
sekitar dua minggu mama di telah di rawat di rumah sakit dr cipto mangunkusumo, kondisinya semakin hari makin membaik, ya meskipun tidak se fit seperti sebelumnya, akan tetapi sudah lebih baik dari pertama kali aku mengunjunginya sepulang bulan madu dari paris.
Hari ini leonardo telah kembali pada aktifitasnya seperti biasa, ia kembali bekerja di perusahaannya.
Sebelumnya aku telah berpamitan kepadanya untuk mengantar mama pulang ke rumah untuk di rawat jalan.
Karena hari ini leonardo masuk ke kantor agak siang dari biasanya dia memutuskan untuk mengantarkanku pergi ke rumah sakit, dan sekalian pergi ke kantor meskipun dari awal aku sudah menolak tawarannya karena kantornya berlawanan arah dengan rumah sakit, tapi leonardo tetap keukuh untuk mengantarkanku.
---
“mas, nanti kalau mau jemput alina di rumah mama ya.” ucap ku kemudian aku mencium tangan leonardo sebelum keluar dari mobilnya.
“iya sayang, see you. Kirim salam ya buat mama, mas berangkat dulu. assalamualaikum.” Ucapnya sambil
melambaikan tangannya.
“waalaikum salam, hati hati di jalan mas.”Aku pun juga melambaikan tanganku sampai mobil leonardo tak terlihat lagi dalam pandanganku.
Aku langsung menuju ke kamar no 142 tempat dimana mama di rawat.
“alina ya?” sapa seseorang di belakangku saat aku menunggu pintu lift terbuka, aku pun menoleh ke sumber suara yang tengah menyapaku.
“lah gavin, ngapain lo disini?” tanyaku kepada orang yang menyapaku tadi ternyata adalah gavin, teman semasa SMP ku yang telah aku lupakan dan juga sekaligus adalah sepupu leonardo.
“oh, ini jengukin temen gue ada yang sakit dan dia di rawat di rumah sakit ini.” Ucapnya, aku menanggapinya hanya dengan mengangguk sekilas.
“lo sendiri ngapain disini? Lah iya mana leonardo kok lo sendirian aja.” Sambungnya.
“nyokap gue sakit, leonardo biasalah. Dia kan kerja, gimana si” jawabku.
Ting!
Pintu lift terbuka aku langsung masuk kedalam, gavin tetap berdiri disana dan tidak masuk kedalam.
“no berapa kamar tempat nyokap lo dirawat? Next time gue mau besuk.” Katanya.
“ hari ini dah pulang kok, lo kalo mau besuk mending langsung kerumah nyokap aja.” Dia pun mengangguk kemudian melambaikan tangannya pergi.
Beberapa detik kemudian pintu liftnya tertutup secara automatis.
--------
“ini barangnya yang mau di bawa pulang udah beres kan. Alina mau bantu bawa ya?” ucapku.
Mama yang tengah memakai turban langsung menggeleng dan menolak permintaanku tadi.
“jangan bawa yang berat – berat sayang biar cepat jadi.” Tutur mama.
“hah, Apa nya yang cepat jadi?” tanyaku keheranan.
__ADS_1
“calon cucu lucu mama yang bakalan dikandung dari perut kamu, uh mama jadi gak sabar.”
“oh itu ya..” jawabku aku langsung beralih ke tempat lain dan memungut tas yang paling ringan.
“alina bawa yang paling ringan ke bawah dulu ya.” ujarku, tanpa menunggu jawaban dari mereka aku langsung turun.
Ah sial, aku sampai lupa tentang program bikin cucu yang lucu untuk mama.
Bagaimana cara agar aku bisa memulainya terlebih dahulu agar kita bisa mulai proses pembuatannya.
datang bulanku telah berakhir sekitar satu minggu yang lalu, tapi aku dan leonardo belum juga sempat untuk bermesraan yang lebih intens dikarenakan aku yang sibuk pulang pergi dari rumah ke rumah sakit setiap harinya untuk menemani mama di rumah sakit.
