Pernikahan di Rencanakan

Pernikahan di Rencanakan
Unexpected marriage • 40


__ADS_3

“udah ah mas capek nih! Keringetan kan jadinya.” Keluhku padanya. Leonardo menghentikan langkahnya, aku berjalan menghampirinya lalu berniatan untuk meminta ponselku kembali dengan cara baik – baik agar dia mengembalikannya padaku.


Nama juga leonardo, pasti hidupnya tidak tenang jika tidak menggangguku sehari saja. Dia mengangkat tangannya keudara yang secara automatis aku tak dapat meraih tangannya yang menggenngam ponselku.


Aku sudah tak berminat untuk meladeninya. Aku duduk dilantai, okay ini terkesan gembel banget apalagi mengenakan gaun seperti ini dan gelesotan di lantai benar benar tak enak dipandang.


Akhirnya pun leonardo berjongkok dihadapanku.


“nih mas balikin.” Ujarnya.


“au ah males, nanti mas godain lagi.” Jawabku berpura pura ngambek.


“hehe, tadi kaya semangat banget nerima tantangan mas, eh ternyata udah nyerah.” Ledeknya.


Aku berusaha agar tidak terpancing dengan perkataannya yang terlihat jelas ia tengah meremehkanku.


“iya udah nih aku balikin.” Dia mengulurkan tangannya berserta ponsel tersebut yang masih ada pada genggamannya.


Aku memajukan tanganku hendak mengambil ponselku.


“eits.” Dia kembali memundurkan tangannya.


sudah kuduga! Males ah, aku terus digodain kayak anak kecil sama dia, kan bikin kesel.

__ADS_1


“uh, ngambek nih.” Makin untusias dia menggodaku dan memancing amarahku, aku hanya menanggapinya dengan tampang datar.


“kiss dulu baru mas kasih.” Ucapnya.


“kas kis kas kis terus, males.” Aku berdiri dan beranjak pergi meninggalkannya.


“eh, bae enggak deh, enggak sayang udahan nih mas balikin.” Dia berlari mengejarku, namun aku semakin mempercepat langkahku.


“bodo amat.” Pekikku kesal.


Yailah, kesannya gue baper banget. Kenapa sih gue bisa sekesel ini sama dia, padahal dia kan niatannya cuma ngerjain gue! Biarin dah, lagian juga udah terlanjur akting ngambek jadi mending di terusin aja.


Aku berjalan menuju ke lantai dua yacht ini kemudian berdiri di ujungnya sambil memegangi besi pembatas yang ada disana, menikmati pemandangan yang sangat indah ini.


“jangan ngambek ya, pasti lagi laper nih, makan dulu ya? Mas siapin.” Ujarnya, aku menghela nafasku sejenak. Dengan membuang ego dan seluruh urat malu ku aku mengangguk menanggapi perkataannya yang barusaja ia ucapkan.


Daripada nanti lebih memalukan kalau aku terus – terus an ngambek dan dia menganggapku seperti anak kecil, jadi mending seperti ini’ pikirku.


“okay, jadi kamu mau request di masakin apa?” tanya leonardo.


“pengen makan mie sed*p jinjja pedas, yang ada oppa siwon nya.” Jawabku.


Leonardo mengerutkan dahinya menatapku dengan tatapan yang berbeda.

__ADS_1


“enggak ada disini sayang.” Dia terlihat berusaha untuk tetap bersikap tenang.


“ada kok.” Seru ku.


“kita lagi di prancis sayang, gak ada indomaret disini, mana ada yang jual.”


“alina bawa kok, ada di dalam tas ransel yang warna pink tadi.” Aku masih tetap keukeuh dengan keinginanku.


“tasnya tadi di tinggal di hotel, udah mas mau masak dulu kamu tunggu sini.”


“iya iya, alina bantuin ya?” kataku, dia menggeleng dengan cepat.


“enggak disini aja,kamu gak boleh pegang pisau bahaya.”


“dih apaan sih mas? Alina udah gede kok, masa gak boleh pegang pisau sih!” protesku.


“ciye udah gede ya istri aku, berarti nanti malam dikasih jatah dong.” Jawabnya ia kembali menggodaku.


Aku membalikkan tubuhku dengan gerakan cepat lalu mendorongnya untuk mundur.


“masak cepat, alina lapar mas.” Kataku mengalihkan percakapannya yang pastinya menjurus ke obrolan dewasa.


Dia malah terkekeh.

__ADS_1


“iya iya, tunggu sini ya!” ujarnya sebelum turun ke dapur, aku mengangguk menanggapi ucapannya“


__ADS_2