
Setelah mengetahui istrinya kini tengah mengandung buah cinta mereka, Nathan segera membuat janji dengan dokter kandungan. Mereka ingin memastikan kabar bahagia ini.
Nathan pun semakin mencurahkan perhatiannya pada Lisa. Seperti saat ini, mereka tengah makan malam bersama. Kebetulan sekali malam ini, keluarga Lisa ikut berkumpul. Seakan mereka mengetahui kabar bahagia yang tengah di rasakan Lisa dan Nathan.
Nathan yang sesekali menyuapi Lisa, membuat mereka yang berkumpul di sana memperhatikan interaksi keduanya. Lisa yang merasakan tatapan aneh dari mereka, merasa malu.
"Sudah kak, malu di lihatin papi, mami dan yang lain." bisik Lisa. Matanya melihat sekeliling meja makan dan tersenyum canggung.
"Biar saja." bisik Nathan. Ia seakan tak peduli dengan mereka semua.
"Ekhmm.." Ferdinand berdeham. "Sepertinya malam ini ada yang berbeda dari kalian berdua?!" ucap Ferdinand.
"Gak ada kok Pi." sangkal Lisa.
"Mami rasa juga begitu. Gak biasanya Nathan nyuapin Lisa makan begini. Tapi, mami suka kok. Kalian semakin romantis." Nindya tersenyum senang. Pipi Lisa, bersemu merah.
"Mami tahu saja. Ini namanya, Nathan sedang menyenangkan hati istri." tutur Nathan.
"Memang selama ini Lisa gak pernah Lo bikin senang than?" tanya Gerald. Ada kecemburuan dalam nada bicara Gerald.
"Selalu senang kok. Tapi kalo di manjain begini belum. Apalagi keluarga kumpul seperti ini." ucap Nathan.
Mereka semua menganggukkan kepala mendengar penjelasan Nathan. Benar yang di katakan Nathan. Jika selama ini, Nathan tidak pernah menyuapi Lisa makan di depan keluarganya.
Dalam hati, Lisa mendesah lega karena keluarganya percaya dengan ucapan Nathan. Ia belum ingin, keluarganya mengetahui kehamilannya. Ia ingin memastikannya terlebih dahulu ke dokter.
••••••••••••
Pagi hari pun tiba. Nathan bangun lebih pagi dari pada Lisa. Ia mengusap perut rata Lisa dan menciumnya. Menyapa janin yang bahkan belum bisa memberi respon. Sebahagia itulah dirinya.
Lisa yang merasakan itu terbangun. Ia melihat interaksi suaminya itu dan tersenyum.
"Kakak sudah bangun?" tanya Lisa begitu membuka matanya. Nathan mengecup bibir Lisa sekilas.
"Selamat pagi calon mami." senyum yang tulus menghiasi wajah tampannya. Lisa tertawa.
"Kakak tumben bangun lebih pagi dari aku. Kakak tadi ngapain?" tanyanya.
__ADS_1
"Belakangan ini, bukannya aku selalu bangun lebih cepat dari kamu?" Lisa mengangguk.
"Aku memberikan morning kiss dan ucapan selamat pagi untuk calon baby kita." ucapnya. Tangannya masih mengusap perut Lisa dengan lembut.
Lisa merasa sangat bahagia. Bahagia yang sangat di dambakan nya.
"Ayo kita siap-siap. Kita mau ketemu dokter dulu kan?" Lisa mengangguk. "Aku sudah minta Kris mengatakan pada HRD, jika kamu datang terlambat."
"Oke."
"Aku juga sudah minta Kris untuk menghandle semua pekerjaan sebelum aku datang." tutur Nathan.
"Kakak gak ada rapat penting?" tanya Lisa ingin memastikan.
"Ada. Tapi setelah makan siang." jelasnya.
"Ayo cepat aku sudah tidak sabar melihat dia." ucap Nathan seraya mengusap perut Lisa lagi.
Mereka pun bersiap-siap. Setengah jam kemudian, mereka segera turun dan sarapan bersama. Sama seperti makan malam kemarin, pagi ini pun Nathan kembali menyuapi Lisa.
Tiba di rumah sakit, Nathan dan Lisa segera melangkah pasti memasuki poly obgyn. Setelah menunggu lima belas menit, sekarang giliran Lisa yang di periksa.
