Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 50


__ADS_3

"mas udah mas jangan lari lagi. alina pake high heels nih, capek tahu!" ujarku pada leonardo kemudian barulah leonardo memperlambat langkahnya sedikit demi sedikit hingga berjalan seperti biasa.


nafasku mulai tersenggal - senggal setelah leonardo yang secara mendadak mengajakku berlari tanpa dia memberiku kesempatan untuk melepaskan sepatu high heels sialan ini.


"untung aja tadi aku gak jatuh terjungkal gara - gara kamu ajak lari tadi."


aw!


aku rasa bagian belakang kakiku mengalami sedikit lecet karena bergesekkan dengan bagian belakang sepatuku tadi. aku melepaskan sepatu laknat tersebut lalu melihat ada bercak darah di bagian belakang atas tumitku.


leonardo meringis miris kearahku.


"maaf ya bae, gak usah pake sepatu gitu lagi." kata leonardo sambil melempar sepasang sepatu high heelsku ke sembarang arah.


"mas! terus alina pakai apa kalau kamu buang sepatu aku asal kayak begitu?" kataku sedikit berteriak histeris pada leonardo.


sepatu itu merupakan hadiah seserahan pernikahan yang di berikan oleh leonardo dan sengaja aku kenakan hari ini agar aku tampil lebih cantik saat kencan hari ini.


tanpa merespon perkataanku, leonardo malah menggendongku persis seperti tengah menggedong karung beras, dia meletakkan badanku dan menopang dengan bahu kekarnya.


eh anjay, dia kayak mau culik gue. yang so sweet dong mas gendongnya, masa kaya begini sih.' gumamku dalam hati.


leonardo menurunku di depan mobil yang kita kendarai tadi, lalu dia membukakan pintu untukku.


"duduk." perintahnya.


aku langsung duduk didalam, dikarenakan pintunya yang di biarkan terbuka lebar, dan leonardo yang sedang sibuk dengan mengotak - atik bagian bagasi mencari sesuatu aku mengeluarkan kaki ku di pintu mobil yang terbuka lebar itu dan membiarkan kaki telanjangku menyentuh lantai kavling.


leonardo kembali dengan membawa sandal bulu warna abu - abu. dan meletakkan tepat di depan posisi kakiku yang tengah berpijak di tanah.


"utamakan kenyamanan bae, padahal gak nyaman kan pakai sepatu kayak begitu?" tuturnya.


"dih, sok tahu kamu, emangnya mas pernah coba pakai?" crocosku.


"belum sih." kemudian dia kembali menyengir ala kuda.


-------


untuk dinner romantis yang telah leonardo siapkan sebelumnya ini menurutku sangat menakjukbkan, tak jauh dari tema yang ia siapkan di hari pertama kali aku pindah ke rumah leonardo dan dia menyiapkan candle light dinner.

__ADS_1


candle light dinner memang adalah dinner yang sangat romantis untuk semua kalangan pasangan, dengan alunan musik yang membuatnya semakin lengkap.


aku berjalan dengan merangkulkan tanganku pada lengan leonardo seperti sebelumnya dan sedikit menyembunyikan wajahku pada lengannya.


"kenapa bae? gak suka ya." tanya leonardo, seketika aku menggeleng dengan cepat.


i love it.


"alina ngerasa kayak salah kostum gitu mas, bajunya cantik tapi kok pakai sandal dalam rumah." bisikku pelan namun aku sedikit menekan suaraku agar terdengar di telinganya.


"gak ada yang perhatikan kok, lagian bukan bajunya aja yang cantik, tapi orangnya lebih cantik."


terus kamu ya! gombal terus..


"halah ngalus terus, dah lah jalannya cepetan mas malu dilihatin orang - orang."


"aku gendong deh biar gak diliatin orang - orang." goda leonardo yang langsung aku balas dengan cubitan kecil di pinggangnya, kemudian disusul dengan suara rintihan yang ia tahan setelah aku cubit tadi.


"jangan cubit dong sayang, kasih tium aja. kalo di tium ribuan kali mas gak akan nolak, hehe." ujarnya.


"cubit lagi nih!" ancamku padanya kemudian dia langsung meringis dan tak berniat untuk menggodaku kembali yang tengah pms ini.


