Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 58


__ADS_3

Sepulang dari membeli bakpao yang leonardo inginkan, aku meminta kepada leonardo untuk mampir ke supermarket untuk membelikanku es krim disana.


Karena cuacanya yang sangat panas tanpa aku sadari aku telah menghabiskan hampir 4 es krim sekaligus hanya dengan modal duduk di mobil dengan mendengarkan radio di dalam mobil.


Begitu sampai di rumah leonardo meletakkan tas kerjanya diatas meja ruang keluarga, dia langsung duduk bersandaran di sofa, aku berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air putih untuk ku minum, ya tentunya aku juga mengambilkan untuk leonardo juga.


“ini di minum dulu.” Ucapku sembari meletakkan secangkir gelas itu di meja, yang semulanya bersandar leonardo langsung duduk dengan tegak lalu mengambil air tersebut dan mulai meneguknya.


“eh iya mas, hari ini alina ketemu sama gavin di rumah sakit tadi pagi.” Leonardo meletakkan gelas tersebut dengan perlahan.


“gavin? ngapain dia disana?” tanya nya.


“alina itu gak sengaja ketemu sama gavin pas mau naik lift terus ya udah kita basa – basi bentar terus katanya dia sih ada temen dia yang di rawat disana, ya begitulah.”


Leonardo hanya menanggapinya dengan ber oh ria.


“mas jadi ngerasa gak enak sayang..” ucap leonardo sambil menahan perkataannya sejenak.


“kenapa? Kok mas kayak kelihatannya lagi mikirin sesuatu?”


“ya gak enak aja, mama kamu lagi di rawat di rumah sakit dan dari pihak keluarga keluarga mas belum ada yang jenguk in kecuali mas doang.” Tuturnya.


Hmm..


“udah gak usah sampai kepikiran kayak begitu mas, lagian juga mami sama papa kamu kan ada di luar negeri dan mereka kan lagi perjalanan bisnis, mamaku pasti maklum lah mas. Belum lagi kamu yang urus semua pengobatan mama ke singapura.” Kataku padanya, leonardo terdiam sejenak.


Kemudian dia merengkuhku.


Dia membuang nafasnya dengan perlahan.


“terimakasih loh mas, kamu baik banget. Bukan Cuma perhatian ke aku doang, tapi ke keluarga aku juga.” Ucapku sambil tersenyum.


“keluarga kamu kan sekarang juga bagian keluarga aku bae, jadi mereka juga tanggung jawab nya mas.” Ujarnya, aku mengangguk.


“kamu juga tuh harus jaga kesehatan! Mas kan sudah pernah bilang dulu, kesehatan kamu prioritasku jadi jangan sampai kamu sakit. Mulai sekarang harus pola hidup sehat, kurangin itu makanan yang instan instan, olahraga dan yang lainnya.” Ocehnya.


Aku langsung melepaskan diriku dari pelukannya, lalu menjitak kepalanya pelan.


“yeuh kok mas jadi ngomel ngomel ke aku begini sih, aku tuh males mau olahraga tahu! Capek.” Ujarku.


“ya yang namanya olahraga ya jelas capek sayang, tapi kan manfaatnya buat badan kan banyak, jadi setimpal.”


Yailah, ini kenapa leonardo jadi kayak emak – emak yang lagi ngomelin anaknya begini sih.’ Gerutu ku di dalam hati.


“sebenernya masih ada lagi olahraga yang gak terlalu capek tapi menyenangkan..” kata leonardo kepadaku.

__ADS_1


“nah kalo kayak gitu mungkin aku masih mau.” Seru ku dengan cepat.


“ayo ke kamar, mas ajarin.” Seketika aku langsung terdiam sejenak mendengar ucapan leonardo.


Jangan bilang ini saatnya..


Apakah yang di maksud oleh leonardo baru saja adalah olahraga ranjang? Ah tidak, namun saat aku melihat dari senyuman smirk dan seringai an nya membuatku semakin yakin kalau memang saat ini dia tengah meminta jatah kepadaku.


Aku rapopo.


“sekarang ya mas?” tanyaku.


”iya lah, biar kamu cepat terbiasa nantinya.” Jawab leonardo


Tuhkan benar dugaanku, lagi pula tamu bulannanku sudah usai sekitar seminggu yang lalu, dan juga ada desakan dari mama yang ingin segera menimang cucu, jadi untuk saat ini aku telah membulatkan tekadku untuk menyerahkan semuanya kepada leonardo.


