Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Cinta Pandang Pertama


__ADS_3

"Nad, jangan lupa ya persiapan untuk penerimaan anggota barunya, kamu bereskan" ... Bang Indra, sebagai ketua panitia membubarkan lamunanku dengan perintahnya yang sudah 10x dikatakan dari pagi.


"Ya" jawabku malas. Sebagai koordinator lapangan, aku dituntut untuk selalu memonitor semua kegiatan penerimaan anggota baru organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA). Awalnya aku menolak tapi karena para seniorku banyak yang sedang mengerjakan skripsi, dan hanya aku yang punya waktu longgar, mau tak mau bahkan dengan terpaksa, akhirnya aku menerimanya.


Besok hari keberangkatan kita dan adik-adik calon anggota MAPALA untuk melaksanakan Pendidikan Dasar (Diksar) di Sibolangit. Sibolangit ini merupakan Bumi Perkemahan di Deli Serdang, Sumatera Utara. Selain untuk berkemah, tempat ini juga masih sangat asri dengan pepohonan dan sungai dengan airnya yang jernih dan bersih. Saking jernihnya, airnya bisa langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu. Airnya begitu sejuk, segar, bersih dan tidak berbau. Dari sini pula perusahaan air minum ternama, memanfaatkan airnya dan mengolahnya menjadi air minuman kemasan dan galon. Para pemilik usaha air isi ulang, juga mengambil air dari sungai di sekitar Sibolangit.


"Semua sudah bereskan, Nad?... Jangan ada yang terlupa atau tertinggal. Tenda, peta, kompas, alat panjat, alat masak...pastikan semua sudah rapih" suara bariton bang Indra terdengar nyaring di telingaku, saat aku sedang menyalin ulang nama-nama peserta calon anggota MAPALA, yang harus aku serahkan ke Rektorat, untuk mengurus surat jalan.


Kulirik Bang Indra dan dengan tegas berkata : "Aku korlap bang, bukan bagian logistik. Abang tanya aja sama mereka yang bertanggung-jawab atas itu semua" ... Dengan kesal aku pergi meninggalkan bang Indra. Entah kenapa, dia sepertinya sangat sentimen samaku. Jelas-jelas dia tahu, sudah ada kordinator masing-masing bagian. Dia kan ketua panitianya, dia juga yang memilih orang-orangnya. Haaa.. kesal sampai ke ubun-ubun, aku memilih pergi ke kantin dan memesan 1 gelas es teh manis. Ngademin kepala dan hati yang sedang panas, dengan kocek yang pas-pas an heehee.. maklumlah anak mahasiswi, ngekost pula lagi.


"Sendiri aja say, tumben nongkrong sendirian? Genk MAPALA lu mana?" Vivin, mahasiswi pindahan dari Jakarta, tiba-tiba datang mengagetkanku.


"Lagi beres-beres Vin, buat keberangkatan besok ke Sibolangit" ujarku malas.


"Oooo. Tapi, lu kayaknya lagi bete ya?? ... kenapa say, cerita dong, jangan disimpan sendiri lho, ntar jadi batu ginjal eh batu sandungan" Vivin kelihatan sekali ingin menghiburku. Walau dia mahasiswi baru disini, namun dia langsung akrab denganku. Bahkan, dia memilih untuk ngekost bareng aku. Katanya sih aku orangnya santai, cuek, pintar, gak suka ngegosip (ini poin plus yang dia lihat) dan apa adanya bukan ada apanya.

__ADS_1


Saat pertama kali dia menjejakkan kakinya di kampus ini, teman-temanku langsung memplonconya. Alasan mereka klise dan macam-macam. Padahal intinya hanya untuk mengerjain saja. Dan, di kelas hanya aku yang tidak mau ambil bagian untuk memplonconya. Malah dengan senang hati aku menawarkan kursi di sebelahku untuknya. Mengusir Rehan dan memaksanya pindah ke belakang. Ya, walaupun ada sedikit drama dengan Rehan dan teman-teman.


"Temani aku yuk, Vin, ke Rektorat. Mau minta surat jalan buat besok" Ajakku dengan langsung menarik tangannya tanpa meminta persetujuannya.


"Dih, pertanyaan gue aja belum dijawab, udah main tarik aja lu" sewot Vivin dengan bibir maju lima senti, hahaha...


"Kenapa sih, say, lu suka sama kegiatan alam-alam itu? Gak takut apa badan lu lecet-lecet, kulit lu terluka. Trus, di hutan ketemu macan, genderuwo, miss kunti dan teman-temannya?" pertanyaan yang sama yang entah udah keberapa kali keluar dari mulut Vivin.


"Vin, aku kan udah bilang, aku merasa lebih hidup dan berarti saat berada di alam. Makanya aku masuk organisasi MAPALA ini. Udahlah, gak usah lagi dibahas. Please, don't judge me anymore"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini, jam 8 pagi, kami akan berangkat menuju Sibolangit. Keberangkatan kami akan dilepas oleh Bapak Pembantu Rektor (PR) II yang mana sebelumnya kami memulai dengan upacara. Setelah mendengarkan beberapa nasehat dari beliau, akhirnya kami pun mulai bersiap dan berjalan keluar kampus.


"Kita tunggu kakak senior yang mau ikut ya!" Bang Indra tiba-tiba memberi perintah.

__ADS_1


"Masih lama bang?... ntar kita kesorean lho sampai ke Sibolangit." Aku berusaha negosiasi karena hari mulai siang.


"Tadi, katanya udah naik angkot. Paling 10 menit lagi nyampe lah. Kakak ini jago di tali temali. Kita butuh dia untuk kegiatan mounteneering."


"Ok, kita tunggu ya. Tapi, kalau 15 menit lagi gak datang, kita langsung jalan ya bang" aku akhirnya pasrah. Selama ini yang aku tahu hebat di mounteneering dan tali temali hanya bang Rusdi. Bang Rusdi gak bisa ikut dalam kegiatan kali ini karena skripsinya sudah deadline. Dan, untuk ini aku harus bekerja keras mempelajari tali temali. Karena sebagai korlap, aku tak mau kelihatan amatir di depan adik-.adik calon anggota. Ya, lumayanlah bisa menguasainya walau gak sesempurna bang Rusdi.


"Nah, itu kak Erland datang!" tunjuk bang Indra.


Seketika, aku mengarahkan pandanganku kepada orang yang ditunjuk bang Indra. Bercelana pendek- celana khusus pendakian-, pake kacamata hitam, membawa carrier - tas khusus mendaki bermuatan banyak -, kulit hitam manis dan sedikit pendek. Dan, ternyata dia cowok. Tadinya aku berfikir kalau yang kami tunggu itu cewek. Memang sih panggilan untuk senioren di organisasi pencinta alam ya kakak.


"Maaf ya telat, agak macet tadi di USU".. ucapnya dengan senyum tulus begitu sampai.


'Degg'


Ada sesuatu yang berdetak tak karuan di dalam hatiku. Aku serasa terhipnotis melihat kak Erland. Seketika aku membeku. Ada yang salah denganku. Ini tak benar. Ini kali pertama aku bertemu dengannya. Ada apa ini?? Oh, Tuhan, tolong cairkan aku! Jangan bilang ini cinta pada pandang pertama.

__ADS_1


__ADS_2