"ingat leonardo lawanmu istri lagi pms." gumam leonardo pelan tapi masih terdengar di telingaku.


tepat pukul 23.46 kita masih berada di mobil dan perjalanan untuk pulang kembali kerumah, malam indah di kota paris dengan pemandangan kotanya yang sangat cantik, aku meminta leonardo untuk menyetir dengan sangat santai agar aku tak melewatkan pemandangan indah ini dan mengabadikannya  di kameraku.


leonardo menepikan mobilnya di taman yang entah aku tidak tahu namanya, namun rumputnya terlihat sangat hijau dan juga hiasan lampu taman ini membuat tenang saat di lihat, kemudian leonardo menyalakan radio.


"mau nonton netflix?" tawar leonardo padaku.


"enggak mau, pengen makan siomay bandung." jawabku.


tak lama kemudian disusul dengan gelak tawa dari leonardo aku pun menatapnya heran.


"jadi inget kejadian waktu itu, haha." ujar leonardo sambil kembali tertawa.


"astaga iya. gara - gara mas main angkut alina ke kamar dalam mode gahar! sampai alina belum sempat makan siomay yang alina beli akhirnya basi deh." kataku sedikit merajuk saat mengingat kejadian tersebut.


"pokoknya beli in pas pulang dari bulan madu ini, gak mau tahu! pokoknya yang banyak." crocosku.

__ADS_1


"aku beli in sekalian sama gerobaknya." seru leonardo kemudian dia meringis.


"awas enggak." ancamku.


satu tangan leonardo mengunci jemari kiri alina dan menggenggamnya erat seolah tak akan ia lepaskan sampai kapan pun.


"glad to have you by my side bae, mas bersyukur sekali kamu jadi istriku." ucapnya lirih yang kian menohok tepat di hatiku yang menyisakan kebaperan disana.


aku mencium punggung tangannya yang tengah menggenggam satu tanganku.


"terimakasih, sudah sabar hadapin aku yang sangat kalem dan gak banyak tigkah ini." ujarku padanya kemudian dia menahan tawanya mendengar perkataanku akupun juga menahan tawaku saat melihatnya seperti itu.


"gemas.. hmm" leonardo mencubit pelan pipiku kemudian dia menyelipkan anak rambutku kebelakang telingaku.


cup!


leonardo mendaratkan ciuman tepat dibibirku secara automatis aku mengalungkan kananku pada tengkuknya, satu tangan leonardo telah ia lingkarkan di sekitar pinggangku membuat ciuman kali ini lebih intens dan dalam.


aku sudah sepakat dengan hatiku, untuk meluapkan perasaanku yang sesungguhnya kepadanya, tak ada lagi kebohongan yang harus aku tutupi untuk menyembunyikan fakta bahwa aku juga mencintai leonardo seutuhnya sebagai suamiku dan pasanganku sepanjang hidupku yang akan menemaniku saat aku bahagia maupun sedih, sehat maupun sakit.


mencintaimu adalah anugrah yang besar yang harus aku jaga mas.


leonardo menempelkan keningnya pada keningku usai mendaratkan ciuman lembut yang memabukkan tentunya mampu membuat sekujur badanku menjadi lemas.


"i love you i love you i love you, i'll always love you." ucapnya masih dengan kening kami yang bertautan.


"i love you too." jawabku lirih, membuat leonardo tersenyum tipis namun dia nampak sangat bahagia mendengar jawaban yang keluar dari buah bibirku tanpa ada paksaan sedikit pun.


aku melepaskan keningku yang menempel dengan keningnya lalu menatap kearahnya dengan senyuman secerah mungkin.


“mas kalau benar benar sayang sama alina, sepulang dari sini nanti masakin alina nasi goreng, gak mau tahu!" ucapku asal.


"nasi goreng doang? kecil mah itu." leonardo menyalakan mesin mobilnya dengan satu tangannya, ia enggan melepaskan tangannya yang tengah menggenggam tanganku.


"tadi kamu bilang ke aku 'utamakan kenyamanan'" leonardo mengangguk mendengar perkataanku, kemudian aku melepaskan tanganku dalam genggamannya dan meletakkan tangannya pada kemudi.


"utamakan keselamatan." ucapku sambil sedikit menekan kalimat tersebut.


leonardo langsung menyebikkan bibirnya mendengar perkataanku

__ADS_1


 


 


__ADS_2