Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 55


__ADS_3

"assalamualaikum~" pekikku dengan penuh semangat saat memasuki rumah.


aku sangat merindukan suasana yang ada dirumah ini, di karenakan aku yang sudah tinggal dan hidup bersama leonardo cukup lama aku jadi sedikit flashback saat masuk rumah. banyak sekali kenangan dan hal yang beragam telah aku lewati selama aku tinggal disini.


aku menoleh kebelakang dan melihat papa yang sibuk membuka kursi roda untuk mama, namun mama yang kerap menolaknya.


"mama ini masih bisa jalan sendiri kok,  papa dari tadi ribut sama kursi roda mulu.” Ucap mama sedikit kesal.


“ya kan papa gak mau kalau mama sampai kecapekan nantinya.” Kata papa sembari melipat kembali kursi roda tersebut.


“wah, papa sama mama lagi nge drakor tuh dek, lo gak mau ikutan? Kan lo ratu drama.” Bang jaehyun ikut menyahuti.


Aku langsung keluar rumah yang semulanya hendak duduk santai di ruang tamu langsung aku urungkan niatanku, aku menghampiri bang jaehyum dan siap untuk menjitaknya.


“eh ampun dong bosque.”


Aku melirik kearahnya tajam.


“udah – udah, kalian ini sukanya kalau bertemu berantem mulu, tapi kalo jauh jauhan saling rindu.” Mama berusaha melerai kami.


Ya bagaimana lagi, namanya saudara. Pasti ada pertengkaran kecil setiap harinya.


“dih ogah aku sama bang jahe.” Seru ku.


“aku juga.” Sahut bang jaehyun.


Si somplak ngapain ikut ogah sama dirinya sendiri.


“ngapain lo ogah sama diri lo sendiri maemunah!” ledekku.


“maksud abang ogah sama lo.” Ujarnya.


“ssst, udah ayo masuk.” Ucap papa


-------


Usai aku bereuni an dengan oppa oppa yang masih melekat di dinding kamarku itu aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan menemani mama agar dia tidak merasa bosan.


Saat menuruni anak tangga aku langsung mendapati mama yang tengah duduk di ruang keluarga sambil bersantai menonton acara variety show yang ada di televisi, nampak dari kejauhan mama melepas turban yang ia kenakan dari rumah sakit tadi.


Aku menahan langkahku melihat mama rambut mama yang sudah raib hanya menyisakan beberapa helai saja disana.


Sudahlah, aku tidak ingin terus – terusan menangis, karena hanya dengan tangisan tak akan merubah keadaan mama sedikit pun, yang ada malah membuat mama ikut semakin sedih.


“ wah mama lagi nonton apa sih? Kayaknya seru, hehe.” Pekikku dari tangga, aku melambaikan tanganky kearahnya, mama pun menoleh dan membuat gestur agar aku duduk di sampingnya.


Aku mempercepat langkahku dan menuju ke sofa tempat mama duduk lalu aku duduk disana.


“loh papa kemana ma?” tanyaku.

__ADS_1


“papa lagi mandi, katanya dia belum sempat mandi 3 hari selama di rumah sakit.” Ucap mama kemudian ia tertawa pelan.


“dih kok jorok sih.” Kataku mengejek mama masih tertawa


Sebenarnya juga tak jarang aku melakukannya sebelum menikah dengan leonardo, tapi keadaannya sudah berubah semenjak aku menikah.


Aku menjadi sangat rajin mandi, entah apa yang merasuki ku, mungkin aku malu jika bau tak sedapku akan tercium olehnya, apalagi leonardo yang selalu menempel setiap saat bersamaku.


“suami kamu nanti jemput jam berapa sayang?” tanya mama.


Ah iya, aku sampai lupa belum mengecek ponselku kembali setelah mengirim pesan pada leonardo tadi sebelum berangkat.


“nanti ma, sepulang dari kantor ya mungkin jam 5 sore an.” Ujarku.


“yang baik ke suaminya, harus perhatian dan di sayang biar hubungannya senantiasa manis, sekarang tanggung jawab kamu sepenuhnya ke suami, bukan ke mama lagi. jadi jangan garang garang sama  suaminya.” Omel mama.


Aku hanya menunduk.


“iya – iya ma. Alina dah baik kok ke leonardo, udah engga se bar – bar dulu.” Ucapku.


“nah ya gitu dong, kasihan leonardo kalo kamu galak terus.” Aku meringis saat mendengar perkataan mama.


