Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Pilihan Mia


__ADS_3

Kenzi duduk dengan gelisah. Jantungnya terus berdegup dengan kencang. Waktu bahkan terasa sangat lambat dan seperti tak bergerak.


Sejak satu jam yang lalu, ia hanya duduk, berdiri, berjalan, dan duduk kembali. Telapak tangannya berkeringat. Ia merasakan kegugupan yang luar biasa. Saat ia menghadapi sidang tesis satu tahun lalu, ia tak se-gugup ini.


Ia berdeham untuk melegakan tenggorokannya. Menatap dirinya dalam cermin. Dan mulai berlatih mengatakan isi hatinya pada bayangan dirinya dalam cermin. Anggaplah itu Mia.


"Aku mencintaimu Mia. Ku mohon, batalkan pernikahanmu dengan Bimo." ucapnya.


Kemudian ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, serta menggelengkan kepalanya.


"Ah.... Kenapa rasanya aneh sekali?"


Kembali ia duduk di pinggir ranjang. Berpikir, kata apa yang cocok untuk ia ucapkan pada Bimo dan Mia. Setelahnya, ia kembali berdiri dan melakukan hal yang sama.


"Bimo, bisakah kau membatalkan pernikahanmu dengan Mia? Aku tidak bisa hidup tanpanya." Kenzi bertolak pinggang dan menengadahkan pandangannya pada langit-langit kamar


"Kenapa rasanya seperti anak ABG yang baru mengenal cinta?" ia merasa seperti orang b****.


Entah sudah berapa banyak kata yang ia latih untuk di ucapkan. Rasanya, tidak ada satupun yang bisa ia ucapkan dengan baik. Lagu dan lagi, ia melihat jam di dinding kamarnya. Menggerutu tak karuan karena sepertinya jam itu tak juga berjalan.


"Kenapa lama sekali waktu berjalan? Rasanya gue udah dari tadi berpikir. Gak tahu udah berapa banyak kata gue coba." Kenzi mengernyitkan dahinya.


Takut jika jam di kamarnya memang terlambat atau tak berjalan, Kenzi melihat jam di tangan dan ponselnya.


"Jam benar kok. Ya udah lah, tinggal dua jam ini, gue jalan aja lah."


Kenzi mulai mempersiapkan dirinya. Tak butuh waktu lama bagi Kenzi untuk bersiap. Dalam waktu lima belas menit, ia sudah siap.


Kenzi segera melajukan mobilnya menuju restoran yang telah di reservasinya. Sambil menunggu kedatangan Mia dan Bimo, Kenzi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


*****


Kini, Mia dan Bimo duduk berhadapan dengan Kenzi. Ada rasa tidak suka yang terlihat jelas di wajah Kenzi. Apalagi, Mia dan Bimo datang bersamaan.


"Mau makan dulu?" tawar Kenzi dengan nada dingin.


Kenzi seakan tak bisa mengontrol dirinya, hingga nada dingin tersebut terdengar jelas. Mia menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terserah." jawab Mia.


"Sebaiknya kamu makan dulu. Tadi, tidak sempat makan kan?" usul Bimo menatap lembut pada Mia.


Kenzi mengeratkan rahangnya melihat pemandangan di depannya. Entah apa yang di lakukan nya, ia pun memesankan makanan untuk Mia.


Saat tengah menunggu makanan, keheningan pun tercipta. Baik Mia maupun Bimo, seakan sibuk dengan dunia mereka sendiri. Sementara Kenzi, menatap mereka bergantian.


Hingga hidangan tersedia, tidak satu pun yang berbicara. Mereka mulai menyantap makanan yang tersedia.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan." Bimo langsung berbicara pada intinya setelah mereka selesai. Saat ini, mereka tengah menikmati dessert yang di sediakan.


"..." lidah Kenzi terasa kelu. Semua kata-kata yang sempat ia latih tadi, menguap begitu saja.


Mia masih menunggu. Bimo bersidekap. Mendapat tatapan dari dua orang di hadapannya, membuat Kenzi semakin gugup.


"Aku..."


"Apa kau ingin mengatakan bahwa kau, menginginkan Mia?" Kenzi menatap Bimo tanpa ekspresi. Bimo tersenyum tipis.


