ini.


"lanjutin aja." jawabku.


"oke, mas lanjut ya." ujarnya


"tapi pelan - pelan." sahutku.


"iya pelan kok."


 


---------------------------------


ASTAGA GAES :(( AKU GAK BISA NULIS BEGINIAN HUAA

__ADS_1


oke, jadi aksi jebol gawang milik alina sudah terlaksanakan, untuk reader bagaimana? sudah bisa bernafas lega?


__ADS_2