
Alina's pov
setelah aku berpikir cukup keras selama berada di kamar mandi tadi, aku telah memutuskan untuk menanyakan kepada leonardo perihal sikapnya yang dari sebelum - sebelumnya yang seolah tengah berusaha untuk menyembunyikan sesuatu dariku.
hanya karena aku merasa tidak nyaman, dan aku rasa cukup wajar untuk seorang istri mengetahui masalah yang tengah dihadapi suami iya kan?
usai leonardo yang memasang tampangnya yang sudah kembali seperti biasa dihadapanku, dia masuk ke kamar mandi. aku membaringkan badanku di ranjang yang berukuran king size ini dengan keadaan memakai bathrobe yang melilit pada tubuhku.
pandanganku tertuju pada handphone leonardo yang dia letakkan di nakas samping ranjang, jujur saja aku sebenarnya ingin untuk memeriksanya, ya meskipun itu terlihat sangat tidak sopan untuk menerobos pivasinya, namun aku urungkan niatanku terlebih dahulu. karena setelah kupikir kembali kenapa aku menjadi sangat mencurigainya?
leonardo sudah terlalu baik untuk seseorang yang sepertiku, dia selalu memperlakukanku dengan baik pula bahkan dia tidak pernah merasa kesal pada sikap murniku yang menjengkelkan dan kasar, dia menerima kekuranganku, tetapi aku malah seperti sibuk mencari kesalahannya.
"bae!" panggil leonardo.
"apa mas?" jawabku,
"eh sayang, sempak mas tertinggal, tolong ambilin dong."
eh anju, sempak -_-
"dih ogah ah, mas ambil aja sendiri." jawabku.
__ADS_1
"ya udah mas keluar naked ya." ancamnya.
"astaghfirullah, ya jangan naked juga kali mas. di dalem kan ada bathrobe, ada handuk, gimana sih." omelku.
"males pake." ujarnya,
jawaban yang sangat tidak logis, mau nya apa coba?!
"oke oke, alina ambillin, di koper kuning kan?" kataku mengalah.
"iya, ambilin terserah dah yang mana, kamu pilih warna yang kamu suka aja bae." ucapnya dari ambang pintu kamar mandi.
aku bangkit dari ranjang dengan sangat malas, karena aku sebenarnya sudah berada di posisi yang sangat nyaman saat berada di atas ranjang tadi, tapi leonardo malah menggangguku.
aih.
aku menggeret koper kuning yang berisikan baju dan perlengkapan leonardo yang lainnya, lalu menggeletakkannya di lantai kemudian langsung mulai membuka dan mencari dalaman leonardo.
tanpa basa basi aku mengambil dalaman leonardo yang terpampang nyata diatas bagian koper saat dibuka, aku membawanya hanya menggunakan ibu jari dan telunjukku lalu aku jauhkan dari tubuhku.
aku memicingkan mataku sambil menelan salivaku dengan susah payah, seketika aku membuang pandanganku ke arah yang berlawanan saat melihat celana dalam yang bertengger brand Calvin Klein disana, bukan merk ku yang membuatku tercengang tapi ukurannya.
__ADS_1
*PLAK!
alina sadarlah! kenapa jadi seperti ini? pikiranku lari kemana?
aku menghela nafasku sejenak berusaha untuk bersikap tenang, sepertinya leonardo akan menertawakanku setelah ini melihat tingkahku yang menjadi seperti ini.
Tunggu, apa dia sengaja berniat untuk mengerjaiku dengan ini?
Mungkin bagi pasangan suami istri yang lain, ini sudah menjadi hal yang sangat lumrah, tetapi tidak bagiku. Aku sangat amatiran dan tentunya belum terbiasa dengan yang seperti ini.
Ini baru permulaan, aku belum melihat lebih jauh hubunganku kedepannya dengan leonardo.
“nih mas.” Aku berdiri dari balik dinding sambil berusaha agar tidak nampak dari hadapan leonardo.
“ makasih ya bae, wah ini favorit aku.” Ucapnya.
“bodo amat mau favorit kek mau enggak kek, orang gue ambilnya ngasal.” Gumamku.
“sama sama.” Jawabku pada leonardo.
Terdengar suaranya yang kembali menutup pintu kamar mandi, aku kembali ke posisiku yang semula, berbaring di ranjang sambil memainkan ponselku.
__ADS_1