Andai mama tahu, kalau menantu kesayangannya itu hampir tiap hari kena tabokan dan cubitan dariku, mungkin aku bisa di jewer habis – habisan.


Mama mengambil ponselnya yang ada di atas meja lalu menunjukkannya pesan dari leonardo kepadaku.


Aku melihat ke detail dari tiket tersebut.


Lusa?


“alina ikut ya maaa” pintaku sambil memasang wajah memelas.


Mama langsung menggeleng cepat.


“coba kamu scroll chat nya, terus baca chat mama sebelumnya.” Kata mama, aku pun mengikuti yang di perintahkan mama lalu membaca pesan teks sebelumnya.


“mama sama papa doang ya yang pergi?” aku menyebikkan bibirku.


“ya kan mama tadi bilang apa? Tanggung jawab kamu sepenuhnya sekarang ke suami kamu, bukan mama.” Aku langsung memeluk mama.


“huaa, tapi alina pengen ikut mama ke singapuraaa..” rengekku


“ udah gak usah merengek gitu, dah besar malu ih. Oh iya, mama gak kasih kamu kendor lo sayang, mama harap kamu kasih kejutan buat mama sepulang mama dari singapura nanti.”Aku mengangguk yakin.


“oke siap, mama pengen di beli in apa sih?” kataku dengan antusias.


Mama menggerakkan tangannya ke perutku yang datar itu lalu mengusapnya, aku langsung sedikit menghindar karena terasa sangat geli.


“c u c u ! “ kata mama sambil menekan perkataannya.

__ADS_1


Hajigur! Mama kok udah mupeng banget sama cucu ya, apa mama ini lupa kalau anaknya baru akan menginjak usia 19 tahun huaaa.


“ah, itu.. jadi mama pengen cucu ya. eh iya ma abang kemana kok alina gak lihat dari tadi?” aku berusaha untuk megalihkan topik ini agar mama tidak terus – terusan membahas masalah cucu denganku.


“oh tadi dia pamit sama mama, mau jemput pacarnya kesini.” Kata mama.


“beneran? Wah aku dah penasaran banget nih pengen liat gimana pacar bang jehyun, hihiw.” Seruku.


Mama kembali fokus menonton televisi kembali.


“ kamu jangan coba alihkan pembicaraan mama soal cucu.” Kata mama sambil menyengir.


Aku pun juga sama menyengir seperti mama.


“anu, alina ambil air dulu di dampur haus.” Aku berdiri dari posisiku yang sebelumnya duduk lalu langsung beranjak pergi menuju kedapur.


-----


Haaah, akhirnya  bisa juga aku kabur dari pembahasan itu.


Telingaku masih terlalu TK untuk pembahasan yang akan merembet ke hal yang dewasa itu, ya meskipun mungkin aku akan segera mengalaminya dalam waktu dekat ini.


Aku menuangkan air putih itu kedalam gelas lalu meneguknya perlahan.


“eh non, pulang hehe bibi kok kangen yaa.” Ucap bi yuni yang muncul dari pintu keluar yang ada di dekat dapur lalu berdiri di dekatku.


“au ah, alina kesel sama bibi yang gak bilang kalo mama sakit dari dulu dan malah ikutan rahasiain ini dari alina.”


“gak gitu non.” Ujar bi yuni dia terlihat gelisah dan tak tahu berkata apa


"huaa, sekarang harus fotoin alina yang kece badai, harus aesthetic titik. gak mau tahu!” aku memotong pembicaraannya.


“hehe, habis fotoin bibi di maafin ya?” kata bibi sambil tersenyum girang.


“ya engga juga sih, kalo di masakin mie instan abis ini baru deal, masalah kelar.”


“ahsiap non.” Kata bi yuni dengan penuh semangat.


Aku menyerahkan ponselku pada bi yuni lalu bersiap untuk menampilkan pose yang terbaik dariku untuk di potret oleh bi yuni


Ting!


“non ada pesan dari suami kesayangan.” Ucap bi yuni kemudian dia menahan tawanya, tangannya ia tutup di mulutnya.


Aduh! Ketahuan bi yuni lagi. hais.. malu banget jadinya.


“ah iya bi, fotonya lain kali aja deh, alina mau kesana dulu.” Aku merebut ponselku yang ada di tangan bi yuni lalu berjalan dengan cepat meninggalkan dapur.


Ini rumah, kenapa kayak gak ada save zone gitu sih buat gue.

__ADS_1


__ADS_2