Mungkin karena aku yang kelelahan jadi leonardo tidak berani menyinggung soal ‘itu’ kepadaku padahal sebelumnya dia yang paling agresif dan selalu berinisiatif terlebih dahulu untuk siap tempur.
“hai adek gue yang cantik kayak lumut aspal.” Sapa bang jaehyun yang tengah menata barang di dalam mobil.
“hai juga abang gue yang paling jones udah gak laku – laku idup lagi.” kataku ikut mencibir.
Bang jaehyun langsung menatapku datar.
“dih, siapa juga jones. Sebentar lagi lo punya kakak ipar.”
Aku tidak terlalu berminat untuk membicarakan hal ini karena sudah berkali – kali aku membicarakan tentang pacar bang jaehyun sejak aku smp dia malah menunjukkan salah satu tokoh anime nya.
“jangan bilang pacar abang masih sama kayak yang dulu, yang di dunia virtual itu.” Sekali lagi aku mencibirnya.
“astaghfirullah udah tobat dek, lo kira abang ini masih bocah apa? Abang ini dah tua, 25 tahun.”
“ nah untung sadar kalau tua.” Kataku.
“cie akhirnya sold out, dah buruan abang naik lagi keatas, ambil lagi barang yang masih tertinggal di atas.”
“njir, pake acara nyuruh – nyuruh segala.”
“bang, inget pesan adek jangan kebanyakan bucin, gak baik buat kesehatan dompet.” Ucapku sambil tersenyum miring.
Bang jaehyun tetap menatapku datar.
“babi + bekicot =” ujar bang jaehyun.
“bacooot. Ah gak kreatif nih” seruku.
"bodo amat hehe." bang jaehyun langsung lari ngibrit masuk kembali ke dalam rumah sakit.
sambil menunggu yang lainnya datang aku masuk kedalam mobil bermain handphone.
aku menekan nama leonardo di kontakku namun aku tidak menemukannya, kemudian aku membuka whatsapp dan melihat nama kontak leonardo berubah menjadi 'suami kesayangan' dan tak lupa ia telah pin chatnya yang menjadikan posisi chat leonardo yang berada ada paling atas.
ish, jahil banget!
alina : mas, alina bentar lagi pulang ke rumah mama, jangan lupa makan siang yaa.
aku menekan tombol send.
__ADS_1
kok gue jadi perhatian begini?.
aku langsung menghapus pesan tersebut sebelum dia membacanya.
dan kembali mengetiknya ulang
alina : mas alina bentar lagi ke rumah mama.
aku menekan tombol send.
alina : jangan lupa makan siang!
send
labil sekali diri ini ya tuhan.. hehe
aku langsung menekan tombol kunci pada ponselku.
------
Sekitar 10 menit berlalu, abang jaehyun datang dengan membawa tas berukuran besar di tangan kanannya.
Di belakangnya ada papa yang tengah mendorong kursi roda yang mana mama duduk di atasnya.
aku segera keluar dari mobil untuk membantu mama naik ke mobil.
"hey, mama udah sehat sayang. udah bisa sendiri papa kamu aja tuh tadi yang paksa pengen dorong mama duduk diatas kursi roda." kata mama, yang menolak uluran tanganku.
memang benar mama dapat berjalan seperti biasa, tidak sempoyongan atau pun terlihat lemah.
"oke deh, mama udah sehat yaa kan?" ucapku menyemangatinya.
dia mengangguk.
"insyaallah sehat selalu." jawabnya.
"sehat dong." sahut papa.
"kuy dah, jadi pulang gak nih? apa masih mau ngobrol disini, hehe." kata bang jaehyun yang duduk di kursi pengemudi.
"ya pulang lah, sabar napa." cibirku, bang jaehyun hanya meringis.
mama dan papa melihat kami sambil menahan tawa mereka.
"udah lama gak liat kalian berantem kayak gini." ujar papa.
"iya, jadi kangen ya pa." ucap mama.
"dih, alina tuh ogah banget punya abang kayak dia." aku menunjuk ke bang jaehyun.
"lo pikir abang seneng punya adek kayak lo, dih gak sudi."
"ew-"
__ADS_1