
Alina's pov
Aku tidak menyangka kalau hari ini akan tiba secepat ini, tepatnya hari ini aku akan menikah.
Masa kebebasanku bukan lagi miliku seorang saja, karena sekarang aku akan segera memiliki suami yang dia juga adalah tanggung jawabku dan aku juga tanggung jawabnya.
Miris
Di usia ku yang masih akan menginjak 19 tahun aku dituntut untuk menjadi dewasa, tapi bagaimana pun ini juga telah menjadi keputusanku, karena sudah ku putuskan kalau aku menerima Leonardo itu sebagai calon suamiku, bagaimana pun rupanya dia, apapun kekurangannya, seperti apapun kondisinya. aku akan jalani hidupku selanjutnya bersamanya.
Aku harus bahagia. Tidak boleh ada air mata lagi yang jatuh.
Menatap diriku sendiri di pantulan cermin dengan balutan gaun indah ini membuatku tersenyum bahagia.
Sebelumnya aku telah menyiapkan satu surat yang akan berikan kepada Leonardo, yang aku tulis dari tiga hari yang lalu, aku membuatnya sebagai bentuk permintaan maafku karena telah memperlakukannya secara tidak baik selama ini.
Untukmu:
Gue gak tahu, mau minta maaf dari mana terlebih dahulu, tapi yang jelas maafin gue karena sikap gue yang buruk.
Tenang saja, gue gak bakalan minta cerai atau apapun. gue sudah sanggup buat ngehargain semua kekurangan lo dan semoga lo juga bisa nerima gue yang modelan kek begini.
Pernikahan bukanlah suatu permainan..
Gue gak mau kecewain keluarga gue, meskipun gue sangat kecewa pada diri gue sendiri.
* * * *
Masih diposisiku yang semula, aku duduk didepan cermin yang berada di dalam kamarku.
Aku meminta kepada mama agar aku tetap berdiam dikamar dan tidak mengikuti proses akad bersama pengantin laki-laki dibawah.
Aku masih perlu waktu untuk menenangkan diriku dan membutuhkan waktu sendiri agar pikiranku kembali jernih.
"Saya nikahkan engkau Leonardo fateh adriano bin Sebastien adriano dengan ananda Alina keenan raftar binti Giordani raftar dengan mas kawin uang tunai 200 juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Alina keenan raftar binti Giordani raftar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap Leonardo tanpa jeda, terdengar sangat lugas dan tanpa ada kesalahan sedikitpun
Air mataku sudah tidak tahan aku bendung dan keluar secara tiba tiba.
__ADS_1
Sekarang aku memiliki tanggung jawaban yang sangat besar, karena aku telah menjadi istri seseorang.
Terdengar suara yang cukup ramai, dan sepertinya pengantin laki laki menuju ke kamarku. aku tidak tahu apa yang aku rasakan tapi yang jelas sangatlah campur aduk, dan tentunya aku sangat berdebaran.
Krieet..
Pintu kamarku telah dibuka, aku masih menunduk dan tidak memiliki keberanian untuk menatap Leonardo yang tengah berjalan kearahku, akan tetapi aku dapat mendengar suara yang semulanya sangat ramai diluar kamarku menjadi begitu tenang dan hening.
Aku melihat sepatu Leonardo lalu aku sedikit mengangkat kepalaku dan aku memberikan padanya surat yang ingin aku berikan kepadanya.
Leonardo mengulurkan tangannya kepadaku, lalu aku meraih tangannya dan mencium punggung tangannya tak lama setelah itu dia mencium keningku.
Dan yang benar saja aku memejamkan mataku?
Oh what the hell!
Terlalu gugup untuk menatapnya jadi aku memutuskan untuk memejamkan mataku.
Aku mendengar suaranya tertawa lembut yang membuatku menoleh kearahnya.
dan
"KAMU SIAPA?" pekikku spontan
Di ambang pintu aku melihat Leonardo berdiri disana, aku langsung berdiri dari tempat dudukku dan berjalan melewati orang asing yang ada di hadapanku tidak lupa aku merebut surat yang ada genggaman tangannya.
"Lah mau kemana?" tanyanya.
"Mau siram bunga, yakali sih, ini gue lagi jadi pengantin. ya mau turun lah bareng mempelai lakinya."
"Lah aku mempelai cowoknya." sahutnya.
"Gak usah bercanda, gak lucu sama sekali." aku memberikan surat tadi kepada Leonardo.
"ay2o deh turun." ajakku.
dia hanya diam.
__ADS_1
"Alina keenan raftar, suami kamu itu ada disini loh!" omel pria asing dibelakangku
"Bentar deh lo siapa anjir? suami gue Leonardo."
"gue Leonardo." jawabnya tegas
ak1u menoleh ke arah Leonardo yang berada di dekatku
"Lo yang jadi suami gue? lo Leonardo kan?" tanya ku pada Leonardo yang ada di dekatku.
Dia mengangguk.
"Saya Leonardo bu, Leonardoni- supirnya pak leon."katanya menjelaskan kepadaku
Aku melihat kepada mereka berdua kebingungan.
"PLIS YANG BENER SIAPA SIH?!" ucapku sedikit mengeraskan suaraku.
"Aku" jawab leonardo
"Iya bu dia."sahut Leonardoni.
"Tapi kenapa bisa begini? jadi kenapa selama ini yang gue liat selalu dia dan bukan lo?" aku menunjuk ke Leonardoni.
"Kamu sih, kabur di hari pertama kita untuk saling bertemu." jawabnya.
"Bodo amat, dan kenapa gue gak pernah liat lo sama sekali padahal lo kan lumayan sering kesini."
"Kamu ingat waktu aku kesini buat mabar fortnite bareng abang kamu?" aku langsung mengangguk
"Aku yang ketuk pintu kamar kamu, dan kasih bucket bunga, tapi aku suruh doni kasih ke kamu." jelasnya
"Tapi hari itu gue gak liat lo."
"Aku sembunyi di tembok samping pintu kamar kamu. bener bener seru pas godain kamu,"
"Jahat.." kataku
"Ya maaf deh, tapi aku jadi seneng karena kamu bisa nerima aku apa adanya dengan segala kekuranganku."ucapnya lalu dia mencium tanganku dan menggandengnya.
__ADS_1
Dia mendekatkan kepalanya ketelingaku lalu berbisik.
"I'm glad to be yours bae"