Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 49


__ADS_3

"kalo sore pemandangannya bagus, tapi lebih bagus malem sih." ujar leonardo.


"rame ya mas." kataku.


"kalo lewat tengah malem sepi bae."


"emangnya masih buka?" tanyaku dia meringis sambil menggeleng.


"jam 00.45 udah tutup hehe, eh tapi kalo mau kita sembunyi aja disini sampai besok."


"dih ogah ah, itu namanya gak taat aturan." elakku.


"tumben kamu jadi taat aturan gitu, biasanya kan agak bar bar gitu." aku menjulurkan lidahku pada leonardo kemudian memalingkan wajahku darinya.


Pada sore hari ini banyak sekali pengunjung yang berasal dari warga negara yang bermacam macam datang, dan tentunya semakin malam semakin ramai, leonardo menggelarkan tikar untuk kami duduk, aku meletakkan keranjang piknik yang telah di siapkan leonardo sebelumnya.


“nanti malam kan dinner, kok bawa makanan banyak banget sih?” ocehku pada leonardo.


“kamu kan suka foto foto buat penuhin feed instagram atau sekadar bikin insta story, jadi mas siapin gini biar aesthetic kalau difoto, dan sekalian aja siapa tahu kamu lapar, iya kan?” leonardo menjawabnya dengan santai.


“astaga iya, aku kudu update foto nih mas, awas minggir.” Yang semulanya leonardo yang mempersiapkan tempat untuk kita duduk, aku langsung mengambil alih dan menatanya ulang, aku menyerahkan keranjang tersebut pada leonardo dan mulai mencari lokasi yang aku rasa akan sangat cantik saat di potret.


Sekiranya aku telah mendapatkan lokasi yang strategis, aku meminta leonardo untuk meletakkan keranjang tersebut diatas tikar kemudian aku menatanya dengan sangat rapi.


“wah, bagus nih.” Gumamku usai mengambil beberapa foto yang cukup bagus dari sini.


Leonardo tengah melahap beberapa strawberry sambil duduk di sebelahku, aku langsung membuka aplikasi edit foto yang ada di ponselku, aku berniat untuk mengeditnya dengan cepat dan segera mengupdatenya di insta storyku.


“sini.” Kata leonardo aku menoleh kearahnya, dia menepuk pahanya.


“apa?” tanyaku pada leonardo.


“sambil tiduran disini, nanti kepala kamu pegal kalo nunduk terus gitu.” Aku tak menjawab pernyataan yang leonardo katakan barusan lalu membaringkan kepalaku disana.


Leonardo juga tengah memainkan poselnya dengan tangan kanannya, tangan kirinya sibuk mengelus lembut pada rambut panjangku yang sengaja aku urai lepas.


“sayang, dapat salam dari mami. Katanya kangen berat.” Kata leonardo.

__ADS_1


“mami? Tuh kan, mami kamu aja kangen sama aku, tapi kok mama aku engga ya mas? Malah mama force alina buat kasih dia cucu dan kalau belum dapat cucu, mama gak bakalan mau ketemu sama alina, jahat gak sih?” crocosku.


“hus, pasti mama kamu kangen lah bae, tapi mungkin dia sembunyikan perasaannya.”


“mas coba teleponin mama dong, alina kangen berat nih! Kalau alina yang telepon pasti gak diangakat.” Pintaku.


Leonardo menyerahkan ponselnya padaku, lalu aku menekan tombol call.








aku sudah mendial ke nomor mama sampai 3 kali tapi tidak ada jawaban dari panggilan tersebut.


“lagian ini kan udah malam kalau di indo jadi nanti aja kita coba telepon lagi ya?” sambung leonardo. kali ini aku mengangguk menyetujui perkataannya.


“udah sekarang gak boleh masang wajah kusut, kita gas terus deh biar bisa cepat kasih mama cucu.” aku mencubit lumayan keras ke perut sixpack milik leonardo yang kemudian disusul dengan teriakannya yang sekilas menahan rasa sakit setelah aku cubit.


“ingat istrinya ini lagi datang bulan, jangan main gas aja! kang mesum” cibirku.


"yang kamu ledek kang mesum ini suami kamu loh bae." kata dia sambil menyengir ala kuda.


*


aku langsung menatap tepat keatas dengan posisiku yag masih tidur dengan mengenakan paha leonardo sebagai bantal, tiba tiba leonardo yang berusaha untuk menutupi wajahku dengan benda apapun yang ada didekatnya, bahkan kepalanya pun ia kenakan untuk menutupi wajahku dari atas.


aku mendorong pelan jidatnya agar menjauh dariku.


"kenapa sih mas? sana ih jauh jauh." kataku.

__ADS_1


"dari tadi bule itu liatin kamu, kayaknya dia naksir kamu bae." jawab leonardo sambil membuat gestur menunjuk kearah bule yang dimaksud oleh leonardo.


"idih, mas ini so tau banget, iya kalo dia liatin alina, kalo bukan gimana?" aku menoleh ke arah yang leonardo maksud, dan tak lama kemudian bule dengan penampilan yang cukup oke tersebut melambaikan tangannya kepadaku.


leonardo menangkup pipiku lalu ia memalingkan wajahku agar tidak sampai kembali melihat kearah bule tersebut.


"wah gak bener itu orang." maki leonardo.


"pengen aku tampolin buku nikah kita ke muka bule itu." sambung leonardo.


aku menahan tawaku mendengar ucapan yang baru saja leonardo katakan.


"lebay ah kamu mas." cibirku.


cup!


leonardo mengecup bibirku sekilas lalu menoleh sebentar kearah bule tersebut.


wagelaseh, punya suami kok overprotective kayak begini, bisa - bisa gue kalo beli bakso keliling di labrak itu kang baksonya.


ah gak mungkin selebay itu kan?


"udah ah yuk kita pergi keliling sekitar sini lagi." ajaknya.


"di beresin dulu dong ini." aku langsung duduk.


"gak usah bae, udah ada asisten mas, habis ini dia datang buat beresin." kata leonardo.


"oh oke yaudah." leonardo langsung menarik tanganku dan menggenggamnya erat.


"lari yuk?" tawarnya.


"enggak mau." jawabku cepat.


"Oke" ujar leonardo, tapi dia tetap mengajak ku berlari diatas rumput hijau ini.


aku langsung memasang wajah datar padanya.

__ADS_1


dasar suami gesrek ku!


__ADS_2