Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 52


__ADS_3

mendengar kabar kalau mama yang dalam kondisi kritis membuatku tidak bisa kembali tenang, yang ingin aku lakukan sekarang juga adalah segera pulang dan ingin bertemu dengan mama secepatnya.


entah kenapa dengan bodohnya tidak terbesit sama sekali dalam pikiranku kalau mama akan sakit, dan sampai di kondisi yang seperti ini.


"sabar ya sayang, kamu harus tenang.. kita langsung ambil penerbangan pertama dengan perjalanan yang paling cepat." leonardo terus berusaha menenangkanku, karena lelah terus terusan menangis aku menyandarkan kepalaku di pundak leonardo, leonardo merangkulkan tangannya di pundakku.


Saat ini kami sudah ada di bandara menunggu untuk check in, di karenakan pulang yang secara dadakan, barang yang kami pack pun seadanya. Yang semulanya ada 6 koper yang kami bawa, dan sekarang hanya sisa 3 yang kami bawa kembali ke indonesia.


Leonardo yang mengatakan kalau kita bisa datang lain kali kemari untuk membawa kembali barang yang sengaja ditinggal.


Sekarang aku jadi tahu alasan dari mama yang menginginkan ku  untuk segera memberinya cucu hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak mau menemuiku sebelum aku membawa kabar kalau aku mengandung cucunya.


Jadi, selama ini mama berusaha menutupi rasa sakitnya dariku dengan menghindar, bukan hanya mama! Tapi semua orang.


Dan aku merasa ini tak adil.


---------


Menempuh sekitar 15 jam perjalanan dari paris menuju ke jakarta merupakan perjalanan yang paling cepat.


Dari dalam pesawat leonardo selalu menggenggam tanganku, dan juga dia yang selalu mengelap air mataku yang terus berlinang sendirinya, hingga aku menangis di pelukannya sampai tertidur.


Leonardo mengusap rambut lembut lalu tersenyum.


“jangan berhenti berdoa, mama gak kenapa – napa, mama sehat dan jangan sampai kamu tunjukkan kesedihan kamu di hadapan mama ya sayang, cukup di depan mas aja.”


“iya mas.” Jawabku singkat, leonardo mengeluarkan selembar tissue lalu mengelap air mataku kembali.


“udah ya, jangan nangis lagi, diliatin orang tuh! Kamu jelek.” Ledek leonardo.


“bodo amat lah mau jelek apa enggak, kan udah ada suami.” Jawabku sambil mengusapkan lenganku untuk menyeka air mataku.


Saat kita berjalan keluar, nampak lah supir leonardo yang bernama leonardoni itu sudah bersiaga disana.


Leonardoni menghampiri kami lalu mengambil 3 koper yang kami bawa dan memasukkan nya ke dalam bagasi mobil.


“langsung ke rumah sakit ya mas.” Pintaku pada leonardo.


“iya, tapi sesampai di rumah sakit langsung ke toilet dulu, cuci muka. Mata kamu bengkak tuh kebanyakan nangis kayak bayi.” Ujar leonardo meledekku.


“iya iya, ih bawel kamu dari tadi bisanya ngeledekin aku terus ih kesel jadinya.”


“eh iya enggak enggak, maaf sayang.” Leonardo meringis.


Makasih ya mas, kamu udah merawat aku yang notabenenya ini adalah istrimu yang paling labil, ngegas, manja dan lainnya. Kamu selalu memperlakukanku dengan perlakuan yang baik, i love you.

__ADS_1


“ini di rumah sakit yang mana ya pak leonardo?” tanya leonardoni yang tengah menyetir.


Leonardo membuka ponselnya lalu melihat pesan yang dikirim oleh bang jaehyun.


“Rumah sakit Cipto Mangunkusumo, cari jalan yang paling cepat ya don, usahain gak kena macet.” Ujar leonardo.


“siap pak.” Jawab leonardoni.


Aku menyandarkan kembali kepalaku di pundak leonardo sambil merangkulkan tanganku di lengannya.


“bangunin alina pas udah nyampe ya mas, kayaknya alina kena jetlag.” Ujarku pada leonardo.