Aku menghela nafasku sejenak.


“hm, ayo deh.” Gumamku lumayan keras, aku yakin leonardo mendengarnya.


Leonardo nampak sangat excited mendengarnya, dia langsung berdiri dari tempat duduknya tadi lalu meraih tanganku, dia menariknya lembut.


“kuy lah, gas pol.”


Aku masih tetap duduk di posisiku yang tadi, leonardo masih memegangi tanganku seperti anak kecil yang minta dibelikan sesuatu kepada mama nya.


“oh kayaknya bayi besarku minta di gendong nih ya?” kata leonardo dengan segera aku langsung berdiri sebelum dia menggendongku.


“huft, yuk dah.” Aku berjalan mengiringi langkah leonardo.


-----


Leonardo membuka pintu kamar dengan penuh semangat lalu dia menyuruhku untuk duduk di tepi ranjang selagi dia tengah menyiapkan sesuatu.


Ia tengah sibuk berkutat dengan televisi.


“pake tv?” tanyaku pada leonardo.


“iya kita kudu liat videonya bae, soalnya mas gak hafal posisi sama gerakannya.” Jawab leonardo sambil mainkan.


APA?! Apa yang dia maksudkan?


Masa iya dia mau mengajakku untuk melakukan ‘itu’ sambil menonton ‘anu’.


Astaga leonardo gak gini caranya, yakali kalo kamu begini yang ada malah bikin mata suciku ini jadi semakin ternoda.

__ADS_1


Dih suci apaan yak..


“nah akhirnya udah siap, sini sayang!” panggil leonardo dia membuat gestur agar aku mendekat kepadanya.


“sekarang?” tanyaku ragu.


“tahun depan.” Jawab leonardo.


Entah sudah berapa kali aku menghela nafasku hari ini, tapi yang jelas ide gila dari leonardo ini semakin membuatku menjadi gila.


“sini sini, duduk sini.” Ucap leonardo kemudian aku duduk tepat di sebelahnya dia mengalungkan tangannya di pundakku.


“kita liat dulu, lalu hafalin gerakannya baru kita praktek, oke?” aku menatapnya dengan tatapan heran.


“hah?” ucapku pelan namun dengan nada sangat terkejut. Tanpa aku sadari aku menjadi tersipu malu sendiri saat membayangkan menonton film dewasa dengan leonardo yang notabenenya adalah suamiku.


Tapi tunggu dulu, tapi sebenarnya kan kalau urusan ranjang leonardo seharusnya dia sudah tidak perlu untuk mencari refrensi dari video atau film panas tersebut, karena menurutku dia sudah sangat lihai saat menciumku jadi kupikir untuk yang lainnya sudah tidak perlu di ragukan lagi kan.


“akhirnya mulai.” Leonardo nampak semakin semangat, aku justru sedikit menutup mataku dengan kedua tanganku sambil menggigit bibir bawahku.


“bukan film horror kok di tutupin sih, kamu harus liat bae, biar pas praktek kita enak.” Leonardo menyingkirkan tanganku yang semulanya bertengger disana.


“mas tiba - tiba aku kebelet pipis.” Kataku beralasan.


“udah gak usah kabur lagi kamu, liat ini dulu abis ini kita langsung mulai.” Leonardo menahanku dan malah mengunci kan tagannya pada tanganku agar aku tidak bisa kabur kemana pun.


Tidaaaak..’pekikku dalam hati.


“liat itu gerakannya kayak begitu.” Leonardo menunjuk kearah televisi yang kemudian kedua bola mataku mengekori kemana perginya jari tersebut.


“ya ampun zumba kah?” kataku sambil sedikit menahan tawaku.


Oke, pikiranku sudah menjalar kemana – mana tapi nyatanya suami koplak nan receh ku ini hanya mengajakku untuk mengahafalkan koreografi dari zumba yang ia putar di televisi dalam kamar.


“iya biar badan malas kamu itu pernah gerak.” Ledeknya aku mencubit pinggangnya pelan.


 


------------------


Author's pov


sabar ya saudara saudara :v pasti gemas sama kelakuan pasutri receh di atas. akwokwoak


 

__ADS_1


 


__ADS_2