"Aku tidak akan melepas Mia." Bimo melanjutkan.


Mia sendiri tengah menatap Bimo. Bukankah Bimo tak mencintainya? Jadi, untuk apa Bimo mempertahankannya? Ataukah penilaiannya salah selama ini? Pertanyaan itu muncul dalam benaknya.


Kenzi menurunkan pandangannya. "Baiklah." lirihnya.


Kini Mia menatap tak percaya pada Kenzi. Ada amarah yang melintas di hati gadis itu. Ingin dirinya memaki Kenzi hingga puas.


"Maafkan aku mas. Tapi sejujurnya, aku tidak bisa mencintaimu." Mia menatap Bimo.


Tidak hanya Bimo yang menatap Mia, Kenzi pun demikian. Pria itu menatap Mia tak percaya. Namun kali ini, semangatnya kembali berkibar.


"Aku sudah mencoba, tapi tetap tak bisa." ucap Mia sendu.


Bimo tak terlihat marah sedikit pun. Matanya terus menatap Mia. Bukan dirinya tak tahu, jika Mia tak menyukainya. Ia sangat tahu. Sebelum pria itu memutuskan menerima perjodohan yang sudah di atur papah dan eyang dari Mia, ia sudah lebih dulu mencari tahu semua hal tentang Mia.


Ia tahu, Mia menyukai Kenzi. Namun Kenzi, tak kunjung memberinya kepastian.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menerima pernikahan ini. Maaf kan aku mas." mata Mia berkaca-kaca.


Mia merasa bersalah mengakhiri pertunangan mereka dengan cara seperti itu. Seharusnya, sejak awal saja ia menolaknya.


"Aku tahu. Tidak perlu merasa bersalah." Bimo menggenggam jemari Mia.


Sudut hati Kenzi berdenyut perih melihat sikap Bimo yang lembut pada Mia. Bahkan, saat Bimo menggenggam jemari gadisnya.


"Aku harap, mas Bimo segera di pertemukan dengan jodoh yang lebih baik dari aku." ucap Mia tulus.


"Amin. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu." Mia tersenyum menatap Bimo.


Selama sebulan ke belakang, Bimo adalah pria hangat dan lembut. Jauh dari sikapnya saat bertemu di dekat kantor dulu. Mungkin, pria itu akan mencurahkan kelembutan dan kehangatannya pada wanita yang menjalin kasih dengannya.


"Kalau begitu, aku yang akan katakan pada papah kalau pernikahan akan di batalkan." Mia terperangah.


"Aku permisi dulu." Bimo berpamitan pada Mia.


Setelah kepergian Bimo, tinggal Kenzi dan Mia di sana. Suasana canggung begitu kentara di antara mereka.


"Mia, aku mencintaimu." ucap Kenzi.


"Aku tahu. Tapi aku benci pada sikap b**** dan ketidak peka-an mu." Mia menatap nyalang pada Kenzi.


Kenzi diam dan menerima semua ucapan Mia. Mia terus memaki dan mengumpat Kenzi. Melepaskan semua emosi yang menguasai hatinya. Hingga akhirnya, Mia berhenti dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kenzi berpindah tempat. Kini ia duduk tepat di dekat Mia dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Mia memukul Kenzi berulang kali. Kenzi tak membalas. Ia tahu kesalahannya.


Hingga tangisnya mereda. "Maafkan aku yang baru menyadari pentingnya dirimu, setelah kau pergi. Maaf, karena aku terlalu b****." ucap Kenzi.


"Tapi, kenapa hatiku memilihmu? Kenapa bukan Bimo saja yang jauh lebih baik darimu?" lirih Mia.


"Kau hanya milikku. Dan hatimu sudah terpaut padaku. Hingga Bimo yang jauh lebih baik pun, tidak bisa menghapus aku dari sana." ucapnya dengan yakin.


Mia terkekeh. Tapi hatinya tak menyangkal. Karena hatinya membenarkan ucapan Kenzi.


"Jadi, kau sekarang pacarku kan?" tanya Kenzi. Mia hanya mengangguk.

__ADS_1


"Secepatnya, aku akan bawa orangtuaku melamar mu." Kenzi menangkup wajah Mia dan tersenyum.


Mia balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


__ADS_2