
“mama kita pulang dulu yaa.. jangan kangen hehe.” Ucapku berpamitan kepada mama.
Lalu mama melambaikan tangannya kepadaku dan leonardo.
“hati – hati dijalan..” ucap papa.
“jangan ngebut ya nak.” Imbuh mama.
Ish dikira kita masih anak stm apa! Yang doyan balapan, aku meringis.
“ya enggak lah mam. Kita kan udah gede ngapain ngebut ih.” Elakku.
“cie udah gede.” Timpal leonardo, aku bergerak spontan ingin mencubitnya namun aku mengurungkan niatku, karena takut mama akan kembali memberiku siraman rohani kepadaku.
“hehe, yuk mas pulang.” Ucapku sambil tertawa garing.
“ah ayo ayo.” Ucap leonardo.
“kita pulang ya mam.” Pamit leonardo sekali lagi.
Mama dan papa mengangguk, aku tidak tahu dimana keberadaan bang jaehyun saat ini, tapi yang jelas sepertinya dia sedang asik bermain fortnite di kamarnya seperti biasa.
Setelah leonardo membukakan pintu untukku, akupun langsung masuk kedalam mobilnya. Tak lama kemudian ia mulai membawa mobil ini keluar dari kawasan rumahku.
“bawa apa sih tadi bae? Kok kayaknya banyak barang.” Tanya leonardo dengan pandangannya yang fokus menatap kejalanan.
Aku meringis sejenak.
Hehe..
“tapi janji mas gak boleh marah sama alina ya? plis.” Pintaku padanya. Dia mengangguk pelan seperti meragukan sesuatu.
“mas punya firasat gak enak nih, oke deh tapi mas janji gak bakalan marah.” Ucap leonardo
Aku mengambil barangku yang aku letakkan di kursi penumpang sebelumnya, namun aku tidak mengambilnya semua, hanya satu benda yang sangat mencolok.
Poster, hehe.
Poster yang terdapat foto hongseok yang sebelumnya leonardo tampak tidak suka jika aku menunjukkannya di hadapannya, bahkan dia dulu melarangku untuk membawa benda itu untuk ikut pulang bersama ku.
“alina cuma bawa poster doang kok, bukan benda yang berbahaya, hehe.” Jawabku sambil cengengesan.
Leonardo sedikit menepikan mobilnya lalu ia mengambil jalur sebelah kiri, saat mendengar ucapanku tadi.
“jangan bilang itu poster yang dulu?” tanya leonardo.
Aku langsung mengembalikan poster tersebut ke kursi belakang, sebelum leonardo merebutnya dari tanganku lalu menjadikan poster itu menjadi serpihan kecil.
“eits, gak boleh marah loh ya! kan udah janji dari awal.” Kataku agar dia tidak melanggar perjanjian yang telah kami buat sebelumnya.
“iya iya, mas gak bakal marah kok, dan mas gak mungkin langgar janji, tenang.”
__ADS_1
“tapi bentar dulu deh bae..” sambung leonardo.
Aku yang semulanya sudah bernafas lega langsung mendadak kembali tidak tenang saat leonardo berkata ‘sebentar’
“hm, kenapa mas?” aku menengok kearahnya, tapi karena leonardo yang tengah menyetir jadi pandangannya tidak beralih sedikitpun, dia terus menghadap kedepan.
“coba mas pinjam tangan kamu sebentar.” Kata leonardo.
Aku menjulurkan tanganku kepadanya, ya kali sih. Kalau cuma pegangan tangan saja ya pasti aku jabanin, orang dia yang sudah mendaratkan ciuman berkali – kali aja aku udah enggak se gugup dulu.
Tapi, sebelum dia meraih tanganku aku menarik kembali tanganku.
“kamu lagi nyetir mas, kalau mau pengen genggam tangan alina, nanti ya pulang dari rumah. Kalo lagi nyetir kan bahaya.” Kataku.
Leonardo menghembuskan nafasnya pelan.
“gak gitu, sini deh tangan kamu mas pinjam sebentar.” Dia tetap bersi keras untuk menggenggam tanganku.
Aku menengok kearah tanganku sejenak lalu mengulurkannya kembali ke depan badan leonardo.