“iya sayang, kamu istirahat gih, nanti kalau udah mau sampai mas bangunin.” Ucapnya, ia mengecup keningku sekilas lalu aku memejamkan mataku hingga terlelap.


---------


Drrt.. drrt.. drrt..


Dapat aku rasakan kalau ponselku bergetar sedari tadi, tapi leonardo sudah sigap terlebih dahulu menjawab panggilan yang masuk.


“halo iya bang? Ini leon.” Ujar leonardo menjawab panggilan tersebut.


Ternyata abang jaehyun yang menelpon.


“ini alina masih tidur, mungkin 20 menitan lagi sampe.” Kata leonardo.


“iya bang. Makasih.” Leonardo meletakkan ponselku kembali kedalam waist bag yang aku kenakan.


“hey, suara mas bikin kamu kebangun ya? maaf ya.” ucapnya dia menangkup pipi kiriku.


“enggak kok, bentar lagi sampai ya mas?” tanyaku padanya.


“mungkin sekitar 20 menitan lagi sayang, btw tadi bang jaehyun telepon, dia bilang kalo mama kamu di pindah ke kamar no 142 di lantai 3.” Ujarnya.


“iya, mas nanti kita langsung kesana ya.” leonardo mengangguk.


-------


“udah selesai sayang cuci mukanya? Sini dulu deh bentar.” Ujar leonardo seusai aku dari kamar mandi rumah sakit untuk mencuci muka ku.


Aku menghampiri leonardo, dia mengeluarkan tissue yang ada didalam waist bag hologram milikku  aku menitipkan kepada leonardo sebelum masuk kedalam kamar mandi.


“kenapa mas?” tanyaku, aku menghampiriku.


Leonardo tersenyum lalu menempelkan tissue itu dan mulai mengelap bagian wajahku yang masih basah.

__ADS_1


“ di lap dulu dong, netes terus kayak genteng bocor.” Goda leonardo padaku.


“ih anjir.” Aku memukul pelan lengan leonardo.


“janji sama mas, gak boleh nangis di depan mama, alina kuat ya kan? Masa istri mas yang bar bar ini cengeng?” leonardo mengecup bibirku sekilas.


Aku langsung menjauh darinya dan secara automatis menoleh ke kanan dan kekiri.


“mas ini rumah sakit, kamu ini main nyosor aja, dah yuk masuk.” Kataku, aku menggandeng tangannya kemudian langsung menuju ke lift.


Ketika di dalam lift leonardo menatap kearahku sambil tersenyum manis.


Anjir, kenapa manis banget senyumnya.


“aku yakin mama pasti langsung sembuh setelah ketemu aku. Kayaknya mama itu kangen berat sama aku kan mas?” kata ku sangat penuh percaya diri.


“dih, siapa tahu kangen sama menantu kesayangannya ini.” Leonardo tak kalah percaya diri.


“yang seharusnya jadi menantunya bukannya leonardoni ya?” godaku pada leonardo.


Aku berusaha keras untuk tak membiarkan air mataku agar tidak terjatuh..


Mungkin aku terlihat tersenyum, tapi benar kata leonardo, aku harus tetap kuat dan memberi dukungan agar mama kembali sehat.


“btw, alina belum tahu loh mas, mama sebenarnya sakit apa, tapi saat dengar mama kritis aku langsung lemas..” ujarku.


“apapun penyakitnya, kamu gak boleh berhenti doain dan kasih semangat mama biar cepat sembuh.” Tutur leonardo.


“iya pak, siap.”


Ting!


Pintu lift sudah terbuka saat kita sampai di lantai 3, aku sedikit terkejut saat mendapati bang jaehyun yang berdiri di depan pintu lift.


“eh, abang! Mau kemana?” tanyaku.


“ barang abang ada yang ketinggalan di bawah, abis ini balik lagi kok.” Ujarnya, leonardo bersalaman dengan abang jaehyun.


Aku? Jangan ditanya, aku tidak pernah melakukannya.


Bukannya durhaka, tapi abang sendiri yang tidak suka kalau aku mencium punggung tangannya, dan aku tidak tahu alasannya kenapa.


“kalian masuk aja, ada papa di dalem.”


“iya bang.” Jawab leonardo.

__ADS_1


__ADS_2