"Ibu Lisa, silahkan masuk." panggil perawat.
Lisa dan Nathan segera berdiri. Lisa terlihat begitu gugup. Hingga ia berhadapan dengan dokter dan terkejut. Ternyata,. dokter itu adalah temannya semasa SMA.
"Lisa..." sapa dokter itu begitu Lisa duduk di hadapannya.
"Dea?!" dokter itu mengangguk.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi." Lisa tersenyum.
"Gak nyangka ya, sekarang kamu jadi dokter spesialis obgyn." ucap Lisa senang.
"Oh iya, kenalin ini suami aku. Kak, ini teman aku waktu SMA." Lisa memperkenalkan dokter Dea pada Nathan.
Nathan pun menjabat tangan dokter itu dan tersenyum ramah. Begitupun sebaliknya.
__ADS_1
"Kamu hamil?" tanya dokter Dea.
"Sepertinya begitu!?" dokter Dea tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, lebih baik langsung kita cek saja ya. Silahkan berbaring di sana." dokter Dea, menunjukkan brankar yang di sebelahnya terdapat alat USG.
Lisa berbaring di atas brankar. Nathan berdiri di samping Lisa dan menatap layar di depan brankar. Perawat mulai mengangkat baju Lisa dan mengoleskan gel.
"Nah, ini dia..." seru dokter Dea yang melihat sesuatu di layar. "Kamu lihat ini. Ini rahim kamu, dan di sini ada sesuatu sebesar kacang. Bisa kamu lihat?" tanya dokter Dea.
"Iya, aku lihat." Nathan menatap layar itu dengan takjub. Bahkan matanya tak berkedip. Senyum terbit di wajahnya. Ia menggenggam jemari Lisa erat.
"Inilah bayimu. Usianya masih lima Minggu. Jadi, dia belum terlalu terbentuk." tutur dokter Dea.
"Selamat ya. Kalian akan menjadi orang tua." ucap dokter Dea tulus.
Dea pun menuju mejanya dan menuliskan beberapa resep vitamin.
"Apa ada yang ingin di tanyakan?" tanya dokter Dea.
"Apakah ada makanan yang dilarang, atau kegiatan yang biasa kita lakukan, tetapi sekarang tidak boleh di lakukan?" tanya Lisa. Nathan hanya menyimak.
Dokter Dea pun menjelaskan semua hal. Di mulai dari makanan, kegiatan sehari-hari, serta kegiatan s** yang aman. Setelah mereka berkonsultasi, dan mengerti akan penjelasan dokter Dea, Lisa dan dokter Dea bertukar nomor ponsel barulah mereka pamit.
Kali ini, Lisa dan Nathan akan memberitahukan keluarga mereka tentang kabar bahagia yang telah di tunggu-tunggu. Hadirnya janin ini akan menambah kebahagiaan mereka.
Senyum Nathan semakin cerah. Kehadiran buah hatinya, menjadi hadiah terindah dalam pernikahan mereka. Pernikahan yang tidak pernah mereka bayangkan, atau pun mereka duga.
Dimana awal pernikahan mereka hanyalah keterpaksaan belaka. Namun kini, cinta jua yang mempererat hubungan mereka. Ditambah dengan hadirnya buah hati mereka, semakin membuat hubungan mereka sempurna.
Nathan segera menghubungi mertuanya dan meminta kesediaan mereka untuk hadir malam ini di kediaman mereka. Ia. ingin menyampaikan berita gembira ini secara langsung.
Segala persiapan di lakukan nya. Hanya Lisa yang tidak di izinkan nya melakukan sesuatu. Ia tidak ingin istri tercintanya kelelahan. Nathan berjanji pada dirinya sendiri, akan menjaga istri dan calon buah hatinya itu dengan segenap hatinya.
Ia akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarga kecilnya.
Saat makan malam pun tiba, Mereka sudah berkumpul semua. Bahkan Kenzi dan Mia pun ada di sana. Nindya sedikit heran ketika Nathan mengatakan akan mengadakan makan malam bersama. Namun, setelah mendengar kabar Lisa yang tengah hamil, membuatnya begitu bahagia. Begitu pun dengan semua yang hadir di sana.
__ADS_1