Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 27


__ADS_3

leonardo berjalan ke ruang makan dan dia tidak berhenti mengucapkan kata 'wow' sedari tadi, melihatnya mengucapkan seperti itu membuatku merasa aku sedang di ledek olehnya karena tampilan dari masakan gagalku yang tak layak untuk dimakan.


" maaf ya mas, masakanku semua gosong begini, huaa." keluhku, sumpah aku sungguh menyesal karena telah berniat untuk membuatkan nya sarapan tanpa persiapan yang matang sebelumnya.


kalau dilihat dari hasil masakanku, aku sendiri tidak akan pernah memakannya, karena itu tampak mengerikan, tapi entah mengapa aku baru sadar kalau itu terlihat sangat mengerikan saat aku menunjukkannya pada leonardo.


tapi, leonardo tidak merubah ekspresi gembiranya dari awal pertama kali masakanku hingga saat ini malah dia menggumam.


"asik makan masakan istri."


aku menjitak kepalaku.


astaga, dia ini gak lihat apa masakanku itu gosong! masih aja semangat mau makan, plis mas! kalo bucin jangan kebangetan loh.


"bae, kenapa bumbu dapur ada disini semua?"tanya leonardo sedikit terheran saat aku juga menata dengan rapi berbagai bumbu dapur tersebut diatas meja.


aku meringis.


"itu nasi goreng yang alina bikin belom ada garam sama gulanya jadi rasanya masih hambar." ucapku.


"lah beneran?" tanyanya.


"iya, mas cobain aja sendiri kalau gak percaya."


dia duduk lalu mengambil sendok yang ada disebelah piringnya, dia mencomot nasi goreng itu.


aku menyipitkan mataku membayangkan bagaimana rasa yang muncul, aku menggigit bibir bawahku saat dia mulai memasukkannya kemulut.


ekspresinya tidak berubah, dia memiringkan kepalanya tepat seperti seorang yang tengah berpikir lalu ia tempelkan sendoknya di buah bibirnya.


 dia mengambil gula, garam dan lada yang ada di meja. lalu memasukkan beberapa bumbu tadi  dengan mengira- ngiranya dengan cukup telaten dan.


"rasanya sebenarnya enak, kalo gak gosong hehe, kamu terlalu semangat sih masakin mas, jadi sampai gosongkan," ujarnya, dia kembali memakannya.


"mas." panggilku.


aku memegang tangan kanan nya untuk menghentikannya agar tidak memakannya.


"udah, sampai sini aja dulu makannya, lain kali alina masakin yang lebih enak." ujarku.


dia menggeleng.


"enggak mau, mau habisin yang ini dulu aja." elaknya.


aku merebut sendok yang ada ditangannya.


"nanti sakit perut, alina yang malah repot." gerutuku.


dia masih bersikeras agar tetap memakannya.


aku menatapnya se sinis mungkin.


"alina bikinin roti selai, sebagai gantinya."


dia diam dan berpikir sejenak.


"harus bikinan kamu, dari tangan kamu gak boleh bikinan bi erna." desaknya.


lah malah request


"iya iya bawel ah." aku kembali ke dapur tak lupa membawa piring yang berisi nasi goreng mengerikan itu dan meletakkannya ke tempat cuci piring.


segera aku mencari roti dan selai dan membuatnya dengan cepat agar leonardo tidak menunggu terlalu lama.


    usai menemukan seluruh bahan yang aku perlukan, aku langsung mulai meletakkan roti itu di atas piring dan roti yang sudah aku beri selai aku tumpuk kan diatasnya.


okay, untuk yang satu ini sangat mudah.


"mas bantuin ya bae!." kata leonardo yang muncul secara tiba- tiba di belakangku, dia melingkarkan tangannya yang atletis itu di sekitar perutku yang datar.


seketika aku merasa ada banyak kupu - kupu yang berterbangan dari perutku karena aku merasa sangat geli.


aku memutar badanku.


oh my lord!

__ADS_1


aku sedikit menyesal setelah merubah posisiku jika tahu akan menjadi sedekat ini jaraknya dengan leonardo.


dia tersenyum.


"mas bantuin ya sayang." kata leonardo.


reaksiku benar benar mengejutkan, aku masih terpaku dan tidak menjawabnya. aku terlalu gugup berada didekatnya dengan jarak yang sedekat ini.


dengan mengumpulkan seluruh keberanianku kemudian aku mendorong tulang selangka nya dengan kedua jari telunjukku.


"mas duduk yang manis disana, biar alina yang siapin sendiri." ucapku, dia malah menggelayut manja padaku.


aku mendorongnya pelan lalu mengantarkannya untuk duduk kembali di ruang makan.


kenapa perginya leonardo yang tegas, dan cukup galak itu?


kemarin aku melihatnya bertingkah begitu manly namun yang setiap hari aku lihat hanyalah leonardo dengan sikap manjanya padaku yang tidak bisa terpisahkan.


setelah sekiranya roti yang kusiapkan telah cukup aku membawanya ke ruang makan dan meletakkannya di depan leonardo.


"kalau bikin kayak begini alina masih bisa yang pasti ini rasanya gak gagal, hehe." ucapku padanya.


dia meringis lalu mencomotnya dan memakannya dengan sangat lahap.


leonardo mengacak rambutku kaku ia tersenyum lebar


"makasih ya istriku yang paaliing tersayang, udah sempatin bikinin mas sarapan." dia berdiri sejenak lalu mencium pipi kananku.


aku tersipu dan dapat aku rasakan wajahku yangn memanas dan aku sangat yakin kalau pipiku tengah merona saat ini, aku memalingkan wajahku.