Dia meraih tanganku lalu membawanya ke perut nya yang sudah jangan ditanyakan lagi, tentunya rasanya itu seperti tengah memegang roti sobek saat menyentuh abs dari di perutnya yang six pack itu.
Awe!
Aku langsung menarik kembali tanganku, lalu aku mencubit lengan leonardo.
“ih, sebel! Ngapain sih. Jangan gitu ah mas, kamu ini loh sukanya ngerjain aku ih!” Crocosku, leonardo malah menertawakanku dengan ekspresi yang penuh kemenangan.
“ah gak gitu juga..” protesku.“ya udah terus mau nya gimana?” leonardo mengelus rambutku sekilas.
“ eh gini mas, gimana kalau posternya aku pajang dikamar? Biar aku makin semangat belajar!” kataku iseng.
“gimana kalau mas foto dengan pose yang sama kayak gitu terus dipajang di kamar.” Jawab leonardo.
“poster itu gak boleh dipasang di rumah, kecuali di simpan di gudang.” Imbuhnya.
Hehe, masih cemburu aja si mas nya gemes aku tu liatnya..
“ jahat banget ish. Gak mau lah, sayang banget kalo art kayak begini disimpan di gudang.”
“au ah bae males mas jadinya.” Leonardo mulai tidak berminat untuk melanjutkan topik perbincangan ini.
Aku pun juga tidak ingin melanjutkan untuk mengerjainya jika tahu dia akan menjadi ngambek seperti ini.
“dih ngambek, kayak bocah.” Ledekku.
Aih, mulut lucknut ini gak bisa ngomong yang kalem apa ya?! kok kayaknya yang setiap kata yang keluar dari mulutku cuma perkataan yang bikin jengkel.
“biarin, urus aja poster kesayangan kamu itu.” Ujar leonardo.
“dih, kok mas jadi ngambek gini sih? Malu tahu inget umur mas, udah bau tanah.”
__ADS_1
Plak!
Sekali lagi, alina keenan raftar! Apa sih yang ada di otakmu, kok bar bar sekali kalau ngomong.
“ eh maksud aku, kamu ini kan sabar ganteng, terus baik dan lain lain deh. Gak usah ngambek gitu dong! Ini kan cuma masalah poster.” Crocosku.
Leonardo menepikan mobilnya lalu keluar dari mobil, ia membukakan pintu mobil untukku.
“mas? Gak lucu, masa kamu tega turunin aku di tengah jalan begini?” ujarku.
Leonardo menengok ke kanan dan kirinya.
“ini di pinggir jalan bae, bukan di tengah.” Ucapnya.
“eh iya maksudnya itu.”
“buruan turun.” Ucap leonardo.
Ya ampun leonardo kesel banget nih kayaknya, kok jadi kayak cewek pms sih dia?
“temenin aku beli bakpao di sana, hehe.” Ucap leonardo.
Lah? Sumpah. Ini orang bener bener deh.
Dari tadi aku kirain ngambek dan nyuruh aku buat turun di jalan, tapi tujuannya malah lain.
Dia benrniat untuk mampir sejenak untuk beli bakpao yang di jual di pinggir jalan.
Tanpa aku sadari aku malah tertawa sendiri, kemudian aku melepas safety beltku lalu berjalan keluar dari mobil.
“jangan kamu pikir mas udah gak marah ya! mas masih marah. Dan nanti kamu harus terima hukuman dari aku bae.” Bisik leonardo tepat di telingaku.
Tidak, hukuman itu aku sudah tahu akan menjurus kemana..
“maaf deh, udah bikin mas kesel, kamu cemburu ya?” ucapku.
Bodo amat sudah sama mulutku ini.
“jangan tanya kalau soal cemburu, udah pasti itu! Lagian siapa yang enggak cemburu sih pas liat istrinya lebih doyan liat roti sobek laki lain daripada punya suaminya sendiri yang nyatanya lebih hot.” Ucap leonardo pelan.
Kami berjalan menuju ke penjual bakpao tersebut.
“dah ah, jangan bahas roti sobek lagi. sekarang mending kita bahas bakpao aja, hehe.”
“ngeles lagi kan, untung sayang.” Ucap leonardo.
“hehe”
--------
__ADS_1