"sekalian morning kiss hehe." ujarnya


"alina berusaha sedikit demi sedikit untuk menunaikan kewajiban alina sebagai istri, jadi mas gak usah berterima kasih."


sama persis seperti sebelumnya, kegiatan rutin leonardo selain berolah raga di pagi hari dia pasti juga akan bermain game di hari liburnya.


aku duduk depan leonardo, dia memberiku back hug sambil bermain game, karena aku yang tidak pernah tertarik dengan game yang di mainkan leonardo aku pun membuka buku yang sedari kemarin aku pelajari.


"eh iya mas, kita honeymoon kapan sih?" celetukku tiba - tiba.


tapi, leonardo bukannya menjawab pertanyaanku dia malah heboh dengan gamenya dan sama sekali tidak memperhatikan perkataanku karena dia terlalu fokus bermain.


"mas?" panggilku.


"bentar bae, dikit lagi. final nih, udah lawan boss." serunya, aku melihat kelayar muncul lah monster zombie yang paling besar dan sangat mengerikan.


aku begidik ngeri melihatnya monster itu tampak mengerikan dan tentunya menjijikkan, pastinya kalian tahu sendiri kan bagaimana rupa dari zombie?!


"mas." panggilku sekali lagi.


"hmm" jawabnya singkat.


'di usilin, enak nih. mumpung dia lagi fokus, kalau aku pancing dia dengan kata kata manis ini mempan gak ya?!' pikirku.


"mas, i love you." ucapku dengan sangat cepat dengan suara yang sedikit aku pelankan, entah dia bisa mendengarnya dengan jelas atau tidak.


bodo amat.


aku kan cuma berniat untuk mengusilinya.


leonardo tidak merespon apa - apa yang menandakan dia tidak mendengar ucapanku yang baru saja aku ucapkan


lah anjir, kok jadi deg deg an begini habis ngomong begitu.


stik xbox yang leonardo pegang jatuh ke lantai automatis aku menoleh kearahnya dia terlihat melongo.


"mas." panggilku sambil melambaikan tanganku di depan wajahnya, takut ada sesuatu yang terjadi padanya karena pandangannya terlihat kosong.


"mas? kamu kenapa?" tanyaku sedikit ketakutan.


leonardo menarikku dan membawaku kepangkuannya.


astaga, jangan bilang dia mendengarnya!


"mas tadi gak salah dengarkan bae?" ujarnya dengan wajahnya yang terlihat sangat kaget namun dia terlihat bahagia.

__ADS_1


"dengar apa? udah itu lanjutin mainnya, boss nya tuh."" kataku mengalihkan topik pembicaraan ini.


" kamu bilang i love you kan?" desaknya.


"enggak." bohongku.


"mas tadi dengar loh."


aku terus menggeleng.


"mas salah dengar mungkin, alina gak ngomong apa apa tuh."


"masa sih? kok jelas banget ya ditelinga mas." dia memelukku, menyandarkan kepalanya di pundakku.


"i love you bae," ucapnya begitu dalam. dia mengecup pundakku sekali, membuatku sedikit geli.


"mas, udah balik main game lagi aja, dikit lagi menang loh."


"bodo amat ah sama game, mas mau peluk kamu aja terus sampai besok." ucapnya.


lah?


ya ampun, gawat.


"mas, lepas dulu ah." pintaku.


dia menggeleng.


"cubit nih." ancamku.


dia tidak bergerak dan tetap memelukku erat.


"ulang perkataan kamu waktu mas main game, baru mas lepas." kata leonardo kemudian merubah posisinya menjadi berhadap hadapan dengan wajahku.


"dih, ogah." timpalku.


dia kembali menyandarkan kepalanya di pundakku.


"ya udah, mas gini terus sampai besok." dia mengeratkan pelukannya tanpa memberiku ruang sedikitpun.


dada bidangnya sedikit terekspos di balik bathrobe yang ia kenakan.


astaga, ujian apa lagi ini ya allah.' batinku dalam hati.


"oke, oke alina bakal ulang perkataan yang tadi." kataku pasrah.


dia kembali menghadapkan wajahnya padaku, aku langsung mendorongnya dan meletakkan kembali kepundakku.


"tapi mas gak boleh lihat, cukup dengerin aja."


dia mengangguk tanda setuju.


untunglah.


aku tidak bisa membiarkannya melihat wajahku yang tengah merona ini dihadapannya.


"mas, i love you." kataku lirih.


tanpa ada aba- aba sebelumnya, leonardo langsung mendekatkan wajahnya padaku lalu mencium bibirku sangat dalam, bibirnya terasa sangat lembut saat menerpa bibirku.


sial, alih alih menolak ciuman leonardo aku malah terhanyut dan membalas ciumannya dengan menggerakan lidahku yang membuatnya  begitu sensual.


"assalamualaikum, mami datang." pekik mami saat masuk kedalam rumah ini tanpa memberi kabar sebelumnya.


"oh, wow." kata mami.


aku langsung melepas ciuman kami dengan paksa lalu seperti membanting setir aku melempar jauh tubuhku agar menjauh dari tubuh leonardo.


ah tidak!


kenapa mami datang tiba- tiba dan tengah melihatku dengan leonardo dalam keadaan seperti ini.


mungkin mami sudah memaklumi karena usia pernikahan kita yang masih tergolong pengantin baru jadi wajar mengumbar kemesraan.


tapi, ini pasti akan sangat canggung.

__ADS_1


__ADS_2